97998_47102.jpg
AA Agnostica
Filsafat · 3 menit baca

Jam Tayang Tuhan

Apakah kita benar-benar merasa Tuhan hadir dalam diri kita? Diri bagi status ontologis dari realitas waktu yang kita anggap ada, secara keseluruhan tidak benar-benar ada. Kita hanya merasakan semacam sentuhan rasa abstrak bagi hal-hal instrinsik yang kita lalui hadir dan pergi begitu saja.

Kenyataan ini murni sekaligus praktis dalam struktur metafisik dari kedirian kita. Semacam kehadiran dan lompatan-lompatan mental yang sulit dipastikan.

Mengapa unsur-unsur semacam ini dapat dirasakan tanpa mediasi secara langsung? Mengapa Tuhan yang kita maksud bukan benar-benar Tuhan dalam arti Dia.

Dalam kurun waktu yang relatif singkat, kita memiliki semacam jam tanyang bagi Dia yang disebut Tuhan. Mengapa ini penting, mengapa pula ia penting? Kita semua merasa yakin bahwa banyak perasan abstrak yang dapat dirasakan tanpa semata-mata bahwa ia adalah sentuhan Tuhan. Tegasnya Tuhan hadir dalam jam tayang waktu kita.

Selama masa seluruh tahap eksperimental dalam sikap apriori ini, ketetapan pasti yang kita rumuskan kadnag-kadang juga memberikan pengetahuan jelas terhadap hal-hal konkrit. Selama ini, perasaan terdalam kita tentang seluruh potensi aksi mistik mengalami perubahan yang tidak stabil.

Sementara itu, dalam banyak hal, Tuhan luput dari jangkauan kita. Kehadiran Tuhan bahkan tidak diketahui. Meraba-raba hal abstrak pada tatanan manusiawi yang tidak independen adalah sesuatu yang sama sekali tidak independen, cepat berubah.

Guncangan atas perasaan suci ini lagi-lagi tidak segampang itu dapat dirasakan. Ini sebenarnya hal remeh-temeh, lantas kecerobohan manusia bahkan tak dapat menjauhkan kepastian yang telah berulang hadir dalam waktu senggang.

Manusia yang tidak memiliki spirit lebih baik dari yang lainnya, terkadang merasa jarang pulang ke rumah. Padahal kerap kali Tuhan bertamu, ingin menyapa, lantas kita bahkan abai terhadap tamu agung ini. Bukankah telah berulang kali dikatakan bahwa ia begitu dekat. Mengapa pula ia begitu jauh, sajak cinta yang begitu agung “kenalilah dirimu” bahkan tidak menggoyah urat nadi pada pencarinya, lantas, pantaskah kita disebut “murid-murid Tuhan”?

Dahulu kala, spiritualitas intim lahir dari persembunyian individu-individu, tidak menjadi penting apakah ini benar atau melampauinya. Manusia lalu percaya, tergoda olehnya, dengan malu-malu, berani mati atasnya.

Kebodohan sikap yang paling primitif ini tidak serta merta normatif, tetapi memiliki arti penting dan primordial bagi moralitas agung para pecinta kebijaksanaan. Sementara hal lain yang lebih penting pula, telah serta merta terkait dengan bentukan-bentukan naluri manusiawi yang bersifat trans, namun barangkali melampaui segalanya.

“Jam Tayang Tuhan” sama sekali tidak ada kaitannya dengan siaran religi di media berkemajuan itu, ini semacam gugatan, atau bahkan sanggahan terhadap mereka yang merasa telah dihadiri, dalam waktu ontologis mereka, kebenaran abstrak mereka, persepsi-persepsi murni mereka, dan lagi kepastian absolut yang tak kunjung pasti, entah sampai kapan.

Ini barangkali saat yang tepat untuk sekali lagi, mengingatkan para pecinta, yang tidak maha pencemburu, tetapi begitu angkuh dan penuh hikmat merasa yakin tentang sesuatu yang bukan lagi bisa disebut keyakinan, akankah lalu kebenaran menjadi tidak penting?

Sekali lagi, jam tayang Tuhan tidak ada kaitannya dengan seberapa sering istilah itu muncul dalam pergolakan wacana manusia., terlalu sederhana, mereka juga terlalu dini untuk sementara waktu memastikan keberadaannya. Paling tidak, ada hal lain dari sekedar wacana, sekedar praktik, atau secara keseluruhan sebuah revolusi mental yang paling dalam.

Spiritualitas manja yang terlalu kekanak-kanakan, yang lebih lain lagi, tentu saja, tak terlalu dapat dikomunikasikan. Adakah spiritualitas yang memang bisa komunikasikah, kesombongan kaum mistik lahir dalam dunia yang sempit ini.

Suatu perjumpaan, betapapun tidak ada prolog, selalu saja menjadi hal yang lumayan mengesankan. Ia bukan sesuatu yang begitu saja kebetulan, atau bahkan memang demikian. Selama ini pandangan kita tentang realitas terjadi melalui abstraksi-abstraksi perseptual yang terkonsep sedemikian rupa, lalu tidak ada lagi yang disebut kebimbangan dalam melihat.

Ini secara keseluruhan terjadi dalam waktu, ilusi waktu yang tak tau diri akan keberadaannya. Selama masih ada waktu untuk memikirkan, di mana letak ketiadaan bahasa? Ini betapapun lemah, sungguh bermanfaat bagi kelangsungan makhluk hidup, tidak semata-mata ia hidup, tetapi juga sekaligus merasakan hidup.

Kadang sikap memanjakan diri untuk tenggelam dalam samudra asin yang lebih dalam lagi, begitu memabukkan, sampai lupa bahwa ia seharusnya berhenti sejenak untuk bernafas, untuk sekedar merasakan kemurkaan dunia tentang kodrat-kodratnya, untuk bermimpi tentang kepentingan yang lain.

Tidak hanya sekedar “lupa” pada hal lain, yang justu sebenarnya itulah yang memberi tiket untuk tenggelam dalam samudra asin itu. Lagi pula, tidak ada tepi yang bisa dijangkau, hanya mungkin sekedar batas, yang sangat terbatas.

Kalau saja kehadiranmu tidak diharapkan, apa maumu? Adakah sesuatu yang tak sama sekali dilahirkan atau diciptakan menjadi layak untuk mendengarnya. Kita perlu melahirkan tokoh-tokoh fiktif untuk sekedar menjadi perbandingan dialog, berjaga-jaga jika saja kehidupan ini memang fiktif.

Tidak terlalu buang-buang waktu apabila ini sekedar hiburan bagi keputusasaan yang berkepanjangan. Berbuat baiklah, walau toh suatu saat mungkin tidak ada kepastian atasnya, setidaknya kita telah menbuat satu keputusan dalam sudut pandang manusia