Dari dulu sampai sekarang, predikat janda selalu dikonotasikan jelek. Yang selalu dituduh sebagai pengganggu suami oranglah, yang dituding gagal dalam membina rumah tanggalah, yang dianggap sebagai perempuan haus sekslah, dan macam-macam tuduhan jelek lainnya. Padahal, sejatinya, nggak semua tuduhan itu benar adanya.

Saya ini lelaki, sudah beristri dengan tiga orang anak. Meski lelaki, saya sangat berempati dengan kegalauan para janda. Saya sangat prihatin dengan orang-orang yang selalu mem-bully janda. 

Apalagi ketika emak-emak di kompleks lagi ngumpul, lalu mereka ngerumpi, ngomongin seorang janda yang juga tinggal sekompleks dengan mereka. “Eh, hati-hati sama si janda Anu. Dia lagi nyari mangsa. Jangan sampe suamimu jadi korban,” begitu gunjingan mereka. Miris saya mendengarnya.

Asal tahu aja, janda juga manusia, punya rasa punya hati. Mereka juga punya harga diri. Meski belum ada survey yang membuktikan, tapi saya yakin nggak ada satu pun perempuan di dunia ini yang mau jadi janda.

Semua perempuan pasti ingin hidup tenteram dan bahagia. Mereka pasti ingin menjadi istri yang setia kepada suami, ingin menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Menjadi janda adalah pilihan terakhir. 

Menjanda biasanya karena sudah tidak ada lagi kecocokan di dalam rumah tangga, sehingga suami-istri sepakat berpisah. Ada juga perempuan yang menjanda karena ditinggal kawin lagi oleh suaminya, atau ditinggal mati suami.

Setelah menjanda, mulailah dia menjalani hidup sendiri. 

Saya punya teman seorang janda. Dia cerita, bagaimana risihnya hidup jomblo seperti itu. Suatu ketika, dia diundang acara reuni warga tempat dia tinggal sebelumnya. Kampung tempat tinggal dia beserta para tetangga kena gusuran untuk pembangunan apartemen di Jakarta Selatan. Sejak saat itu, para warga di kampung tersebut “bercerai berai”. Ada yang pindah ke Depok, Parung, Citayem, Bekasi, Tangerang, dan beberapa wilayah lain di pinggiran kota Jakarta.

Singkat cerita, ketika dia tiba di lokasi reuni, ada rasa sungkan dan risih di tengah-tengah warga eks kampung tadi. Ada semacam “jarak” di antara mereka. Ada semacam rasa khawatir dari warga terhadap dirinya yang berstatus janda.  Itu dia rasakan sendiri ketika tanpa sengaja dia mendengar obrolan warga yang membicarakan dia. Sejak saat itu, dia nggak pernah mau lagi datang ke acara reuni.

Padahal, dia tidak sehina yang dituduhkan. Dia rajin beribadah. Sebagai orang tua tunggal (single parents), dia harus banting tulang bekerja untuk menghidupi, mendidik dan menyekolahkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Sebagai wanita, dia tentu punya keinginan untuk menikah lagi dan mendapatkan suami yang setia mendampinginya dalam susah dan senang. Namun dia pantang untuk “melacurkan diri” dengan mengganggu apalagi merebut suami orang. Upaya mencari pasangan hidup dia jalani dengan alamiah, dengan cara yang wajar dan halal.

Janda Bolong

Kegalauan teman saya tadi, dan mungkin juga janda-janda lainnya, tidak berhenti sampai di situ. Beberapa waktu terakhir muncul tanaman hias Janda Bolong yang sangat fenomenal. Tanaman ini booming, khususnya di kalangan komunitas pecinta tanaman hias.

Derasnya informasi tentang tanaman hias Janda Bolong tidak terlepas dari peran media sosial yang begitu masif memberitakan tentang tanaman hias tersebut. Hal ini ditambah lagi dengan media massa yang latah ikut memberitakan tentang fenomena Janda Bolong tersebut.

Media massa bahkan menyajikan berita yang lebih lengkap, misalnya informasi tentang jenis tanaman, bagaimana cara merawat tanaman Janda Bolong, kiat memilih tanaman, dan lain-lain. Akibatnya, harga tanaman ini melambung hingga mencapai jutaan bahkan puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Namun, jangan dikira para janda senang dan bangga dengan adanya penamaan Janda Bolong itu. Jangan dikira para janda bahagia karena “harganya” selangit mencapai ratusan juta rupiah. Itu anggapan yang salah besar, kawan.

Kaum janda sangat terhina dengan penamaan tanaman hias tersebut. Kenapa sih harus pakai nama “Janda”? Apalagi ditambah dengan kata “Bolong”. Itu sangat meyakitkan. Emangnya nggak ada nama lain yang lebih terhormat yang tidak menyinggung perasaan orang?

Fenomena tanaman hias mahal ini bukan kali pertama terjadi. Beberapa tahun lalu tanaman jenis ini juga pernah nge-trend di masyarakat. Namun waktu itu namanya nggak tendensius. 

Sejumlah tanaman hias mahal yang namanya cukup bersahabat dan cukup manusiawi antara lain Gelombang Cinta, Sri Rejeki, Puring, Kamboja Jepang, Anggrek Hitam, Mawar Jambe, dan Paku Sarang Burung. Nggak ada satupun dari nama-nama tersebut yang menyinggung perasaan orang.

Selain menyinggung perasaan kaum janda, kehadiran tanaman hias Janda Bolong juga menghina orang miskin, apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Coba bayangkan, saat orang sedang susah mencari makan, saat banyak karyawan yang kena PHK, para penggemar tanaman hias malah pamer kemewahan dengan mengoleksi Janda Bolong yang harganya selangit itu.

Mengoleksi tanaman hias sebagai hobi atau hanya untuk mengisi waktu luang adalah sah-sah saja. Menjadikan tanaman tersebut sebagai lahan bisnis juga boleh. Namanya juga cari duit. Itu hak azasi setiap manusia. Tapi tolong jangan juga terlalu dibesar-besarkan. 

Coba berempatilah sedikit terhadap saudara-saudara kita yang sedang dihimpit masalah. Banyak yang kena PHK, banyak yang gajinya dipotong. Jangankan membeli Janda Bolong, untuk makan saja susah.