Jurnalis
2 bulan lalu · 103 view · 5 menit baca · Kesehatan 28516_56188.jpg
psychologymania.com

Jamban-Jamban yang Menginspirasi

Kerja kemanusiaan yang dilakukan Indah Prihanande memang jauh dari sorot kamera, dan ia tak peduli. Namun ia membuktikan bahwa kerja yang disertai dengan hati akan membawa dampak luar biasa pada lingkungan.

Tugas utama Indah selaku Direktur Lembaga Amil Zakat Harapan Dhuafa (LAZ Harfa) Provinsi Banten sesungguhnya hanya menyampaikan amanat yang diberikan oleh para pemberi zakat (muzaki) kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahiq). 

Namun ia berpikir bantuan yang diberikan tidak akan memberikan dampak apa pun selama pola pikir penerima tidak diubah. Maka yang pertama harus diubah adalah pola pikir dan motivasi para penerima zakat agar percaya diri bahwa mereka mampu berubah lebih baik betapa pun terbatas hidup mereka. Bahwa para muzaki harus percaya mereka bisa berubah menjadi mustahiq.

Menyesuaikan dengan masalah yang ditemui di lapangan, Indah pun membuat program mengatasi masalah kesehatan dengan konsentrasi pada Kabupaten Pandeglang. Kebetulan saat itu Pandeglang dan Lebak yang berada di Selatan Banten masuk kategori “daerah merah”, sebutan untuk daerah yang warganya masih banyak yang buang air besar sembarangan. Di Kota Serang, Ibu Kota Provinsi Banten, kebiasaan ini disebut dolbon alias modol di kebon.

Masalah buang air besar sembarangan ternyata tak hanya dilakukan warga. Indah bahkan mendapati salah satu kepala desa di Pandeglang yang ditemuinya tak memiliki jamban di rumah. Padahal, rumahnya megah dan punya mobil bagus. Budaya turun-temurun itu tidak disadari merupakan budaya buruk yang bisa memperburuk kesehatan mereka.

Karena masih buang air besar sembarangan itu, maka angka diare pun tinggi. Masalah ini harus segera diatasi. Indah percaya pemberdayaan masyarakat tidak akan berjalan dengan baik bila masalah kesehatan belum teratasi. Bantuan yang diberikan sebarapa pun banyaknya akan habis bila kesehatan warga masih bermasalah. Kesejahteraan tidak akan terwujud selama masalah kesehatan belum teratasi.


Maka, yang pertama harus dilakukan adalah mengubah kebiasaan warga yang buang hajat sembarangan.

Indah berpikir dan menyusun siasat agar programnya mampu mengentaskan warga yang dolbon. Ia pun menerjunkan relawan di setiap kampung yang dibina. Ia percaya tanpa pendampingan program yang diberikan kepada warga akan menguap dengan cepat. Maka relawan diangkat untuk mendampingi sampai program sukses. Mereka wajib tinggal selama 24 jam di kampung tersebut selama mendampingi warga.

Pada tahap ini reaksi berupa penolakan dari warga terhadap kehadiran relawan biasa terjadi. Warga selalu bilang (kalau dalam bahasa Betawi), "Ngapain lo ngurusin urusan gua. Urus aja urusan lo sendiri." 

Namun Indah selalu menguatkan para relawan. Ia berpesan agar mereka tabah dan sabar menghadapi reaksi warga semacam itu. Warga bereaksi demikian karena mereka tidak tahu. Pada akhirnya, setelah warga melihat ada ketulusan dan kesungguhan dari para relawan untuk membantu mereka biasanya, mereka akan luluh dan ikut dalam program yang dibuat LAZ Harfa.

“Cuci otak” adalah langkah awal yang akan dilakukan Indah kepada warga. Pada tahap ini, warga diberikan pemahaman bagaimana seharusnya mereka melihat diri mereka sendiri. Pada prosesnya, Indah biasanya akan mengajak warga (biasanya ibu-ibu) bermain. 

Warga akan diminta menggambar peta kampung mereka di atas kertas lebar. Setelah itu mereka diminta menggambar lokasi rumah masing-masing lengkap dengan sarana ibadah dan ladang atau sawah.

Warga kemudian diminta meletakkan benda berwarna kuning (terbuat dari bahan semacam adonan kue) di lokasi-lokasi di mana warga buang air besar. Setelah semua melakukannya dan memperhatikan gambar itu dengan saksama, warga biasanya akan ngeh kalau mereka selama ini sangat jorok.

Betapa tidak, kampung mereka dipenuhi kotoran yang mereka buang sendiri di sembarang tempat. Gambar di atas kertas dipenuhi benda kuning itu terlihat menjijikkan. Setelah kesadaran ini muncul, maka menggerakkan warga agar mau membangun jamban sendiri menjadi lebih mudah.

“Jambannya tidak harus yang bagus dan permanen. Yang penting ada tempat khusus di mana mereka buang air,” kata Indah.

Banyak metode yang dilakukan agar warga bisa memiliki jamban. Bagi yang punya uang, mereka diminta membeli yang bagus. Yang kantongnya pas-pasan, bisa membentuk tim arisan atau meminjam uang. Yang tidak mampu sama sekali, bisa menggali lahan miliknya dan membuat lubang jamban.


Indah sendiri mengaku tak pernah mau memberikan bantuan jamban kepada warga yang ia bina. Bukan tak ingin atau tak mampu melakukannya. Ini adalah bagian dari metode pendidikan bagi warga. Ia ingin jamban yang dibeli dan dibangun oleh warga dirawat oleh mereka sendiri. Rasa memiliki warga akan tumbuh bila fasilitas yang dibuat mengggunakan uang pribadi mereka sendiri.

Alasan ini bukan tanpa dasar. Indah sudah banyak menyaksikan fasilitas-fasilitas umum seperti MCK yang dibangun pemerintah berakhir mangkrak dan rusak. Itu karena warga tidak peduli dengan fasilitas tersebut, meski niat pemerintah membangunkan fasilitas itu untuk warga. 

Karena tak ada rasa memiliki, maka ketika ada fasilitas yang rusak, meski bila diperbaiki biayanya sangat kecil, warga tidak akan ada yang mau memperbaiki. Indah sudah melihat contoh semacam ini beberapa daerah di Indonesia yang ada program bantuan pemerintah di sana.

Indah mengatakan butuh perjuangan luar biasa guna membiasakan warga yang biasa buang air di luar ruang agar anteng di jamban. Bagi mereka yang biasa buang air besar dengan berada di ruang terbuka ditemani semilir angin sepoi-sepoi, akan sangat menyiksa berada di ruang tertutup saat buang hajat.

Setelah sejumlah warga memiliki jamban, Indah akan menyampaikan bahwa LAZ Harfa Banten akan memberikan bantuan kepada warga. Tetapi bantuan itu tidak akan diberikan bila masih ada warga yang belum memiliki jamban, meski satu orang. Jadi, semua warga harus memiliki jamban. Tidak boleh lagi ada yang buang air besar sembarangan. 

Maka, warga pun terpacu membuat jamban disetiap rumah. Saat bantuan akan diberikan, Indah akan mengajak warga diskusi apa yang bisa dilakukan setelah mereka memiliki jamban semua. Pada proses ini, Indah akan lebih banyak menggali apa harapan dan keinginan warga dalam mengembangkan hidup mereka. 

Dari diskusi itu akan muncul ide-ide dan keinginan warga. Ada yang ingin memulai usaha membuat kue, membuat simpan pinjam kelompok mikro, dan sebagainya. 

Semua rencana dicatat dan diklasifikasikan didasarkan pada potensi yang dimiliki warga karena itulah kekuatan mereka. Warga pun bersemangat mengubah hidup mereka dengan cita-cita yang melayang-layang di kepala.

“Jika kecakapan mereka di ternak, kami akan berikan bantuan ternak,” ujar Indah.

Meski perjuangan yang dilakukan Indah belum berakhir, namun saat ini ia sudah bisa melihat hasil dari kerja keras dan kegigihannya membina masyarakat dengan mengampanyekan hidup sehat dimulai dari jamban.


Kini, sudah ada 45.000 warga Pandeglang yang berubah hidupnya dan tidak lagi buang air besar di sembarang tempat. Indah mengaku merasakan ada kepuasan saat melihat perilaku warga bisa berubah dan itu datang dari dalam diri mereka. Indah hanya menyentuh. Menyadarkan.

“Mereka biasanya menyampaikan 'alhamdulilah kami bisa berubah. Kalau enggak ada LAZ Harfa, mungkin masih BAB sembarangan',” kata Indah menirukan ucapan warga yang pernah dibinanya. 

Indah telah menciptakan jamban-jamban yang menginspirasi.

Artikel Terkait