guru
1 minggu lalu · 53 view · 5 menit baca · Lingkungan 52526_51168.jpg

Jangan Biarkan Pohon Menangis

Beberapa hari yang lalu sebelum saya membuat artikel ini. Saya membuat sebuah penelitian kecil ke beberapa orang dengan profesi yang berbeda. Mereka adalah guru, siswa, arsitek, dokter, polisi dan designer. Saya memberikan satu pertanyaan yang sama pada mereka. Pertanyaannya adalah saya meminta mereka menyebutkan satu kata yang berhubungan dengan kertas dan profesi mereka masing-masing.


Tentu saja jawabnya beragam, sesuai dengan latar belakang profesi masing-masing. Saat pertanyaan ini ditanyakan pada seorang Arsitek, jawabannya desain bangunan. Ketika saya bertanya pada seorang siswa SMU di salah satu sekolah negeri di kota saya, ia menjawab pekerjaan rumah. 


Lalu saya beralih ke perempuan berumur tiga puluh lima tahun yang berprofesi sebagai dokter. Ibu itu menjawab salinan resep. Lalu guru menyebutkan absen kelas, polisi dengan laporan kejahatannya dan designer dengan sketsa bajunya.



Apa yang dapat kita simpulkan dari penelitian kecil saya ini? Kesimpulannya adalah profesi apa pun yang ada di masyarakat pasti tak lepas dari kertas. Arsitek menggambar desain bangunan di kertas. Siswa menulis pekerjaan rumah di buku tulis yang terbuat dari puluhan lembar kertas, Dokter menyalin resep di kertas resep, Guru menulis nama-nama siswa di absensi yang terbuat dari beberapa lembar kertas, Designer menggambar pola atau sketsa di kertas, begitu pun Polisi yang mengetik laporan kejahatan  di komputer lalu di print di kertas sebagai laporan. Jadi intinya, apa pun profesi yang ada pada masyarakat tak akan lepas dari benda tipis yang dikenal dengan nama kertas itu.


Kertas sendiri pertama kali ditemukan oleh seorang pria berkebangsaan Tionghoa yang hidup pada zaman dinasti Han yang bernama Cai Lun pada abad ke satu dan dua masehi. Pria bernama lengkap Cai Jingzhong ini lahir di Guiyang (sekarang di wilayah provinsi Sunan).


Pada awal pembuatan Cai Lun membuat kertas dari kulit kayu murbei. Bagian dalamnya direndam dan dipukul-pukul sehingga seratnya lepas. Bersama dengan kulit, direndam juga bahan rami, kain bekas dan jala ikan. Setelah menjadi bubur, bahan ini ditekan sehingga tipis dan dijemur. Lalu jadilah kertas yang tentu saja tampilannya masih sangat sederhana.


Seiring berjalannya waktu, pabrik kertas bermunculan di beberapa wilayah di Indonesia dan itu berdampak meningkatanya kualitas dari kertas yang di hasilkan, Setiap pabrik terus berinovasi untuk menghasilkan kertas denga kualitas terbaik.


Seiring bertambahnya permintaan kertas dari tahun ke tahun membuat kita dihadapkan pada dilema. Tak bisa difungkiri keberadaan kertas sangat membantu dalam menunjang segala macam aktivitas masyarakat dari profesi apapun. Tapi di sisi lain kita juga tak bisa menutup mata tentang efek negatif yang di timbulkan dari penggunaan kertas yang terus meningkat dari waktu ke waktu.



Seperti yang kita ketahu bersama kalau kertas dibuat dari kayu. Untuk mencetak tiga puluh rim kertas kita membutuhkan dua pohon yang berumur sepuluh tahun. Untuk mencetak seribu eksemplar koran yang biasanya terbit setiap hari, dibutuhkan dua sampai tiga pohon. Bisa dibayangkan berapa banyak pohon yang ditebang untuk memenuhi permintaan kertas setiap tahunnya.


Menurut data tahun 2013, sudah lebih dari sepuluh juta hektar kawasan hutan di Indonesia yang telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industri kertas di Indonesia dan itu terus bertambah setiap tahunnya. Pembabatan hutan yang tak dibarengi dengan penanaman pohon kembali akan membuat keseimbangan alam terganggu dan itu bisa mengakibatkan terjadinya global warming yang akan berdampak buruk bagi alam dan mahluk hidup yang ada di dalamnya.


Pohon-pohon di hutan banyak digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan kertas yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Padahal kita membutuhkan pohon-pohon itu bukan hanya sebagai bahan pembuat kertas tapi juga sebagai ekosistem alam. Karena keberadaan pohon memberikan banyak efek positif bagi lingkungan, seperti :

 

1. Membersihkan udara dari partikel-partikel yang mencemari udara. Oleh     karena itu pohon di juluki sebagai paru-paru bumi karena membersihkan    oksigen yang dihirup manusia setiap hari sehingga udara yang dihirup adalah udara yang aman bagi paru-paru manusia.


2. Mengendalikan suhu dan kelembaban udara.

       Berkurangnya pohon di permukiman penduduk menyebabkan meningkatnya  konsentrasi panas pada lingkungan. Banyaknya pohon turut berperan dalam  menurunkan tingkat suhu lingkungan menjadikan iklim menjadi lebih  bersahabat.


3. Pengendalian banjir dan bencana alam lainnya

Selain dapat mengendalikan suhu dan kelembaban udara, pohon juga dapat mencegah banjir. Akar pohon dapat menyerap air yang ada di dalam tanah. Tanpa akar pohon, air akan jatuh langsung ke tanah dengan bebas sehingga    akan mudah terjadi banjir.

 

Oleh karena itu masyarakat harus menyadari pentingnya penanaman pohon penyerap air tanah seperti pohon cemara dan bakau untuk mencegah terjadinya banjir, erosi atau abrasi.

 

Melihat betapa pentingnya pohon bagi kehidupan manusia membuat kita harus berfikir lebih bijak dalam penggunaan kertas. Seperti yang sudah saya jelaskan di paragraf awal, kertas memang memilki peranan besar dalam kehidupan masyarakat dari profesi apapun. Namun itu semua tak boleh membuat kita menggunakan kertas semaunya tanpa mempertimbangkan dampak negatif yang di timbulkannya.

 

Kalau kita tak bisa menghindari penggunaan kertas setidaknya kita dapat menggunakannya secara efisien seperti :


1. Menggunakan kertas di kedua sisi (sisi depan dan belakang) untuk mencetak   dokumen yang tidak bersifat formal. Cara ini dapat menghemat kertas sampai lima puluh persen.


2. Simpanlah kertas-kertas bekas yang mungkin masih bersisa bagian kosong   yang masih bisa digunakan. Kita bisa menggunakannya untuk mencatat nomor telepon atau menulis daftar belanjaan dan aktivitas rumah tangga lainnya. Tentu lebih ekonomis daripada kita menyobek kertas baru.


3. Menggunakan koran bekas untuk kebutuhan rumah tangga.

Seperti yang dilansir di sebuah media ibu kota, koran adalah salah satu     penyumbang terbesar sampah kertas rumah tangga. Melihat kenyataan itu timbul beberapa solusi baru dari organisasi pecinta alam untuk lebih  menghemat kertas. 

Masyarakat disarankan agar menggunakan koran bekas  untuk kebutuhan rumah tangga seperti sebagai kertas pembungkus barang  pecah belah yang kita simpan agar tak mudah pecah, bisa juga sebagai lap  untuk membersihkn kaca jendela. Penggunaan koran untuk membersihkan  kaca sangat dianjurkan karena serat-serat yang ada pada koran dapat   membuat permukaan kaca menjadi licin dan bening.


4. Koran bekas juga bisa dibuat berbagai macam kerajinan tangan. Seperti membuat tas belanja, pajangan unik dan berbagai kreativitas unik lainnya. Selain menghemat penggunaan kertas juga dapat bernilai ekonomis bagi masyarakat.


5. Menyimpan dokumen dalam bentuk digital sehingga dapat menghindari penggunaan kertas yang berlebihan.

 

Dengan melaksanakan beberapa tips di atas saya yakin kita bisa mengurangi penggunaan kertas yang berlebihan. Mengurangi penggunaan kertas berarti mengurangi penebangan pohon di hutan. Mengurangi penebangan pohon di hutan sama saja dengan turut menjaga keseimbangan ekosistem alam beserta makhluk hidup yang ada di dalamnya.


Yuk kita mulai dari sekarang. Yakinlah semua hal kecil yang dilakukan bersama-sama akan berdampak besar di masa yang akan datang. Tak ada kata terlambat untuk suatu perubahan yang positif. Mulai dari diri sendiri dan mulailah dari sekarang. Lakukan itu untuk kamu, kita dan generasi muda di masa yang akan datang.

Artikel Terkait