Apakah postingan status WhatsApp bisa memengaruhi kehidupan kita? Menurut saya sangat memengaruhi.

Tentunya makna “memengaruhi” di sini bisa diterjemahkan dengan sudut pandang yang bermacam-macam. Bisa bermakna memotivasi, menghibur, mencari kabar, berdagang atau memengaruhi dalam aspek yang lain.

 Saya yakin, dari sekian banyak pengguna WhatsApp, pasti mereka menganggap fitur “status” yang disediakan WhatsApp sangatlah berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Meski terkadang sebagian yang lain hanya men-skip tanpa menghayati setiap postingan yang memenuhi beranda status WhatsApp-nya.

Beberapa minggu yang lalu, seorang kawan yang menggeluti dunia olshop mengadakan give away di status WA-nya berupa pulsa sebesar 50 ribu untuk dua orang pemirsa statusnya. Bayangkan! Give away pulsa, lho. Bukan post foto kalo kita bisa nangkep gambar sapi ngesot.

Saya pun kepo dan menanyai apa motivasinya mengadakan itu. Kemudian ia menjawab, “Awalnya sih iseng. Terus aku memutuskan buat jualan via WA. Ternyata, dari beberapa orang yang aktif melihat statusku tadi, dampaknya berpengaruh banget pada daganganku."

"Meskipun sebagian hanya melihat saja tanpa membeli. Setidaknya mereka sudah masuk orang-orang yang kena branding aku, dan tahu kalau aku lagi jualan. Maka dari itu, sebagai rasa terima kasih, aku adain give away buat mereka semua yang udah setia lihat statusku. Hehehe,” lanjutnya.

Itu hanya secuil sample dari makna “memengaruhi” yang terkandung dalam fitur status WhatsApp. Kita pasti punya pengalaman sendiri dalam memaknai dan mengaplikasikan fitur tersebut. Entah hanya sebagai pemirsa, atau langsung merasakan seperti kawan saya tadi.

Namun pada titik tertentu, ada beberapa poin yang harus kita perhatikan agar makna “memengaruhi” tersebut tidak menjurus pada hal-hal yang negatif. Sebab selama yang saya cermati, ada hal-hal remeh yang menurut kita lumrah saja, tapi sebenarnya sangat membahayakan bagi siapa saja yang melihat status WA kita.

Pertama; masalah hoaks. Kita semua memang selalu awas ketika ada kiriman link artikel atau video di grup-grup WA yang kita ikuti. Sayangnya, kita tidak memperhatikan dan selalu kecolongan terhadap postingan-postingan yang ada di beranda status WA kita.

Contoh kecil seperti viralnya share buku PDF yang sempat menuai pro-kontra ketika awal masa pandemi. Nggak bisa terhitung, betapa banyaknya orang yang lengah terhadap kevalidan kalimat “Amanah dari penulis, mohon dishare di status WA”. 

Dari kejadian itu, orang jadi saling sikut hanya masalah yang sebenarnya sudah jelas-jelas melanggar kode etik hak cipta.

Belum lagi ketika kita mendapati kawan kita memposting video-video potongan asal comot yang sebenarnya tidak sesuai konteks. Atau screenshotan sebuah judul artikel yang sebenarnya ia hanya dapat dari Instagram atau Twitter tanpa membaca penuh isi artikelnya.

Anehnya, ia berani memposting screenshotan itu di statusnya dengan caption yang panjang, seakan-akan ia sudah paham seutuhnya isi artikel tersebut.

Lebih parahnya, jika ada kawan yang lain ikut me-repost status tersebut dan setuju dengan argumen ngawur dari si pengirim tadi. Jadi ngawurnya menyebar lebih masif. Bahaya banget.

Dalam hal ini bukan berarti saya melarang kalian buat share berita atau artikel di status WA. Itu hal sangat baik. Cuma, seharusnya kita juga menyertakan link di slide selanjutnya, agar budaya menyimpulkan dari judul nggak terus menjamur di lingkungan kita. 

Sebab sudah banyak sekali peristiwa orang kecelik karena terprovokasi oleh click bait judul dan video-video potongan yang tidak utuh.

Kedua; masalah empati. Khusus poin kedua ini memang agak sulit membedakan mana postingan yang “pantas” untuk diterima secara umum dan mana yang tidak.

Satu contoh yang pernah ibu saya alami. Ia pernah melihat status WA kawannya yang memposting foto orang kecelakan dengan darah yang berceceran. Sontak setelah melihat foto itu, ibu saya seharian langsung nggak nafsu makan. 

Mungkin bagi sang kawan postingan itu sangat bermanfaat dan penting untuk di-share, tapi tidak untuk ibu saya.

Terus bagaimana agar kita tetap bisa memposting hal-hal yang menurut kita penting tanpa menyinggung orang lain? Untuk mendeteksi siapa yang akan tersinggung atau tidak, kita nggak akan bisa. Cuma kita bisa meminimalisirnya dengan memberi peringatan pada slide sebelumnya, bahwa konten yang akan kalian posting adalah konten bernada sensitif.

Jika masih ada yang tersinggung, itu sudah di luar kendali kita. Setidaknya kita sudah berusaha yang terbaik.

Ketiga; masalah personal. Untuk poin ketiga ini memang jarang saya temui, tapi sekali menemui postingan ini, rasanya pengin beli truck aja. Males banget.

Pernah di suatu ketika seorang kawan cewek memposting penggalan percakapannya di status WA-nya. Isi percakapan tersebut adalah tentang curhatan dia yang sedang mimisan kepada si lawan bicaranya (saya nggak tahu entah itu si pacar, keluarga atau kawannya).

 Sebenarnya saya nggak terlalu mempermasalahkan apa yang dia posting, cuma yang saya heran saat itu, dalam isi percakapanya, dia menyertakan foto selfinya (bahasa gaulnya pap) tanpa menggunakan kerudung.

Bukannya gimana ya, sebagai kawan laki-lakinya, saya merasa sangat heran menyaksikan sang kawan blak-blakan tanpa rasa malu membuka kerudungnya, meski hanya sekadar di status WA. Padahal di kampus dia kelihatan selalu memakai kerudung.

Jadi, tolong disadari bahwa hal semacam itu sebenarnya termasuk ranah personal yang nggak perlu banget diposting. Yang semula tujuanmu agar dapat perhatian dari penonton setia status WA-mu, yang ada malah bikin muak dan risih.

Dari ketiga poin tersebut, pastinya kita bisa menimbang mana wilayah yang sangat perlu kita jaga, mana wilayah yang pantas kita bagikan.

Jangan sampai kita punya prinsip “Ya udah lah nggak usah dilihat, gitu aja kok ribet”. Ingat, gess... terkadang seorang kawan melihat status WA-mu bertujuan agar engkau senang, sebagaimana senangnya kita ketika status WA kita dilihat oleh teman kita. 

Jadi setidaknya kita usahakan jangan sampai nyampah hal-hal nggak penting di status WA.

Selain itu, kita harus menyakini juga bahwa WhatsApp adalah aplikasi yang paling sering dan paling mudah digunakan dalam kehidupan bersosial media. Ketika paketan kita menipis, kita hanya bisa mencari hiburan-hiburan di beranda status WA.

Jika dari kita saja tidak bisa awas dan peka terhadap lingkungan terkecil. Bagaimana dengan lingkungan yang lebih besar lagi, macam Instagram, Twitter, YouTube atau platform yang lain.