Arti kata curang menurut KBBI adalah tidak jujur, tidak lurus hati, atau tidak mungkin adil. Kecurangan adalah awal dari kerugian, begitu pepatah mengatakan. 

Tentu, kerugian yang pertama akan dialami diri sendiri dan mereka yang berbuat curang, mereka yang dicurangi dan orang ketiga pun akan ikut berdampak akibat perbuatan curang.

Menanggapi tulisan pak Harmoko mantan menteri penerangan di sebuah media, beliau menuliskan bahwa tindakan curang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Seseorang bisa berbuat curang karena memiliki kemampuan, kesempatan, dan tentu saja kemauan untuk berbuat curang. 

Kemampuan mengolah kepintaran untuk disalahgunakan bisa karena terdorong motif ekonomi atau memang sudah menjadi kebiasaan karena sudah terlalu sering berbuat curang, namun cuma berbeda kemasan.

Hal ini juga yang sedang saya alami saat ini, tentunya bukan sebagai si pelaku perbuatan curang namun sebagai orang yang dicurangi oleh seorang teman yang ingin membantu menyelesaikan masalah, padahal di balik bantuan yang diberikan ternyata ada maksud lain, yaitu ingin mengambil keuntungan sendiri dari sebuah persoalan.

Merasa dibantu tentunya saya tidak menolak, paling tidak permasalahan saya bisa berkurang. Saya pun tidak banyak membantah apalagi berargumen. Mengingat masalah saya lebih penting ketimbang cuma harus beradu argumen. Alih-alih masalah belum selesai timbul masalah baru yang berdampak mempersulit saya.

Saya menyebut ini sebagai ‘kejahatan rakyat jelata’ karena bukan sebuah tindakan pidana korupsi. Hal ini juga termasuk dalam hukum perdata bukan hukum pidana. Saya mengutip dari tontonan di Youtube seorang ahli hukum.

Kepintaran yang salah arah dan sasaran dengan perbuatan curang sangat disayangkan, apalagi dilakukan terhadap teman, hal ini mengajarkan agar kita senantiasa rendah hati. Kaya harta benda tetapi tidak pernah pamerkan hartanya. 

Memiliki kepandaian lebih, tetapi tidak selalu menonjolkan diri. Memiliki kekuasaan tetapi tidak untuk diunggulkan. Sebaliknya, selalu bersikap sederhana, sebagaimana kebanyakan orang pada umumnya.

Jika sudah merasa paling pintar, paling kuasa, paling baik, paling tajir, dan paling super lainnya yang. Padahal bisanya kebablasan, salah arah, dan akhirnya berujung celaka. Karenanya apa pun profesinya, setinggi apa pun kekuasaan yang melekat pada diri, sebaiknya tetaplah rendah hati, agar kelak selamat diri di kemudian hari. Bukan sebaliknya merasa diri paling pintar dalam segalanya.

Ingat sekali saja perbuatan curang kita mengena di hati teman kita akan tidak dipercaya lagi, meski telah berkata jujur dengan mengungkap sebuah kebenaran. Yang mengkhawatirkan, kecurangan akan dibalas dengan kecurangan kembali. Maka bisa jadilah saling berlomba kecurangan tanpa henti. 

Saya yakin itu cita-cita teman-teman sekalian, sama seperti cita-cita dan impian saya. Kebiasaan yang jelek. Budaya menipu teman dengan muka yang tidak berdosa. Budaya ‘kutipu kau’. Budaya curang. Inilah yang melemahkan kita. Inilah yang membuat bangsa kita sampai sekarang tidak bisa lepas landas.

Yang kita minta tidak lebih dan tidak kurang adalah proses yang bersih, proses pemilihan yang rasional, masuk akal, jujur dan transparan. Demokrasi prasyaratnya adalah proses pemilihan pemimpin-pemimpin yang bersih dan jujur. 

Fair play akan menghasilkan suasana yang dewasa, aman, rukun. Dan kerukunan itu, kedewasaan itu akan menimbulkan harmoni di masyarakat. Dan harmoni di masyarakat adalah syarat mutlak untuk keadaan damai. Keadaan damai adalah syarat mutlak bagi kemakmuran suatu bangsa.

Manusia  memang memiliki naluri untuk berkuasa. Naluri mencintai kekuasaan. Dia akan mempertahankan kekuasaan  dan tidak rela kalau kekayaannya diambil alih oleh pihak lain. Dia akan menggandeng anaknya, menantunya, keponakannya, cucunya dan seterusnya. Inilah praktik nepotisme. 

Fenomena seperti ini akan terus tumbuh dalam sistem demokrasi. Bahkan di negara yang paling demokratis sekalipun. Misalnya di Amerika , Singapura, Inggris, India dan lain-lain. Inilah ironi demokrasi.

Untuk itu Islam sebagai agama yang sempurna sudah menjelaskan bahwa kekuasaan itu milik umat bukan milik sekelompok umat atau pribadi. Jabatan itu amanah. Naluri mencintai kekuasaan itu akan menjadi pahala kalau disalurkan dengan cara yang benar dan halal. Tetapi sebaliknya akan menjadi penyesalan di akhirat bagi orang yang curang.

Bahkan dalam suatu riwayat  Rasulullah pernah menepuk pundak Abu Dzar yang waktu itu meminta kekuasaan. Beliau mengatakan bahwa Abu Dzar itu lemah. Sedangkan jabatan itu amanah. Pemimpin yang amanah juga yang nantinya akan mendapat naungan ketika tidak ada lagi naungan di sana. Bahkan Umar menangis ketika mendapat jabatan sebagai Amirul muslimin.

Penguasa yang amanah adalah penguasa yang menjalankan urusan agama dan urusan dunia rakyatnya. Maksud menjalankan agamanya adalah menjalankan hukum Allah seperti menjalankan hukum potong tangan, menghukum para penghina  agama, menghukum para LGBT, dan lain sebagainya. 

Sedangkan menjalankan urusan dunia maksudnya adalah tidak menelantarkan urusan ekonomi rakyatnya, tidak membiarkan ketidakadilan, kemiskinan dan sebagainya. 

Dalam Islam jabatan adalah amanah. Pengorbanan bukan kemewahan. Jabatan bukan untuk diobral dan dibagi bagikan.