Matahari yang terik, dan saya berada di kota Blitar. Saya dan teman-teman menunggu mobil yang akan menjemput kami. Mobil yang akan mengantarkan kami ke perpustakaan Bung Karno. Perpustakaan yang menyimpan sejarah, kenangan, dan koleksi yang memiliki keterkaitan dengan tokoh bangsa itu.

Saya berdiri di trotoar, memandang motor dan mobil yang satu dua lalu lalang. Saya menunggu sambil mengibas-ngibaskan baju. Karena panas dan pegal, saya memilih untuk duduk di trotoar.

Di sebelah kiri saya ada warung kecil dengan tenda dan dua kursi yang agak panjang. Kelihatan nyaman sekali, tidak terkena cahaya matahari, maka saya duduk di sana. Karena belum ada pembeli satu pun, saya duduk bersama teman. Jarak antara kami dan penjual cukup jauh.

Ketika telanjur nyaman duduk, teman saya bilang, “Ayo pergi.” Karena ibu-ibu penjual bermuka sinis berbilang kepada teman saya menggunakan bahasa Jawa. Karena saya tak mengerti, jadi saya turuti.

Setelah beranjak pergi cukup jauh, baru saya tanya. Ternyata kita tidak boleh duduk gratis. Memang benar, tidak ada yang gratis. Harus beli, dan baru boleh duduk. Saya miris saja dalam hati. Padahal warungnya sepi, dan dia merasa rugi. Mungkin karena ini di kota, jadi seperti itu. Egoistis yang lebih mendominatif.

Orang makin tidak empati. Bukan saya terlalu menggeneralisasi keadaan, tapi kenyataannya seperti itu. Mungkin orangnya ada puluhan. Tapi kalau makin lama makin banyak yang seperti itu, bisa-bisa orang makin enggan bermurah hati.

Saya jadi berpikir sejenak, ketika menolong harus ada imbalan, harus ada timbal balik, bukankah esensinya jadi mundur? Hal ini jelas mengecewakan bagi saya. Kita pun pasrah saja ditolong oleh orang lain yang menuntut imbalan, sebab terpaksa.

Saya akui, tak semua orang ikhlas menolong. Orang bergerak kalau ada pemicu. Pemicu yang menguntungkannya. Salah satunya ialah uang. Tanpa kertas tukar itu, kita tak bisa melakukan apa-apa. 

Hal yang sulit saat ini, orang tidak mau tahu urusan kita. Yang penting bayar, semuanya akan tersedia. Fasilitas, makanan, jasa, bisa langsung disiapkan. Karena kini seluruhnya diukur dengan materi.

Kalau belum ada materi, jangan berharap untuk ditolong dengan percuma. Yang ada sekarang orang kekurangan dijauhi, orang kelebihan didekati. 

Seharusnya yang kekurangan dan kelebihan sama-sama didekati. Ketika kita lebih memilih untuk mendekat kepada orang yang memiliki kelebihan, saat kekurangan nanti bisa jadi tak akan ada yang mendekati kita. Silakan baca tulisan HowHaw Nggak Logis Kalau Menjauhi Orang karena Kekurangan untuk mengerti maksud dari kekurangan yang saya katakan.

Saat ini orang berkomunikasi kalau ada untung. Kalau tak tampak keuntungan, dia tak akan sudi berteman, begitulah. Ini yang mulai saya rasakan, mungkin pembaca juga merasakan.

Kalau hubungan pertemanan saja memang terjadi sedemikian mirip perdagangan, apalagi dengan orang lain? Setiap orang dagang ingin sama-sama untung. Penjual untung, pembeli senang.

Saya kemudian berpikir, mengapa orang mengeluhkan hidupnya? Sebab ia tak ingin berubah. Mengapa orang-orang enggan membantu satu sama lain? Mungkin karena dirinya saja sudah kesulitan, apalagi membantu orang lain. Mengapa orang malah marah, bukannya saling menasihati dengan baik? Karena kalau dinasihati, yang dinasihati malah marah.

Biasanya orang cepat marah karena terlalu lama hidup susah. Ia terlalu berharap, tapi tidak kunjung mengubah dirinya. Orang lebih memilih dan siap menderita dibandingkan mengubah dirinya, hidupnya. Inilah yang sebenarnya miris.

Akibat ketidakpercayaan pada dirinya sendiri, atau mungkin karena terlalu lama dijajah oleh bangsa asing, sehingga kita lebih “menikmati” menderita dibandingkan keluar dari penderitaan itu.

Ketika kesusahan, kita pasti berharap ada orang yang menolong, tapi ternyata tidak ada yang menolong kita. Tuhan Maha Melihat, tidak mungkin kita dibiarkan tanpa penyebab. Mungkin saja kebaikan yang kita lakukan terlalu sedikit, daripada keburukan yang kita perbuat.

Maka kita berupaya untuk menolong orang lain. Saya takutnya makin banyak orang saling curiga. Ketika orang menolong, tapi justru dibohongi. Kita harus waspada memang, tetapi di sisi lain ketika ada yang membutuhkan bantuan, seharusnya kita tolong. 

Saya pun tidak menyalahkan kewaspadaan. Sebab sekarang orang yang ditolong bisa menipu. Padahal kita ikhlas menolong, tapi malah ditipu. Terdengar aneh dan menyakitkan. Ketika kebaikan dibalas dengan keburukan. Tapi ingat saja, kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan pula.

Jangan duduk kalau tidak bayar menjadikan hati saya sesak. Mungkinkah ini awal dari perasaan tak karuan? Mungkin saja hati saya sakit. Tapi saya yang suka berpikir ini lebih baik memikirkan hal lain. Maka dari itu, saya tuliskan tulisan ini supaya saya tidak lupa akan hal ini.

Ketika kita butuhkan bantuan pun pasti kita ingin ditolong. Dan kita ingin dibantu dengan ikhlas wal afiat. Istilahnya, kalau nggak ada uang, nggak jalan, akan hilang, menguap, dan menjadi tidak relevan, semoga.