78040_25652.jpg
Cell Code
Pendidikan · 3 menit baca

Jangan Jadi Dosen Jika Sekadar Jadi Tukang Catat

Jika pendidikan sebagai suluh, maka dosen sebagai minyaknya. Sebagaimana suluh, apinya tak akan terus menyala jika minyaknya habis. Pendidikan seperti itu juga. Nyala-tidaknya tergantung pada ide dan gagasan seorang dosen, meskipun dalam hal ini tak luput dari dukungan pemerintah.

Tetapi yang paling berpengaruh adalah si dosen. Pendidikan dan dosen seperti dua sisi mata uang. Jika berbicara dosen, tentunya berbicara pendidikan yang diwarnai dengan ide dan gagasannya.

Tentu, pendidikan dalam hal ini bukan digeneralisasi pada semua pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan di perguruan tinggi. Iklim dan suasana belajar serta orang-orang yang dihadapi berbeda dengan orang-orang yang dihadapi di sekolah.

Meskipun pendidikan yang jadi bidang garapan di sini fokusnya pada pendidikan di perguruan tinggi, sumbangsih gagasan pada pendidikan di sekolah juga jadi bidang garapan dengan diadakannya penelitian. Inipun sebagai wujud dari tri dharma perguruan tinggi. Ya, kalau tujuannya penelitian demi pangkat biar keren, apa boleh buat.

Yang menjadi perhatian sebenarnya pendidikan di perguruan tinggi. Atau lebih tepatnya pada proses transformasi pengetahuan. Meski ini mungkin dirasa hanya bagi sebagian kalangan mahasiswa, ada yang timpang dalam objektivitas seorang dosen. Permasalahan ini ada pada bagaimana aktivitas seorang dosen ketika menilai mahasiswanya.

Barangkali ini dirasa subjektif. Tapi, apabila didiamkan, semakin tidak jelas objektivitas seorang dosen. Objektivitas seorang dosen dalam menilai adalah amanah negara.

Hal itu disebutkan di Bab III tentang Hak pasal 29 berbunyi: 1. Dosen memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan menentukan kelulusan mahasiswa sesuai dengan kriteria dan peraturan perundang-perundangan; 2. Penilaian dan penentuan kelulusan mahasiswa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dosen secara objektif, transparan, dan akuntabel. Di PP RI Nomor 37 Tahun 2009 tersebut sudah jelas.

Tetapi, dalam kenyataan, pengalaman teman-teman mahasiswa yang sering mengalami ketidakadilan dalam penilaian dari seorang dosen seperti anak tiri di rumah sendiri. Mau bagaimanapun, sepintar apa pun, seaktif apa pun karena hal remeh-temeh seperti beda tempat tongkrongan kopi, penilaiannya jangan diharap objektif. Dosen seperti ini biasanya pikirannya cuma kerja.

Tendensius seorang dosen karena beda tempat tongkrongan ngopi sebenarnya lucu. Apa karena pikirannya sempit, sehingga yang beda dengan dirinya seperti tak layak mendapatkan penilaian objektif? 

Memang, mahasiswa sepenuhnya tak boleh seratus persen fokus pada penilaian seorang dosen. Tetapi, apakah pantas seorang mahasiswa yang kualitasnya mumpuni malah disamakan nilainya dengan mahasiswa yang masuknya saja naudzubillah min dzalik?

Dalam banyak cerita dari teman-teman mahasiswa, kadang kala penilaian seorang dosen terhadap seorang mahasiswa karena dua faktor: pertama, karena kedekatan; kedua, karena sama tempat tongkrongan kopi. Mahasiswa yang secara emosionalnya dekat, sudah dipastikan nilainya bakal terbang melangit. Nah, yang kedua ini sangat tidak baik. Karena beda tempat tongkrongan ngopi, sudah dipastikan bakal jeblok nilainya.

Jika terus-terusan dua faktor tersebut dipelihara, jangan harap pendidikan di perguruan tinggi akan jadi laboratorium pengetahuan dan teknologi. Ini bukan mustahil. 

Bagaimana mungkin seorang dosen yang karena kedekatan pada seorang mahasiswa akan mampu memberi penilaian objektif sebagai kelanjutan dari pengembangan pengetahuan? Terlebih lagi, mahasiswa yang secara emosional dekat tersebut masuk kategori naudzubillah min dzalik. Yang ada malah mengkristalkan ke-kita-an dan ke-mereka-an.

Maka tidak salah saya mengatakan dosen seperti ini biasanya sekadar jadi tukang catat. Catatannya pun cenderung tendensius karena faktor tersebut. Itupun kalau catatan mengenai berbagai ide. Kalau sekadar catat siapa yang absen dan tidak, mau diarahkan ke mana laju perguruan tinggi? Teman saya bilang, "kuliah kok rasanya sekadar isi waktu luang dan dengarin dosen ngibul."

Seharusnya dosen yang kerjaannya cuma tukang catat, pindah saja jadi pegawai perpus. Barangkali tempat ini cocok. Kerjaannya mencatat dan mengarsip. Ya, meskipun setubuhi satu buku saja sampai sedalam-dalamnya, malasnya minta ampun.

Di awal paragraf saya katakan, pendidikan sebagai suluh. Sedangkan dosen sebagai minyaknya. Tak luput juga, pemerintah sebagai tukang jual minyaknya. Jika dosennya menjalankan profesinya sesuai jalurnya, jelaslah arah pendidikan di PT. Jika tidak, jangan harap pendidikan sebagai suluh peradaban. Yang ada, malah tempat sekumpulan orang-orang cari kerja.

Dosen seperti ini seperti pedagang. Melayani pembeli, jika membeli dan membayar. Hal ini saya kira jadi perhatian kaum aktivis yang katanya di garda terdepan untuk perubahan. Kalau tidak, hasil kongkow apa? Yaelah, cuma fotoin gelas kopi?