Jalur Sutra Xi

"Ia pemimpin yang hebat. Saya rasa semua rakyat China tahu itu", ungkap seorang wanita muda ketika ditanyai wartawan mengenai kepemimpinan presidennya pada sela-sela kongres Partai Komunis (PKC) Maret lalu.

Ungkapan tersebut tidak berlebihan memang untuk disematkan pada Presiden China kini, Xi Jinping. Ketika mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan China dari Hu Jintao di tahun 2012 Xi Jinping diwarisi negara kuat dan makmur, yang disegani diregional dan global.

Xi sadar bahwa China sekarang adalah sebuah negara adidaya besar yang tidak bisa didikte oleh siapa pun. Xi identik dengan kepemimpinan kuat dan adidaya, menjadi penyeimbang Amerika yang merupakan rival internasional utama China pada skala global.

Di dalam negeri, Xi mengampanyekan yang ia sebut sebagai "mimpi China". Mimpi China tersebut berupa upaya meraih kebangkitan nasional dengan agenda dua abad: target abad pertama ialah mencapai masyarakat makmur pada tahun 2021 atau 100 tahun setelah berdirinya PKC, sedangkan target kedua ialah mencapai negara sosialis yang kuat dan kaya pada tahun 2049 atau 100 tahun setelah proklamasi berdirinya China.

Tentunya, untuk mengimplementasikan mimpi tersebut, China harus hadir di seluruh dunia dengan menancapkan pengaruhnya di global dan dominasinya di regional. Alasan itu jugalah yang menjadi inisiatif kebijakan luar negeri Presiden Xi.

Terinspirasi oleh rute pedagangan kuno lebih dari 2.000 tahun yang lalu, China ingin menghidupkan kembali rute perdagangan dengan Barat era Dinasti Han (140 SM) yang dikenal dengan Jalur Sutra.

Pertama kali diusulkan pada September 2013, program ambisius untuk membangun rute perdagangan jalur sutra yang baru ini diberi nama OBOR atau singkatan dari One Belt, One Road. Konsep OBOR sendiri bertujuan untuk meningkatkan pembangunan dan memperluas hubungan dagang antara Asia, Afrika, dan Eropa yang didukung oleh investasi infrastruktur miliaran dolar.

Jalur sutra baru ini kemudian dibagi ke dalam dua bentuk, jalur sutra darat dan jalur sutra maritim. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, China telah menyiapkan dana sebanyak USD 124 miliar atau sekitar Rp 1.649 triliun.

Dana tersebut di antaranya akan digunakan untuk membangun jaringan infrastruktur jalan, kereta api, jaringan telekomunikasi, jaringan pipa energi, dan pelabuhan. OBOR akan meningkatkan interkonektivitas ekonomi dan memfasilitasi pembangunan di Eurasia, Afrika Timur, dan lebih dari 60 negara mitra.

Selama lebih dari tiga tahun, jaringan infrastruktur darat yang menghubungkan serangkaian proyek konstruksi OBOR telah dimulai satu demi satu. Awal 2017 lalu, kereta api langsung pertama dari China tiba di Inggris.

Kereta yang berangkat dari kota Yiwu menempuh jarak 12.000 km, melintasi tujuh negara. dan memerlukan waktu 18 hari untuk tiba di London. Kerea api tersebut akan menjadi lokomotif perdagangan China–Eropa mengingat kereta api sebagai sarana transportasi yang lebih cepat dari pada jalur laut dan mampu mengangkut komoditas perdagangan dalam jumlah besar.

Untuk Indonesia sendiri, China menanamkan investasi pada pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dan proyek pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 7.200 MW di Kalimantan Utara.

Jalur sutra baru yang dimulai dari China dan berakhir di Eropa telah menjadi jalur perdagangan tersibuk di dunia. China telah mendirikan 56 zona perdagangan dan kerja sama di lebih dari 20 negara di sepanjang jalur OBOR dan menginvestasikan total lebih dari USD 18,5 miliar.

Selama lebih dari tiga tahun, hasil OBOR telah melampaui ekspektasi, karena lebih dari 100 negara dan organisasi internasional telah merespons dan mendukung dengan positif, sementara lebih dari 50 negara telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan China.

Proteksionisme Trump

Sejak berkampanye sebagai calon Presiden, Donald Trump selalu menjanjikan perbaikan ekonomi Amerika dengan slogannya Make America Great Again dan America First. Kemampuan Trump membangkitkan nostalgia tentang kejayaan Amerika di masa lalu diyakini menjadi kunci kemenangan Trump. Trump merindukan ekonomi Amerika saat industri dalam negerinya mampu menguasai pasar domestik di negaranya sendiri.

Sebagai negara adidaya, Amerika dalam perdagangan ternyata tidak sedigdaya yang diperkirakan. Defisit perdagangannya selalu menganga lebar.

Defisit perdagangan terbesar terjadi dengan China, dengan angka mencapai 319,282 miliar dolar per november 2016. Pada 2015, defisit perdagangan dengan China mencapai 367 miliar dolar. Rekor baru ini naik dibandingkan 2014 di angka 343 miliar dolar.

Ekspor Amerika ke China hanya 116,2 miliar dolar, impor mencapai 483,9 miliar dolar. Amerika mengimpor barang elektronika, pakaian, dan permesinan dari China. Impor dari perusahaan-perusahaan Amerika yang mengirim material mentah ke China untuk kemudian dirakit dan dikembalikan ke Amerika dalam bentuk barang jadi. Amerika pada faktanya merupakan negara yang kekuatan perdagangannya lemah jika bersaing dengan China.

Kejengkelan itu jugalah yang kemudian mencetuskan slogan Make America Great Again, yang sederhananya “dari Amerika untuk Amerika”. Amerika harus didahulukan dari kepentingan mana pun. Trump kemudian mengimplementasikan slogan itu dengan bentuk proteksionisme dagang. Dengan melakukan pembatasan pasar dalam negerinya dari produk-produk impor, ekonomi Amerika diharapkan kembali bergeliat dan serapan tenaga kerja meningkat.

China menjadi korban pertama yang terkena imbas kebijakan dagang Trump, padahal sudah 20 tahun lebih China dan Amerika menjadi mitra dagang. Amerika menaikkan tarif impor baja dan aluminium dari China sebanyak masing-masing 25 persen dan 10 persen atau setara 60 miliar dolar.

Tanpa menunggu lama, China kemudian membalas dengan memberlakukan bea impor sebanyak 25 persen untuk daging babi dan aluminium, serta 15 persen untuk pipa baja, buah, dan minuman anggur dengan nilai mencapai 3 miliar dolar.

Xi Jinping mengkritik kebijakan proteksionisme Donald Trump dalam World Economic Forum, dengan menyebut, "Proteksionisme seperti mengunci seseorang dalam sebuah ruang yang gelap. Angin dan hujan memang ditahan di luar, tapi juga cahaya dan udara. Tidak ada yang akan muncul sebagai pemenang dalam perang dagang." Bagi dunia internasional, pertarungan dagang dua adidaya besar ini tentu menimbulkan kekhawatiran merusak pertumbuhan ekonomi global.

Tidak ada yang bisa menyangkal China merupakan kisah sukses keajaiban ekonomi. Siapa sangka negara yang seusai perang dunia kedua identik dengan kediktatoran, kemiskinan, dan politik menutup diri pada era Mao Zedong kurang dari dua generasi kemudian menjelma menjadi adidaya baru dengan perkembangan teknologi yang pesat, rakyat yang makmur, dan perdagangan yang luas.

Di sisi lain, Amerika yang selama ini dikenal sebagai bos kapitalisme global tampaknya mulai melempem dengan perdagangan bebas yang selalu ia gaungkan dulu. Amerika dengan Trump-nya, persis seperti kata pepatah: "muka buruk cermin dibelah".