Baru-baru ini, di usianya yang baru menginjak 2 tahun, Ethes sudah dipersilakan oleh Jokowi untuk mewakili dirinya memberi keterangan pada awak pers. Hingga cucu pertama Presiden RI ke- 7 tersebut tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial. 

Keadaan ini bermula saat Presiden Jokowi mengunggah sebuah video di akun media sosial resminya dengan judul “Bila Jan Ethes hormat bendera dan menjawab awak media”.

Tak bisa dimungkiri, pesona Ethes sering kali menjadi sorotan publik. Reaksi ini juga disebabkan oleh sang Presiden yang sering mengikut-sertakan Ethes ke dalam berbagai kesempatan. 

Dengan tingkah lucu, aktif, yang kian menggemaskan lantas membuat Jan Ethes begitu banyak dicintai oleh masyarakat. Terutama kaum milenial, bahkan ada yang sempat menyamakan gaya Ethes dengan artis korea Song Joong Ki.

Banyak pula netizen yang mengomentari jika popularitas Ethes mampu mengalahkan banyak selebgram cilik. Padahal Jan Ethes justru tak punya akun media sosial. 

Bahkan jika kita berbicara soal Emak-emak, pesona Jan Ethes mampu menyaingi lawan politik Mbah-nya di Pilpres 2019, yaitu Sandiaga Uno yang sering disebut idola Emak-emak. Lihat saja antusias kaum Emak-emak bila bertemu Ethes. Nah, sekarang giliran memperhitungkan Ethes dalam panggung politik di kemudian hari.

Bayangkan jika saat ini Indonesia memiliki sistem negara monarki, sudah pasti Jan Ethes adalah salah satu kandidat kuat menggantikan kakeknya pada tampuk kekuasaan di masa mendatang. Namun, sayangnya Indonesia adalah sistem negara dengan bentuk pemerintahan demokrasi dan tak memungkinkan Ethes menjadi penguasa dengan mudahnya.

Akan tetapi, dengan kenyataan saat ini tak perlu membuat Ethes khawatir, karena dalam dunia perpolitikan di Indonesia sudah tak asing lagi dengan istilah Politik Dinasti. Masyarakat Indonesia di masa sebelumnya bahkan hingga saat ini masih memiliki pemahaman politik melalui cara pandang tradisional tersebut.

Contohnya saja, masih sering kita lihat dan sadari bahwa proses pemilihan ketua A atau B, yang masih mementingkan karisma pemimpin, mengukur garis dinasti, dan juga meyakini bahwa kita akan baik jika dipimpin oleh orang tertentu karena keturunannya.

Mari kita ambil contoh paling nyata dengan menunjuk dinasti Soekarno. Presiden RI pertama ini memiliki seorang putri sulung yang akhirnya mencatatkan nama menjadi Presiden RI ke 5. 

Tak sampai di sana, cucu Sang Proklamator tersebut juga digadang-gadang akan meramaikan kandidat pilpres pada 2024 mendatang setelah sebelumnya menjadi Menteri di era Jokowi, yaitu Puan Maharani.

Lalu mari kita masuk ke wilayah Parpol. Setelah sebelumnya Megawati Soekarnoputri sukses mendirikan Partai Demokrasi Indonesia, kini giliran Hutomo Mandala Putra atau Tomi Soeharto yang merupakan anak dari Presiden RI ke- 2 Soeharto mendirikan Partai Berkarya.

Harapannya adalah Tomi mampu membuat kejayaan versi Orde Baru di masa mendatang. Entahlah, apakah masih ada masyarakat yang ingin kembali ke era sebelum reformasi tersebut. 

Dan yang masih segar di ingatan tentu Partai Demokrat yang tengah gencar mempromosikan AHY sebagai calon pemimpin masa depan menggantikan sosok sang ayah Presiden RI ke- 6, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.

Jika Politik Dinasti tersebut banyak diisi oleh anak-anak sang presiden, namun tidak pada keluarga Presiden Jokowi. Jika kita lihat antusias serta rekam jejak 2 anak lelaki Presiden asal Kota Solo tersebut, yakni Gibran dan Kaesang.

Anak pertama, Gibran RakaBuming Raka yang merupakan ayah dari Jan Ethes ini tak pernah menunjukan bahwa yang bersangkutan terpanggil mengikuti jejak sang ayah menjadi politikus. Ketika di wawancara sekalipun, Gibran dengan gaya bicara seadanya lebih antusias membicarakan perihal usahanya ketimbang politik yang saat ini sedang dijalankan oleh sang ayah.

Dengan karakter demikian, rasanya sangat sulit jika membayangkan Gibran menjabat sebagai kader parpol, apalagi mendirikan sebuah parpol di kemudian hari jika kita bandingkan dengan karakter sosok anak presiden-presiden sebelumnya.

Selanjutnya anak bungsu Jokowi, dialah Kaesang Pangarep. Kita sama-sama sepakat bahwa popularitas pengusaha pisang tersebut jauh di bawah Jan Ethes, bahkan beberapa ciutan Netizen di Twitter dalam video di akun Jokowi saat merekam kegiatan di Mall kawasan Yogyakarta, mengatakan bahwa pria yang tengah menyelesaikan kuliah di Singapura tersebut lebih cocok menjadi Paspampres Jan Ethes ketimbang Paman.

Lalu jika kita bandingkan dengan anak presiden-presiden sebelumnya yang mahir dalam berorasi atau berpidato, maka lain hal dengan Kaesang saat ia ditanyai oleh seorang netizen di Twitter pribadinya:

“Bang @Kaesangp udah pernah ngisi sebagai pembicara di seminar belum?”

Sontak ia pun menjawab: “Sudah puluhan kali, tapi sampe sekarang saya bingung, setiap kali saya ngomong, pesertanya pasti ketawa. Jadi saya gak tau lagi ngisi seminar ato acara Stand Up Comedy.”

Jadi, sudah tak bisa dimungkiri lagi bahwa Jan Ethes adalah satu-satunya kandidat kuat calon penerus Jokowi dalam dunia politik. Hal ini merupakan ancaman serius bagi para lawan politiknya di masa mendatang.

Masyarakat akan menilai segala kesuksesan mbahnya Ethes akan menjadi acuan bagaimana karakter yang akan ia dapatkan di kemudian hari. Selain karena Jan Ethes adalah darah keturunan dan juga orang paling dekat dengan Presiden Jokowi, Jan Ethes adalah satu-satunya anak di bawah umur yang sempat dipermasalahkan dalam Pemilu bahkan terancam akan dilaporkan ke Bawaslu. 

Mungkin ancaman Jan Ethes sudah lebih awal disadari oleh lawan politik mbahnya sejak dini. Makanya jangan macam-macam sama Ethes, ya!

Beberapa ciutan di Twitter menyatakan bahwa mulai mengikuti akun Official Jokowi hanya karena ingin melihat Jan Ethes. Bahkan ada yang menyatakan bahwa Ethes adalah calon pemimpin masa depan meneruskan cita-cita Jokowi untuk kemajuan Indonesia.

Kalaupun suatu saat akhirnya Ethes memiliki jabatan untuk negara ini atau petinggi partai, semua didasarkan pada proses fit and proper test, akuntabel, dan kompetensi yang memang harus dimiliki seorang politikus atau pejabat publik.

Namun, terlepas apa pun pilihannya kelak, kehadiran Jan Ethes saat ini mampu menyelesaikan masalah yang tak bisa diselesaikan oleh Mbah Owi.