Saya rasa banyak orang tahu bahwa jalanan Jakarta memang sakit. Dan sekarang sakitnya telah semakin parah. Bagaimana tidak sakit, wong kacau begitu. Mulai dari orang yang mengendarai motor di trotoar, pengendara motor lawan arus, tidak menggunakan helm, sampai pengendara mobil parkir sembarang di sisi jalan (walaupun ada tanda dilarang parkir).

Belum lagi orang-orang yang keranjingan menekan tombol klakson di waktu lampu merah, saat pintu kereta tertutup, dan saat kemacetan menyerang. Entah apa motif mereka, apakah memang terburu-buru karena menahan boker, tidak bisa melihat kemacetan yang ada, amnesia, atau untuk mengusir kesuntukan belaka karena tahu bahwa jalanan macet.

Apakah para Polisi Lalu Lintas (Polantas) tidak menyadari kesakitan itu atau bagaimana? Karena rasa-rasanya mereka hanya hadir saat ada razia saja; mereka menyetop beberapa kendaraan yang mekanismenya hanya mereka sendiri yang tahu, lalu menilang mereka yang ada kekurangan tertentu, kemudian menerima seratus sampai dua ratus ribu dari mereka yang ditilang namun meminta damai. Yes, damai.

Tapi memang damai di situ bukan dalam pengertian damai yang positif, damai yang mengambarkan keadaan yang harmonis, rukun, atau ekuilibrium. Mereka hanya terlihat hadir dalam konteks situasi itu saja, tapi selanjutnya apa? Terutama di jalan Jakarta yang sakit.

Setiap Polantas bertugas untuk melaksanakan tugas atau usaha, pekerjaan, dan atau kegiatan untuk mengendalikan lalu lintas melalui pencegahan dan peniadaan segala bentuk gangguan serta ancaman demi menjamin keamanan, ketertiban, keselamatan, dan kelancaran lalu lintas di jalanan umum.

Dari segi teoretik, cakupan fungsi dan lingkup kegiatan yang harus dilakukan Polantas tentu saja sudah ideal, yaitu Pendidikan Masyarakat Lalu Lintas (Police Traffic Education), Pengkajian Masalah Lalu Lintas (Police Traffic Engineering), Penegakan Hukum Lalu Lintas (Police Traffic Law Enforcement), Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor, Patroli Jalan Raya (PJR), dan Memberikan Informasi Lalu Lintas.

Nah, yang perlu ditekankan dengan masalah sakitnya jalan Jakarta terletak pada fungsi Polantas pada poin Police Traffic Education dan Police Traffic Law Enforcement. Di mana Polantas seharusnya mampu mengedukasi masyarakat luas tentang pentingnya berlalu lintas dengan baik, melalui beberapa media seperti penyuluhan, film, brosur, dan lain.

Kalau memang edukasi melalui hal tersebut tidak terlalu signifikan hasilnya, dan masyarakat masih bengal, saya rasa itulah yang terjadi di Jakarta. Saatnya pemerintah memberikan tindakan hukum preventif dengan cara melakukan pencegahan langsung, hadir di jalan raya, untuk mengamankan yang bengal.

Bila itu juga tidak berfungsi signifikan, maka saatnya untuk melakukan tindak hukum yang represif. Menindak satu persatu orang yang bengal, yang sejujur-jujurnya berdasarkan yang saya lihat di jalanan Jakarta, yang akan menular dan memproduksi orang-orang bengal lain di jalan raya.

Ada beberapa hal yang memang agak sinting, yang pernah saya alami di jalan raya di Jakarta. Pertama, saya pernah diklaksoni seperti orang yang super salah karena sudah menghentikan motor sewaktu pintu kereta api akan segera menutup. Kedua, saya pernah diteriaki oleh pengguna motor yang melawan arus karena saya mengendari motor dengan mepet ke sisi jalan.

Ketiga, saya pernah menegur orang yang lawan arus dan hampir bertabrakan dengan saya, tapi orang itu malah lebih menegur saya. Keempat, saya pernah diteriaki oleh pengendara motor lain di belakang saya entah karena apa, padahal waktu macet dan memang saya tidak bisa menemukan celah untuk melaju. Itu beberapa pengalaman yang pernah saya alami, yang mungkin saja pernah dialami oleh orang banyak lainnya.

Dan yang paling mengerikan sekaligus mengguncangkan hati nurani adalah ketika saya melihat ada satu keluarga yang terdiri dari anak kecil di depan, bapak yang mengemudi, anak kecil lainnya diapit, di bagian belakang ada seorang ibu. Motor dengan empat orang, dan semuanya tidak menggunakan helm, serta parahnya mereka juga tidak jarang melawan arus jalan. Itu sungguh mengerikan.

Entah itu representasi citra dari Homo Sapiens yang seperti apa, apakah Homo Sapiens yang kurang sempurna proses evolusinya, atau apa saya juga belum tahu. Tapi yang jelas, pemandangan seperti tadi cukup sering saya temukan di jalan raya.

Apakah mereka sadar bahwa dengan berkendara membawa anak dengan cara seperti di atas hanya akan melahirkan generasi yang seperti itu juga? Tentu secara tidak sadar anak-anak akan merekam pengalaman itu, dan melakukan itu nantinya (bukan tidak mungkin). Maka langgenglah penyakit di jalan raya di Jakarta.

Besar harapan agar Polantas dapat hadir seperti dokter yang menyembuhkan pasiennya yang sakit; Polantas perlu menyembuhkan sakitnya jalan raya di Jakarta. Polantas harus menyingkirkan penyakit-penyakitnya agar semacet apa pun jalan raya di Jakarta, setidaknya tetap nyaman dan manusiawi, tidak sakit. Karena sudah sepatutnya bahwa jalan raya di Jakarta harus sembuh dari sakitnya.

Jalan raya di Jakarta harus bisa terlihat lebih beradab. Orang-orang di jalan raya di Jakarta perlu untuk meng-upgrade perilakunya di jalan; jangan hanya meng-upgrade jenis kendaraan, tipe kendaraan, dan teknologi lainnya yang menjadi representasi kemajuan.

Sudah waktunya para Polantas bergerilya ke jalan-jalan menindak secara represif orang-orang yang menciptakan ketidaknyamanan di jalan raya; sudah waktunya juga Polantas mengubah citranya di kalangan masyarakat, tidak boleh hanya hadir dalam kegiatan razia saja.