3 tahun lalu · 663 view · 5 min baca menit baca · Gaya Hidup jam-e1446348065554.jpg

Jam Tangan Sialan

Ternyata saya belum sanggup meninggalkan jam tangan. Saya pernah mencobanya, tapi hanya bertahan kurang dari sebulan. Kini, saya pakai lagi jam itu, meski dalam keadaan mati. Sudah lebih dari sebulan batere jam tangan saya ini habis, dan itu salah satu alasan saya beberapa minggu lalu membuat resolusi berhenti memakai jam tangan.

Ada alasan lain mengapa saya ingin berhenti memakai jam tangan. Saya membawa gawai yang cukup canggih dengan penunjuk jam yang selalu akurat dan bisa beradaptasi pada lokasi dengan waktu yang berbeda (thanks to internet). Bukankah fungsi utama jam tangan untuk melihat waktu? Jika fungsi ini sudah tergantikan mestinya jam tangan tak perlu lagi dipakai.

Alasan lain saya ingin berhenti dari memakai jam tangan adalah karena saya lebih menyukai gelang tangan dan saya memiliki cukup banyak koleksi gelang. Jam tangan mengurangi jumlah gelang tangan yang saya pakai. Jika tanpa jam, pergelangan tangan saya akan bisa lebih banyak menampung koleksi itu.

Lagi pula saya sudah cukup bosan melihat dan memakai jam saya itu. Itu satu-satunya jam yang saya miliki. Saya beli hampir delapan tahun lalu. Kadang-kadang saya berharap jam itu rusak sehingga saya punya alasan untuk menggantinya. Tapi, jam pasaran buatan Swiss itu cukup tangguh. Puluhan kali dipakai berenang dan kegiatan lain, tak mengurangi kualitas kerjanya.

Ada yang berasa kurang setiap kali saya keluar rumah tak mengenakan jam tangan. Saya merasa seperti telanjang. Beberapa kali saya kuatkan diri untuk mengabaikan perasaan ini. Pada awalnya berhasil dan muncul perasaan heroik, seperti seorang pemula yang ingin menjalani hidup sebagai vegan. Tapi memasuki hari kelima, perasaan kehilangan mulai menjadi-jadi.

Yang paling menyiksa dari ketiadaan jam tangan adalah kebiasaan spontan melirik pergelangan dan menggerakkan tangan secara reflek untuk melihat tanda waktu. Kebiasaan hampir seumur hidup (dikurangi masa kecil) ini agaknya tak bisa dihilangkan begitu saja. Smartphone tidak bisa menggantikan kebiasaan spontan yang telah mendarah-daging itu. 

Saya memakai jam tangan sejak sekolah menengah (SMP). Saya selalu memakainya dan hanya absen jika baterenya habis atau jamnya rusak. Mungkin waktu pertama kali memakai jam tangan itu karena ingin gaya-gayaan saja, atau karena ingin ikut tren, atau tak mau kalah dengan teman-teman saya yang lain. Tapi, setelah bekerja, jam tangan bagi saya lebih sebagai sebuah alat fungsional ketimbang perhiasan.

Saya tidak pernah tertarik mengganti jam dengan yang lebih begini atau begitu. Saya hanya memakai satu jam yang sudah berumur hampir delapan tahun itu. Saya menyukainya karena berfungsi dengan baik dan bekerja sesuai dengan keinginan saya: ada penunjuk waktu, tanggal, tahan air, dan stopwatch. Dan sekarang jam tangan itu mati karena kehabisan batere.

Saya tak pernah berhasil meyakinkan diri saya bahwa jam tangan yang begini dan begitu bisa membuat pemakainya lebih begini dan begitu. Mungkin saya harus menunggu jam tangan saya rusak dulu agar punya alasan kuat untuk menggantinya dengan yang begini dan begitu. Heran juga, saya bisa dengan tega mengganti ponsel yang saya anggap sudah ketinggalan zaman (meski masih berfungsi dengan baik), tapi tak pernah tega membeli jam tangan baru.

Mungkin saya harus sering-sering bergaul dengan anggota DPR atau dengan para politisi yang sering gonta-ganti arloji sesering Metromini mangkal di sembarang tempat. Saya perhatikan, jam buat para politisi di Senayan bukan hanya sebagai penunjuk waktu. Bahkan fungsi ini tampaknya menjadi sekunder. Yang paling pokok buat mereka adalah jam sebagai sebuah gaya hidup dan sebagai penarik perhatian lawan jenis.

Manusia pada dasarnya suka menceritakan dirinya, khususnya jika dirinya mendapatkan kebaikan-kebaikan yang tak didapatkan orang lain. Jam tangan adalah alat paling ampuh untuk menceritakan status seseorang. Jika Anda memakai jam merek Bvlgari atau Rolex atau Breitling, atau Montblanc, pada dasarnya Anda ingin menceritakan bahwa gaji atau penghasilan Anda perbulan minimal sebesar harga jam yang Anda kenakan itu.

Bahkan jika penghasilan perbulan Anda kurang dari harga jam tangan yang Anda kenakan, sesungguhnya Anda tetap ingin dilihat sebagai orang yang punya penghasilan seperti itu. Paling-paling Anda akan berterus terang jika ada orang yang tahu kondisi Anda sebenarnya dengan mengatakan, misalnya “jam ini pemberian teman saya yang anggota DPR,” atau “saya beli ini di Mangga Dua, KW2. Jangan bilang siapa-siapa ya.”

Untungnya (atau sialnya) saya belum pernah diberi hadiah jam yang berharga sangat tinggi, yang harganya lebih tinggi dari penghasilan bulanan saya. Karena kalau ada yang memberi hadiah seperti itu, tidak gampang memakainya dengan perasaan nyaman. Saya pasti akan selalu was-was mencari jawaban yang pas jika ada orang yang bertanya.

Hal seperti itu pernah benar-benar terjadi pada teman saya, yang penghasilannya saya duga kurang lebih sama dengan saya. Suatu hari dia diberi hadiah sebuah jam tangan sangat mewah oleh temannya, seorang ketua partai politik. Menurut sang ketua parpol, dia punya beberapa jam mewah yang diberi oleh beberapa pengusaha yang sempat berurusan dengannya. Jadi, jam tangan mewah teman saya itu adalah hadiah dari hadiah seorang pengusaha.

Saya melihat dia hanya sekali memakai jam tangan itu. Saya bertanya mengapa dia tak memakai lagi jam yang tampilannya sangat keren dan canggih itu. “Ukurannya terlalu besar,” katanya. Tapi setelah saya desak lagi, dia menceritakan alasan sesungguhnya mengapa dia memilih menyimpan saja jam itu di laci almari rumahnya.

Menurutnya, harga jam tangan itu hampir tiga kali penghasilannya perbulan. Dia sudah cek ke beberapa toko dan semuanya mengkonfirmasi harga yang kurang lebih sama. Sebagai orang yang memilih tampil apa adanya (tidak sederhana, tidak juga mewah), dia merasa kurang nyaman dengan jam tangan pemberian itu. “Aku lagi kepikir untuk menjualnya,” katanya.

Memakai jam tangan memang bukan perkara asal pakai. Ada alasannya. Bagi orang yang tidak suka dengan kemewahan (atau lebih tepatnya mempertontonkan kemewahan), jam tangan mahal adalah sesuatu yang sangat mengganggu. Pertama, itu mengganggu pemandangan jika yang memakainya seorang yang memang miskin. Kedua, itu tetap mengganggu jika yang memakainya orang kaya, terutama jika orang kaya itu memakai arloji yang harganya lebih mahal dari seluruh harta orang yang melihatnya.

Gaya hidup manusia telah mendorong industri arloji membuat jam dengan model dan bentuk yang sangat beragam. Juga harga yang tak masuk akal. Sebuah arloji merek Hublot bisa mencapai harga 1 juta dolar atau sekitar 13 miliar rupiah. Biasanya, orang yang memakai jam dengan harga di kisaran ini memiliki lebih dari satu.

Saya belum pernah (atau tepatnya belum kuat) membeli jam tangan mewah. Jam yang saya pakai harganya sepertiga UMR di Jakarta. Dan sekarang jam itu mati. Saya tetap memakainya dan belum sempat menukar baterenya. Jika ingin mengetahui waktu, saya pandang jam mati itu sambil merogoh saku, mengambil ponsel cerdas saya.

Ternyata saya belum sanggup meninggalkan jam tangan.

Artikel Terkait