The strength of strict churches is neither a historical coincidence nor a statistical artifact. Strictness makes organizations stronger and more attractive because it reduces free riding. It screens out members who lack commitment and stimulates participation among those who remain. (Iannaccone 1994)

Sewaktu saya baru lulus kuliah, kira-kira saat awal bekerja, saya sering dicekoki cerita tentang veteran dan legenda di kantor yang memiliki kualitas moral di atas rata-rata orang pada umumnya. Saya mendengar cerita seorang karyawan senior yang bisa membangun seluruh sistem core banking, jantungnya bank dari nol. Benar-benar dari nol, hingga mesin ATM pun ia pesan sendiri dari situs Ebay. 

Catatan, Ebay berdiri tahun 1995 dan pada era itu bisa mengirim mesin ATM secara utuh ke Indonesia. Kalau sekadar ngoprek layar hijau RPG, yang membedakan karyawan senior tersebut dengan Bill Gates adalah masalah nasib saja yang kapitalisme tidak berpihak padanya.

Cerita seperti ini tidak berhenti di situ saja, karena saya tidak saja mendengar, tapi melihat bagaimana seorang sosok legenda dibangun di perusahaan dengan ritual dan kultus yang luar biasa. Hasilnya memang efektif, sehingga ketika saya tergumun-gumun melihat bagaimana militansi seorang anak muda berusia 25 tahunan yang sanggup bekerja lembur dari pagi hingga pagi secara terus-menerus tanpa mengenal lelah, ini dianggap hal yang biasa.

Cerita lain, saya mendengar anak muda berusia 24 tahun yang menghabiskan waktu berhari-hari di kantor, tidak pulang, tidak mandi untuk mengerjakan laporan perusahaan. Cerita-cerita ekstrem tidak hanya saya dengar, tapi saya melihat dan menyaksikan sendiri. Saya? Memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut.

Tapi, sayangnya ketika berada di perusahaan yang lain, fenomena itu tetap ada. Selalu ada kondisi di mana superioritas moral diagung-agungkan. Kejadian ini ternyata dianggap normal.

Ketika saya mencoba menarik benang merahnya, saya melihat bahwa sebenarnya saya sudah mengalami fenomena ini sejak zaman kuliah. Sudah ada pengelompokan-pengelompokan orang dengan basis stratifikasi yang justru berdasarkan kategori yang sangat sederhana: "strictness". Makin ketat aturannya, makin solid organisasinya.

Jadi, ke mana pun saya pindah kerja, saya menemukan kelompok-kelompok yang sama. Di perusahaan mana pun, di perusahaan A misalnya, saya ada kelompok "jago lembur", solid bekerja hingga jam 3 pagi, di perusahaan B saya menemukan kelompok "work hard play hard", rajin bekerja hingga jam 2 pagi, kemudian dilanjutkan party-party hingga subuh tiba.

Kelompok ini seiring berjalannya waktu dalam 4-5 tahun naik berpromosi menuju jenjang yang lebih tinggi. Mereka sukses berkarier di perusahaan.

Efektif? sepanjang 16 tahun saya bekerja, cerita seperti ini sering saya dengar, tapi dalam jangka panjang, ceritanya berbeda. Dalam jangka panjang, ternyata saya melihat bahwa orang-orang anggota kelompok ini ternyata memilih karier yang berbeda.

Mereka justru keluar dari perusahaan dan memilih pekerjaan yang sama sekali berbeda. Mereka memilih mengkhianati kelompoknya, mengkhianati jemaahnya, setelah dalam kurun waktu yang panjang -- di atas 10 tahun paling tidak.

Jadi, menurut saya, kalau ada orang yang sukses menjalani hidupnya, dengan berdasarkan aturan hidup yang sangat ketat, kita perlu melihat lagi bagaimana perubahan pilihan hidupnya dalam jangka panjang. Jemaah apa yang dipilih seseorang saat ini tidak ada artinya jika dilihat setelah puluhan tahun kemudian.

Kita sering kali terkaget-kaget dengan pilihan ekstrem seseorang. Reaksi pertama yang kita rasakan adalah insting untuk introspeksi diri, apakah kita melakukan pilihan yang salah.

Cerita ini semoga bisa menjadi renungan kita bersama, terutama anak muda yang baru lulus kuliah dan harus memilih jemaah mana tempat dirinya berkembang. Percayalah di mana-mana kita akan menemukan orang yang militan. Militansi dalam dunia kerja tidak jauh berbeda dengan militansi dalam beragama.

Kalau ada jemaah agama tertentu yang sangat ekstrem, menjalani hidup dengan susah payah, kondisi ini juga ada pada jemaah kantor ekstrem. Kalau ada jemaah agama yang mengorbankan harta, benda, dan keluarganya, kondisi ini juga sama ada pada jemaah kantor.

Satu hal yang membedakan antara jemaah kantor dan jemaah agama adalah agama punya ruang yang lebih luas dibandingkan dengan jemaah kantor. Agama memberikan kesempatan secara lebih terbuka, orang dengan latar belakang apa pun, kualifikasi apa pun, hingga pengalaman kerja sesedikit apa pun.

Cerita ini juga kembali menyadarkan saya bahwa kita tidak pernah memilih jemaah, tapi jemaah yang memilih kita. Saringan itu bukan pada keputusan kita untuk memilih, tapi bagaimana jamaah menilai seberapa fit kita dalam organisasinya.

Cerita ini saya tulis pada masa-masa pandemi Covid-19 akan berakhir, ketika berbagai tempat membatasi akses berdasarkan jumlah quota. Pengurusan SIM, misalnya, dibatasi 200 orang per hari, pelayanan potong rambut dibatasi 5 orang per hari, ibadah dibatasi 50 orang per kegiatan.

Lagi-lagi saya tersadar, bahwa berada di jemaah mana sama sekali bukan pilihan saya.