Mungkin tidak sedikit dari kita yang selalu bertanya-tanya mengapa para orang bijak selalu khas nuansa individualismenya yang menonjol. Memang tidak sedikit para filsuf yang tak menikah. Entah apa yang merasuki mereka. 

Dalam ilmu filsafat, penjabaran pun sudah biasa dilakukan, kuno, klasik, modern, posmodern, tapi tetap yang paling menonjol adalah nama tokohnya sendiri, seperti Michel Foucault, Nietzsche, David Hume, Immanuel Kant, dan seterusnya.

Kali ini, sang penulis akan berusaha menjadi seorang detektif. Memecahkan sebuah kasus tidaklah mudah, apalagi berkaitan mengapa kebijaksanaan membuat kita tak memiliki pasangan yang pasti.

Untuk awal mula, sang penulis menemukan benang merah di dalam buku-buku Nietzsche. Di dalam The Birth of Tragedy, misalnya, kita bisa menemukan betapa pentingnya sebuah aturan dan kekacauan.

Kekacauan berasal dari tak sampainya sebuah makna tujuan hidup, makanya aturan adalah solusinya. Aturan memberikan kita solusi agar kita bisa memahami arti hidup ini; dan jika tida,k maka kekacauanlah hasilnya.

Mungkin para filsuf yang tak memiliki pasangan seperti itu rupanya. Mereka tak bisa menemukan arti hidup ini dan mengabaikan pencarian pasangannya. Namun, yang paling jelas justru ada di dalam karya Nietzsche berikutnya, On Genealogy of Morals.

Filsafat memang tak bisa dimungkiri merupakan ilmu tentang kebijaksanaan. Itu sangat tampak dalam terminologinya, yang artinya cinta kebijaksanaan.

Namun, untuk mencapai kebijaksanaan, kita harus apa? Ada yang mengaitkannya logika. Ada juga yang menghubungkannya dengan pengalaman (baca: empirisme). Jadi untuk mencapai kebijaksanaan, bisa saja keduanya, yakni melalui logika dan pengalaman.

Lebih jelasnya, filsafat mungkin bisa dikatakan sebagai usaha untuk memastikan sesuatu. Itulah sebabnya rasa ingin tahu menjadi patokan utama dalam filsafat karena kita berusaha untuk memastikan sesuatu.

Nah, di sinilah Nietzsche melihat perbedaan antara seniman dan filsuf. Seniman sudah pasti menghasilkan sebuah karya. Tapi yang menjadi sebuah pertanyaan, apakah seniman itu bisa bertanggung jawab akan karya yang dihasilkannya?

Tentu tidak sangat sedikit seniman yang seperti itu. Misalnya saja seorang tokoh novelis, dalam karyanya kita percaya bahwa apa yang dia katakan itu adalah sesuatu yang hakiki bagi kita, namun, bukannya itu adalah tanggung jawab sang tokoh?

Para filsuf bertolak belakang dengan para seniman. Mereka justru memastikan apakah itu benar-benar ada untuk diri mereka. Mereka tak menyukai para seniman yang berusaha bertanggung jawab atas karya mereka tetapi tidak bisa. 

Di sini kita bisa melihat mengapa para filsuf tak menikah-menikah. Bahkan bagi yang telah menikah, pernikahan mereka juga tak berlangsung baik. Seperti yang diungkapkan di atas, mereka berusaha memastikan sesuatu itu benar-benar ada bagi mereka. Itulah filsafat.

Jika pernikahan itu hasil dari seorang seniman, maka itu hanya merupakan, kurang lebih, upaya untuk mendominasi. Ini disadari oleh Lukacs dalam karyanya, History and Class Consciousness

Lukacs mengatakan secara tersirat bahwa pernikahan tak akan ada tanpa hubungan fisik. Sedangkan, selain dari bentuk hubungan fisik, apa lagi kalau bukan persoalan bahasa. Apa yang dikatakan setiap pasangan akan berusaha menjadikannya tanggung jawab; dan jika tidak, itu bisa dikatakan sebuah dominasi.

Dalam linguistik, kita bisa mendapati sebuah konsep kesewenang-wenangan sebuah kata. Ini disebut dalam terminologi linguistik sebagai "arbitrary". Ini tidak ada kaitannya dengan asal muasal sebuah kata. Karena jika ada, itu bukan lagi sebagai kesewenang-wenangan sebuah kata.

Kita tak perlu tahu sebuah kata itu tanggung jawabnya siapa, dari mana, mengapa itu trending, dan dalam kasus ini, kata terlepas dari tanggung jawab pasangan masing-masing. Dominasi tapi bukan dominasi.

Dominasi yang tak terlihat seperti dominasi merupakan frasa yang sangat sulit. Tapi, bukankah konsep yang tak bertanggung jawab itulah yang menyebabkan komunikasi, sebuah fenomena bahasa.

Kita tak perlu tahu asal muasal kata "om telolet om", "ciyus", "coli", dan, "ngewe". Yang jelasnya, ini adalah upaya agar terjadinya komunikasi. Dalam artian lain, ini bukan persoalan tanggung jawab, tapi upaya agar bisa dimaklumi atau mungkin dimengerti.

Jika kita tak mau mengerti atau memaklumi ketidakberdayaan sebuah kata, mungkin apa yang ada di dalam imajinasi Nietzsche itu benar. Yang ada hanyalah kekacauan.

Para filsuf akan selamanya jomblo. Mereka tak mau bersembunyi dalam aturan yang ilusif dan dominatif. Dan selamanya kita akan terperangkap akan pencarian sebuah kepastian, jodohku harus begini begitu, harus cantik, mengerti diriku, dan kekacauan pun menyelimuti diri kita.

Kita tak mungkin mengikuti konsep Nietzsche untuk mencari alasan menikah. Karena itu adalah upaya yang absurd namun filosofis. Sebaiknya kita menutup tulisan ini dengan menelan pil pahit kehidupan.

Just kidding.

Untuk menutup tulisan ini, marilah kita mengingat teori kebijaksanaan dari Heidegger. Kata yang paling berkesan di seluruh dunia dari beliau itu adalah being. Being artinya adalah mengada, tapi bukan mengada-ngada. Mengada di sini lebih cocok diartikan sebagai proses, sesuatu yang belum selesai.

Pencarian jodoh itu bukanlah memaksakan bahwa dia harus begini begitu, tapi lebih dari itu, bagaimana kita memaklumi dia sebagai manusia, suatu proses. Karena arti hidup manusia belumlah final sebelum menghadapi kematian. Justru setelah kematian, arti hidup manusia bisa dimaknai. Itu pun hanya bisa dilakukan melalui memori, ingatan. 

Jadi, jika ingin mencari jodoh yang sempurna, maka carilah mayat atau robot, yang mereka tak bisa lagi mengada dan hanya itu. Makna mereka sudah terikat. Sedangkan manusia masih bisa berubah-ubah, being, mengada, berproses.