Ketika saya masih berumur delapan tahun, saya tidak pernah tahu ada klub bola bernama Liverpool FC. Kala informasi masih terbatas dan televisi menjadi satu-satunya akses informasi yang bisa saya jangkau, hanya beberapa klub yang saya kenal. AC Milan, Real Madrid, Barcelona, Arsenal, dan ‘Alex Ferguson FC’.

Pasca kemenangan di final FA Cup tahun 2006 melawan West Ham United, barulah saya tahu siapa itu Liverpool FC. Padahal setahun sebelumnya, mereka baru saja menjuarai Liga Champions.

Informasi tersebut juga saya tahu dari kakak perempuan saya yang tergila-gila dengan Xabi Alonso dan Steven Gerrard yang mempunyai tampang rupawan di dalam tim.

Memang, hal pertama yang bisa mendekatkan perempuan dengan sepak bola adalah ketampanan pemain. Soal permainan, itu belakangan. Dari kakak perempuan itulah saya akhirnya mulai menonton Liverpool, sampai akhirnya menjadi penggemar hingga hari ini.

Saya masih ingat pertandingan Liverpool pertama yang saya tonton. Final Liga Champions tahun 2007 melawan AC Milan. Itu adalah kali pertama saya mempunyai niat untuk bangun pada dini hari hanya untuk menonton pertandingan sepak bola.

Bukan kemenangan yang saya dapatkan kala itu, namun rasa kesal. Dua gol dari Filippo Inzaghi hanya berbalas satu gol dari Dirk Kuyt. Pertandingan itu juga membuat saya akhirnya mempunyai rasa benci kepada Inzaghi karena telah membuat tim jagoan saya kalah.

Sejak saat itu, saya sadar bahwa saya benar-benar mulai menyukai tim ini.

Pasca final tersebut, prestasi Liverpool terbilang biasa-biasa saja. Beberapa pemain besar di tim satu per satu mulai pergi. Xabi Alonso, Alvaro Arbeloa, Javier Mascherano, sampai akhirnya Fernando Torres meninggalkan tim. Terlebih pelatih yang membawa Liverpool juara Liga Champions dan FA Cup, Rafael Benitez, lebih memilih melanjutkan kariernya di Inter Milan.

Jika boleh sedikit agak kasar, tahun 2010 adalah awal mula Liverpool menjadi tim medioker, setidaknya selama saya jadi penggemarnya. Bertukar posisi dengan Tottenham Hotspurs yang justru melejit di bawah asuhan Harry Redknapp.

Saya rasa sebagian penggemar Liverpool sepakat apabila era kepelatihan Roy Hodgson ini adalah gerbang kegelapan Liverpool era 2000an. Dimulai dari performa yang buruk, dan transfer pemain seadanya tidak menjadikan performa Liverpool beranjak naik.

Masuknya Kenny Dalglish menggantikan posisi Roy Hodgson juga tidak memberikan peningkatan berarti sekalipun berhasil mendatangkan pemain sekelas Luis Suarez.

Namun ada catatan yang bisa dibanggakan dengan berhasil membawa Liverpool juara Carling Cup. Itu pun harus dicapai dengan susah payah sampai dengan babak adu penalti melawan tim sekelas Cardiff City.

Memasuki komando baru di bawah Brendan Rodgers, Liverpool perlahan memberikan harapan bagi para penggemarnya. Ditopang oleh pemain seperti Steven Gerrard, Philipe Coutinho, Raheem Sterling, dan Luis Suarez, mereka hampir saja merengkuh juara pada tahun 2013/2014 jika saja insiden ‘kulit pisang’ ketika melawan Chelsea tidak terjadi.

Lagi-lagi, harapan untuk kembali berjaya masih menjadi mimpi. Namun musim itu bagi saya menjadi preseden baik untuk musim berikutnya.

Menjadi penggemar Liverpool saat itu seperti bukan sedang mencintai klub sepak bola. Entah apa yang membuat saya jatuh cinta saya juga tidak tahu. Satu yang pasti, saya tidak bisa beralih ke klub lain. Seolah ditakdirkan untuk tidak berharap dan mendapatkan apa-apa dari kecintaan saya terhadap ke klub ini.

Harapan baru kemudian muncul di tahun 2015. Seorang pelatih besar berkharisma asal Jerman, Jurgen Klopp, datang dan menukangi Liverpool. Sebagaimana penggemar Liverpool lainnya, tentu saya mempunyai harapan dengan pelatih ini. Tapi jika faktanya mengatakan sebaliknya, saya sudah siap. Sudah biasa.

Jurgen Klopp kemudian datang dan memberikan warna baru. Gaya permainan yang berubah, pendekatan dalam tim, dan beberapa pemain baru didatangkan.

Sempat membawa Liverpool ke final Europa League di tahun 2016 setelah mengalahkan mantan timnya, Borussia Dortmund, melalui comeback sensasional di Anfield. Liverpool harus menelan pil pahit ketika Sevilla berhasil menjadi juara. Kecewa? Tentu. Tapi sekali lagi, sudah biasa.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Menonton Liverpool di akhir pekan, tidak peduli menang atau kalah. Toh siklusnya sama saja, menang saya senang, kalah saya di-bully.

Musim 2016/2017 menunjukkan tanda-tanda peningkatan, menempati posisi 4 di liga dan kembali ke Liga Champions. Tentunya tidak berharap banyak. Namun siapa sangka jika di tahun berikutnya Liverpool bisa langsung mencapai babak final. Walaupun pada akhirnya harus tumbang di tangan Real Madrid.

Sudah terlalu banyak kekecewaan yang saya dapat selama menjadi penggemar Liverpool, jadi kekalahan ini tidak begitu menyakitkan. Sudah terlatih sabar.

Hanya saja menjadi jengkel ketika pulang dari tempat nobar ke kos, saya langsung disambut ledekan oleh dua orang teman saya di depan pintu. Padahal tim mereka lolos Liga Champions saja tidak. Saya pasrah.

Kesabaran kami menjadi penggemar Liverpool terbayar sudah di musim 2018/2019. Piala pertama di bawah asuhan Jurgen Klopp berhasil mendarat di Anfield setelah memenangi Liga Champions.

Kali ini saya sangat bahagia. Ingin rasanya teriak di depan muka teman saya yang sering meledek saya. Tapi tentu saja niat itu saya urungkan. Rivalitas tidak seharusnya menjadikan pertemanan rusak.

Pasca kemenangan tersebut, satu persatu piala kembali dimenangkan. Piala UEFA Super Cup dan Piala Dunia Antar Klub menyusul. Puncaknya tentu saja yaitu piala yang sudah 30 tahun, Piala Liga Inggris. Walaupun secara teknis saya hanya menunggu 14 tahun.

Kesuksesan demi kesuksesan datang silih berganti. Menjadikan Liverpool kembali sebagai klub sepak bola yang dipandang. Siapa yang tidak bangga melihat kedigdayaan klub kota pelabuhan ini muncul lagi?

Selain itu, saya juga akhirnya bangga melihat banyak yang memakai Liverpool di tempat rental PS. Hal ini juga menunjukkan eksistensi Liverpool di kalangan anak muda, dan bapak-bapak rental. Hal yang tidak saya dapatkan ketika masa-masa saya SD dan SMP dulu.

Pada akhirnya, kejayaan Liverpool saat ini bagaikan pohon tinggi yang mendapat banyak tiupan angin di sekitarnya. Banyak yang iri dan menghujat, tentu saja. Di sisi lain banyak pula penggemar Liverpool yang menjadi pongah. Saya cukup memahami itu. Tapi kejayaan toh tidak seharusnya membuat kita tinggi hati, kan?

Menjadi hal yang umum di kalangan pecinta sepak bola ketika melihat timnya juara, kemudian menyombongkan diri ke penggemar klub rival. Menyenangkan, tapi menjadi tidak menarik ketika pada akhirnya menimbulkan permusuhan.

Terlalu naif apabila saya mengatakan saya tidak larut dalam euforia kemenangan. Tapi menjadi penggemar yang lebih banyak pasrah, dan kembali menikmati sepak bola sebagai sebuah hiburan adalah pilihan saya saat ini.

Sama seperti yang saya lakukan dulu, tidak banyak berubah. Saya kira itu buah kesabaran saya terhadap Liverpool selama ini.