43376_20743.jpg
Ans.doc.
Perempuan · 4 menit baca

Jangan Jadi Perempuan

Beberapa bulan lalu saya membaca novel “Aku Lupa bahwa Aku Perempuan”. Sedaari awal, saya memang penasaran pada isi novel tersebut. Demi menuntaskan rasa penasaran, saya berkunjung ke kontrakan teman di Larangan Badung. Segera novel tersebut saya pinjam dan baca.

Ada yang menarik dari novel tersebut. Bagi saya, isi yang dikandung dalam karya sastra tersebut intinya “kebebasan dan keinginan perempuan”. Kebebasan dan keinginan yang lahir dari pengaruh pendidikan dan kenyataan yang memang lebih dominan laki-laki dalam banyak lini. 

Perempuan dalam susunan masyarakat memang menjadi mahluk nomor dua. Diakui atau tidak, begitulah kenyataan. “Sepanjang sejarah, tidak ada rasul perempuan, kan?” begitulah ungkapan yang sering saya dengar.

Maka tidak heran, di dalam novel tersebut, Sukad dilambangkan sebagai sosok yang menginginkan peran yang selama ini didominasi laki-laki. Sukad dalam novel tersebut memang dikenal gadis yang sejak kecil sudah memiliki potensi menjadi pemimpin. Ia mampu mengorganisir perlawanan terhadap penguasa. 

Cerita lain tentang perempuan yang intinya sama ada pada novel Perempuan Berkalung Sorban, penulisnya Abidah el-Khouliqy. Novel yang menceritakan tentang boroknya kawah yang selama ini kita anggap suci. Komentarnya Adian Husaini, novel Perempuan Berkalung Sorban menelanjangi dunia pesantren. 

Sosok yang digambarkan dalam novel yang ditulis Abidah tersebut merupakan perempuan kritis yang tidak mau tunduk di bawah kaki laki-laki. Bahkan dalam suatu dialog—memang agak jorok—perempuan hanya jadi sasaran peluru karet. Hamil, melahirkan, kemudian mengasuh anak-anaknya. 

Perempuan yang seperti ini hanya jadi pabrik. Saya pikir begitu setelah membaca novel tersebut. Ada teman saya yang berkomentar, “Jika perempuan pabrik, maka laki-laki mesinnya dong.”

Dari dua novel tersebut, rupanya perempuan selama ini masih di bawah bayang-bayang patriarki. Bayang-bayang yang memang tidak menguntungkan bagi perempuan. Dan melenakan bagi laki-laki.

Menjadi laki-laki memang bebas, menjadi perempuan memang serba salah. Persis seperti perempuan dalam cerpen “Perempuan Aufklarung”. Hebat salah, tidak hebat salah. Yang paling jelas dalam kehidupan masyarakat kita.

Perempuan yang pulang malam-malam, siap-siap dihakimi secara sosial. Laki-laki yang pulang malam-malam, santai-santai saja. Masyarakat kita sering tidak adil. Bahkan ketidakadilan ini disebabkan kepurbaan dalam pikiran mereka. 

Label perempuan malam, perempuan nakal, lebih banyak daripada label pada laki-laki. Diksi untuk perempuan yang tidak sesuai dengan adat-istiadat lebih produktif dibuat ketimbang diksi untuk laki-laki. Padahal potensi berbuat salah itu sama. Begitu juga potensi berbuat benar.

Masyarakat kita terlanjur membuat nilai standar. Tidak tahu siapa empu nilai standar tersebut. Memang benar, yang berguna cenderung tidak dikoreksi lagi. Yang pasti, perempuan lebih banyak menjadi objek daripada laki-laki. Maka itu, teman diskusi bilang, “Jangan jadi perempuan.”

21 April kemarin adalah Hari Kartini. Hari yang dianggap oleh sebagian kalangan sebagai hari poligami nasional. Ramai-ramai perempuan merayakannya. Kohati HMI Komisariat IAIN Madura, misalnya, memperingatinya dengan mengadakan diskusi, baca puisi, dan teatrikal. Serta serentak netizen membuat story foto Kartini di WA secara berjamaah.

Hari raya musiman ini sudah biasa di masyarakat kita. Jangan tanyakan dampaknya pada kehidupan sosialnya. 22 memperingati Hari Bumi. 23 memperingati Hari Buku Sedunia. Sekali lagi jangan tanyakan apa dampaknya. 

Masyarakat kita suka seremonialnya. Aneh memang, berapa kali memperingati Hari Kartini. Nyatanya di lain tempat dan waktu, perempuan tetap saja jadi korban. Korban iklan, korban laki-laki buaya darat, atau lebih ekstrem lagi, korban kekerasan. 

Surat-surat Kartini bukan surat cinta atau sekadar story WA dan status Facebook. Ia lebih dari sekadar surat. Isinya cita-cita. Kartini lebih tepatnya penunjuk jalan, kata Armin Pane. Cita-citanya begitu besar untuk kaumnya. Perempuan dalam keinginan Kartini tidak sekadar menjadi mahluk nomor dua dari laki-laki.

Kenyataan miris. Perempuan saat ini memang sudah banyak yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Ini bentuk dari sebuah hak. Seiring dengan itu, kebebasan sudah dirasakan. Tapi, kebebasan ini digunakan sebagai perangkap juga. Lari dari kandang buaya, masuk kandang harimau.

Perempuan dengan segala kebebasan yang sudah tercapai menjadi peluang bagi kaum kapitalis untuk mengeksploitasinya. Iklan-iklan di televisi, siapa yang mendominasinya? Bisa dikatakan perempuan. Iklan otomotif, yang dipajang siapa? Perempuan sebagai umpan. 

Memang, jika bukan perempuan yang menjadi modelnya rasanya hambar. Sebagai protes terhadap pernyataan saya. Teman saya bilang, “Yang menjadi korban itu laki-laki, pak. Sebab yang dieksploitasi itu nafsunya laki-laki.” 

Di diskusi dulu seorang teman pernah bilang, paha perempuan lebih mulus daripada paha laki-laki. Makanya pantas perempuan yang jadi model iklan. 

Korban iklan tidak hanya yang diekploitasi di iklan televisi. Di luar tabung persegi empat itu, lebih tepatnya kenyataan di kampus, di mall, di pasar dll. Perempuan sudah terkena dampaknya. Dampak dari iklan yang sengaja memancing keinginan. Perempuan saat ini lebih suka selfie, main tik-tok daripada berbuat yang benar-benar nyata. 

Di kampus saya, misalnya, dikhawatirkan mahasiswinya lebih suka menampilkan bedak dan kosmetik serta baju-baju. Komentar sarkastik, “Perempuan ternyata lebih tahu tentang bedak dan kosmetik, ya?” ungkapan teman saya.

Sudahlah. Perempuan kan perlu cantik. Sudah alamiah jika perempuan berdandan. Bedak dan kosmetik sudah biasa. Baju-baju dan kerudung yang ngetrend sudah menjadi keharusan. Perempuan sudah kodratnya seperti itu. 

Bukankah perempuan yang cantik itu yang tidak pakai kopiah tapi pakai kerudung? Jika tidak ingin seperti itu, jangan jadi perempuan. Jadilah laki-laki yang sekarang sudah mulai berangsur-angsur jadi perempuan.

Tapi, dipikir-pikir, isi otak lebih indah daripada sanggul, kan? Perempuan yang terlanjur minggat dari rumah cita-cita, lebih baik balik arah membina peradaban. Jadi ibu peradaban membina generasi itu lebih mulia. Tindakan ini selevel dengan pekerjaan nabi. toh?

Pada akhir cerita, Sukad dalam novel tersebut sadar, bahwa selama ini ia mempunyai seorang suami dan anak yang butuh padanya. Jangan ada kata penyeselan dan bilang, aku lupa bahwa aku perempuan.