Listen to your heart when he's calling for you
Listen to your heart, there's nothing else you can do
I don't know where you're going and I don't know why
But listen to your heart before you tell him goodbye

Masih ingat dengan refrain lagu ini? Dia adalah reff dari lagu Roxette, Listen to Your Heart. Lagu ini mengajak pendengarnya untuk mendengarkan kata hati. Pesan ini boleh berlaku ketika kita ingin memutuskan hubungan asmara. Akan tetapi, dia tidak berlaku per se dalam memutuskan tindakan investasi.

Dalam berinvestasi, mendengarkan kata hati saja pasti berakibat fatal. Mengapa? Hati kita pasti ingin laba setinggi mungkin dengan modal serendah mungkin. Ujung-ujungnya, kita malah terjebak dalam lingkaran nafsu (greed) yang tanpa akhir.

Bukannya menguntungkan, lingkaran nafsu ini malah menggerogoti kekayaan kita dalam jangka panjang. Degradasi ini terjadi karena greed memicu manusia untuk memandang dalam horizon jangka pendek. Pandangan inilah yang membuat pelaku investasi gelap mata terhadap risiko yang ada.

Kasus dana investasi Jouska adalah manifestasi nyata dari tumbal lingkaran nafsu. Demi keuntungan tinggi, Jouska dan manajer investasinya melakukan insider trading terhadap saham gorengan. Terlebih lagi, saham yang mendominasi portofolio mereka (saham LUCK) juga memiliki fundamental yang tidak bagus. Akibatnya, dana investor yang ditanamkan di Jouska mengalami kerugian besar.

Bahkan, ada satu investor yang mengalami kerugian sampai 70 persen. Investor tersebut membagikan pengalamannya di Twitter dan menjadi viral. Selanjutnya, korban-korban lain dari Jouska mulai bersuara. Setelah itu, OJK pun memblokir aktivitas Jouska sebagai unit usaha edukasi investasi (Idris dalam money.kompas.com, 2020).

Dari kasus ini, kita dapat memetik satu pelajaran. Sebagai homo economicus, kita wajib memiliki perspektif jangka panjang dalam berinvestasi. Artinya, kita harus memiliki investment time frame paling tidak sepuluh tahun mendatang. Sehingga, kita tidak akan mempertimbangkan tingkat pengembalian semata. Kita juga mengambil unsur model investasi into account.

Unsur ini terdiri dari berbagai elemen. Ada mekanisme investasi, biaya investasi, volatilitas instrumen, dan lain sebagainya. Pada dasarnya, model investasi berbicara soal bagaimana instrumen tersebut menciptakan keuntungan bagi investor dan keberlanjutan dari model tersebut. Dari model ini, investor bisa mengambil keputusan investasi yang prudensial.

Lantas, bagaimana cara untuk memperoleh sudut pandang ini? Menurut hemat penulis, ada tiga langkah untuk memperolehnya. Pertama, perluas literasi mengenai investasi. Kedua, laksanakan investasi secara berkala pada time frame tersebut. Ketiga, rencanakan manajemen risiko yang sesuai dengan investment time frame.

Mari kita mulai dari langkah pertama. Sebelum memulai investasi, kenali dulu berbagai aspek dari instrumen yang dibeli. Kini, zaman yang semakin canggih membuat proses pengenalan instrumen investasi semakin mudah. Tidak hanya dari buku bacaan saja. Pengetahuan berbagai instrumen investasi bisa dilakukan dengan menonton video di Youtube dan mengikuti berbagai webinar.

Dari pengenalan ini, investor bisa mengambil keputusan investasi secara matang. Misalkan dalam berinvestasi reksadana. Dalam memilih reksadana yang tepat, individu harus mempertimbangkan jenis, tingkat pengembalian (secara persentase maupun Sharpe Ratio), dan expense ratio dari reksadana yang bersangkutan. Dari ketiga kriteria ini, akan tersaring reksadana yang sesuai.

Setelah memperluas background knowledge dan memutuskan instrumen, langkah selanjutnya adalah melakukan investasi berkala. Strategi ini lebih dikenal dengan dollar cost averaging (DCA). Dengan DCA, maka investasi kita akan lebih aman. Mengapa? Pertama, kita berinvestasi seiring dengan volatilitas instrumen. Kedua, DCA mengaktifkan keajaiban dunia nomor delapan; bunga berbunga.

Bunga berbunga (compound interest) itu akan memberikan keuntungan besar dalam jangka panjang. Maka, strategi DCA cocok untuk horizon investasi yang jangka panjang. Ibarat sebuah pohon, kita menyiraminya secara berkala hingga besar dan rimbun dalam waktu yang lama.

Akan tetapi, menyiram pohon investasi secara berkala tidak cukup. Kita juga harus memastikan bahwa pohon itu berdiri kokoh pada kondisi yang tepat. Untuk itulah manajemen risiko yang sesuai preferensi investor diperlukan. Pengelolaan ini dilakukan lewat modifikasi portofolio investasi.

Jika investor memiliki preferensi risiko konservatif, portofolio sebaiknya didominasi oleh instrumen pasar uang dan pendapatan tetap. Sementara, risiko moderat dapat memiliki portofolio dengan komposisi instrumen pasar uang, pendapatan tetap, dan saham yang seimbang. Terakhir, investor dengan preferensi agresif sebaiknya mendominasi portofolio dengan instrumen saham.

Melalui ketiga langkah ini, kita sebagai investor didorong untuk mendengarkan berbagai suara. Tidak hanya suara hati saja yang menginginkan keuntungan maksimum. Kita juga dituntut untuk mendengar suara rasionalitas dengan analisis instrumen yang mendalam. Terakhir, kita juga diajak untuk mengenali preferensi sebagai investor, sesuai dengan kondisi yang dialami.

Jadi, jangan dengarkan hati saja dalam berinvestasi. Ini adalah resep menuju lingkaran setan nafsu yang destruktif. Sertai juga dengan perspektif jangka panjang, analisis yang mendalam, dan strategi yang prudensial agar investasi tersebut aman dan bertumbuh secara berkelanjutan.