Kekalahan Mesir dalam perang Arab-Israel menjadi puncak kekecewaan rakyat Mesir terhadap pemerintahan yang sedang berlangsung. Terutama pada Raja Farouq yang kian hari menjadi tidak berdaya. 

Di samping itu juga, era pascaperang menjadi momentum di mana rakyat Mesir menolak keberadaan kaum imperialis Inggris di negaranya yang digaungkan secara masif.

Pasca-Pemilu 1950, pemerintah Mesir terus berada dalam tekanan rakyat yang menuntut kemerdekaan penuh. Partai Wafd yang merupakan partai pemenang Pemilu mulai melakukan perundingan terkait tuntutan rakyatnya.

Namun usaha partai Wafd mengalami kebuntuan politik yang menyebabkan dicabutnya perjanjian Inggris-Mesir 1936 oleh pemerintah Mesir. Keputusan ini menyebabkan Inggris mengambil langkah serius untuk mengamankan kepentingan strategisnya dengan mengirimkan pasukannya ke zona Terusan Suez. 

Alhasil, pada Oktober 1952, terjadi penyerangan terhadap tentara dan fasilitas Inggris yang ada di zona Terusan Suez. Penyerangan ini dilancarkan oleh berbagai elemen masyarakat Mesir yang tergabung dalam kelompok fida'iyin (secara bahasa berarti "pejuang yang siap berkorban"). 

Pada Januari 1952, Inggris memutuskan untuk mengerahkan kekuatan militernya dalam menegaskan eksistensi dan kendalinya atas zona Terusan Suez. Demi mengantisipasi gelombang kedua penolakan, pasukan Inggris dengan cepat mengambil alih kantor polisi Mesir di zona Terusan guna mencegah kepolisian dalam memberikan dukungan terhadap kelompok fida'iyin.

Sekitar 1.500 tentara Inggris mengepung kantor gubernur Ismailiyyah dan menuntut agar menyerahkan diri, namun 250 polisi yang menjaga kantor pemerintahan itu menolak untuk menyerah. Dengan tank dan artilerinya, Inggris menggempur polisi Mesir hingga akhirnya menyerah dan menderita korban sebanyak 46 orang tewas dan 72 terluka.

Berita penyerangan tentara Inggris terhadap polisi Mesir menyebar dan memicu kemarahan di seluruh Mesir. Keesokan harinya, Kota Kairo menjadi arena pemogokan massal yang melibatkan puluhan ribu pekerja dan mahasiswa sebagai respons atas tindakan Inggris. Peristiwa ini dikenal dengan Sabtu Hitam.

Anwar Abdul Malik, seorang cendikiawan komunis yang menyaksikan peristiwa Sabtu Hitam, dalam bukunya Egypt: Military Society, menggambarkan bagaimana para demonstran berdiri dan menyaksikan dengan tercengang saat para pelaku membakar daerah pemukiman terkaya di pusat Kota Kairo. 

"Mereka hanya menonton saja karena ibu kota yang indah itu bukan milik mereka, melainkan milik orang kaya. Sehingga mereka membiarkannya begitu saja," kata Anwar.

Peristiwa mengerikan ini menandai akhir dari tatanan politik Mesir. Setidaknya ada tiga kemungkinan dari terjadinya peristiwa Sabtu Hitam ini. Pertama, kaum Sosialis dan Ikhwanul Muslimin yang menjadi dalang sebagaimana tudingan pihak Komunis. 

Kedua, beberapa orang mengira bahwa rencana ini merupakan agenda pelemahan posisi Raja Farouq. Dan yang ketiga, bahwa peristiwa ini direncanakan oleh Raja dan pihak Inggris untuk menggulingkan partai Wafd dan menunjuk pemerintahan sementara yang akan lebih responsif terhadap kebijakan sang Raja. 

pada akhirnya Raja Farouq membubarkan pemerintahan partai Wafd pada 27 Januari dan menunjuk anggota kabinet dipimpin oleh politikus non-partai yang loyal kepada Raja. Kondisi ini menggambarkan bahwa Farouq mengikuti jejak ayahnya yang otoriter.

Dengan hancurnya tatanan politik Mesir pasca kericuhan, menyebabkan stabilitas negara terganggu. Di satu sisi Mesir harus berhadapan dengan rakyat sendiri, di sisi lain masih bersitegang dengan Inggris di zona Terusan Suez. Kepercayaan rakyat terhadap pemerintah Mesir pun langsung anjlok.

Siapakah Perwira Pembebas? Perwira Pembebas adalah sebagian kecil perwira militer yang secara aktif mendalangi rencana penggulingan pemerintahan saat itu. Awalnya Perwira Pembebas bersatu untuk menentang imperialisme Inggris di Mesir. Seiring berjalannya waktu, mereka menganggap sistem politik Mesir sebagai kendala utama untuk mewujudkan kemerdekaan penuh dari Inggris.

Gerakan ini dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser yang merupakan seorang perwira berpangkat kolonel. Nasser dan rekan-rekannya memiliki mimpi buruk di Palestina, di mana mereka dikirim ke medan perang tanpa persenjataan yang memadai dan akhirnya terkepung selama berbulan-bulan dan berhasil dikalahkan.

Setelah perang berakhir, ia merekrut beberapa rekan tepercaya untuk bergabung dalam gerakan yang beranggotakan orang-orang militer. Dia juga merekrut veteran Perang Arab-Israel, seperti Abdul Hakim Amir dan Salah Salim; adapun Anwar Sadat yang memiliki koneksi ke Ikhwanul Muslimin serta Khalid Muhyidin dari pihak komunis. 

Pasca peristiwa Sabtu Hitam, Perwira Pembebas mulai membahas secara terbuka terkait penggulingan Raja Farouq dan pemerintahan royalisnya yang merupakan boneka Inggris dan telah terbukti tidak berdaya di Palestina. 

Eugine Rogan, seorang guru besar sejarah Universitas Oxford, menyebutkan bahwa konfrontasi antara istana dan Perwira Pembebas terjadi saat pemilihan anggota Klub Perwira Mesir. Bagi Farouq, Klub Perwira menjadi barometer loyalitas militer terhadap monarki. 

Nasser dan rekannya meyakinkan Jenderal Muhammad Naguib untuk mencalonkan diri sebagai presiden klub yang memimpin pihak oposisi untuk mengisi dewan direksi. Alhasil, pihak Perwira Pembebas berhasil menyapu bersih pemilihan tersebut.

Pada akhirnya, dengan kemenangan pihak oposisi dalam tubuh Klub Perwira Mesir, pada Juli 1952, Raja Farouq harus turun tangan sendiri untuk memberhentikan Naguib dan membubarkan direksi Klub Perwira. Keputusan Farouq telah memberikan pukulan keras bagi gerakan Perwira Pembebas. 

Naguib dalam memoarnya, Egypt Destiny, menyebutkan, "Kami sepakat bahwa Mesir saat ini sepenuhnya siap untuk revolusi. Oleh karena itu, sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk beraksi."

Revolusi ini berhasil dilancarkan dan nyaris tanpa korban. Pengepungan Markas militer Mesir dan mengatasi perlawanan kecil dalam menduduki fasilitas itu. Setelah berhasil menguasai markas, pasukan kudeta berhasil menduduki titik-titik strategis di Kairo saat warga kota masih terlelap.

Dengan berhasilnya proses kudeta, Anwar Sadat pergi ke stasiun radio nasional dan mengumumkan kudeta atas nama Jenderal Muhammad Naguib. Revolusi ini disambut baik oleh rakyat dan tentara Mesir, karena ia berhasil menyingkirkan kepemimpinan Boneka imperialis.

Rezim Farouq resmi tumbang pada 23 Juli 1952. Para Perwira Pembebas sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan Farouq; menangkapnya atau mengeksekusinya. Dalam persoalan ini, Nasser membuat keputusan yang bijaksana untuk penurunan takhta Farouq dan membiarkannya mengasingkan diri. 

Transisi ini merupakan sebuah tantangan bagi republik yang baru saja berdiri dalam perjuangan melawan imperialisme Inggris yang masih berkuasa atas wilayah Mesir. Usaha-usaha dalam meraih kemerdekaan penuh terus dilakukan guna memenuhi harapan tinggi rakyat yang mendambakan akan kebebasan dari cengkeraman bangsa asing.

Sebagaimana tuntutan rakyat Indonesia pascakemerdekaan, begitu pun Mesir dalam menjalankan pemerintahan barunya tentu akan menasionalisasi perusahaan dan kantor-kantor asing dan mengusir tentara imperialis keluar dari wilayah republik.

Revolusi akan terus terjadi di mana pun dan kapan pun. Oleh karenanya, penting bagi sebuah negara dalam menjaga stabilitas ekonomi sosial dan politik. Loyalitas angkatan bersenjata sangat diperlukan sebagai jaminan keamanan pemerintah dalam menjalankan tugasnya.