Negara Indonesia sudah melewati banyak babak dalam pembagian sejarah, seperti masa prasejarah, masa kerajaan Hindu dan Buddha, masa kerajaan Islam, masa periode 1800-1900, masa periode 1900-1942, dan masa periode 1942-1965.

Dalam pembabakan sejarah tersebut tidak lepas dari adanya penulisan sejarah atau historiografi. Historiografi adalah salah satu metode penelitian sejarah terakhir yang bertujuan untuk menyusun data-data autentik sejarah lalu untuk dijadikan suatu tulisan atau menjadi cerita yang siap untuk dibaca untuk para pembacanya.

Sering kali kita melihat tulisan sejarah yang berbeda sudut pandang. Misalnya, label yang disematkan oleh Belanda untuk Diponegoro yaitu dengan sebutan “pemberontak”, namun berbeda dengan label yang diberikan oleh Indonesia menjadi “pahlawan”.

Menurut Sartono Kartodirjo, historiografi Belandasentris didasarkan pada tradisi studi sejarah kritis, namun masih terfokus pada riwayat tokoh-tokoh yang berkuasa seperti Gubernur Jenderal, raja-raja, panglima, dan sebagainya.

Historiografi Belandasentris juga bisa berupa aktivitas orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia, jalannya Pemerintahan Kolonial, dan mengabaikan aktivitas atau kejadian yang dilakukan oleh masyarakat Pribumi.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, mulai muncul kesadaran akan penulisan sejarah dengan sudut pandang masyarakat Indonesia dengan dilakukannya dekolonisasi sejarah untuk menggantikan buku teks Belanda.

Akan tetapi, dekolonisasi penulisan sejarah yang Indonesiasentris cenderung menjadi regionalisasi. Dalam kasus ini, sejarah Indonesia diisi lebih banyak tentang dinamika sejarah Jawa (Jawasentris).

Jika dilihat dengan saksama, historiografi Indonesiasentris diambil oleh penguasa terhadap sejarah nasional Indonesia dijadikan alat politik untuk mempertahankan atau mendapatkan legitimasi bangsa.

Di antara tidak seimbangnya yang terjadi dalam penulisan sejarah Indonesia serta menggunakan sejarah demi kepentingan suatu kelompok menjadi sinyal bahwa konteks dalam perjalanan historiografi Indonesia telah hilang. Dengan demikian, sejarah menjadi barang antik yang tidak memiliki relevansi dengan persoalan aktual maupun persoalan masa depan yang akan dihadapi bangsa Indonesia.

Tidak hanya itu saja, sejarah kini yang sering kita lihat menjadi “alat pembenar yang hanya mampu berdialog dengan diri sendiri dan takut pada penindasan serta kezaliman politis”. Sejarah seharusnya menjadi kepentingan orang yang hidup masa kini dan di masa yang akan datang, bukan untuk orang yang hidup pada masa lampau.

Historiografi Alternatif bertujuan untuk mengenalkan kepada publik tentang perspektif sejarah yang terabaikan, terlewatkan, atau tidak terlihat. Historiografi ini akan menghasilkan sejarah alternatif, yang mengacu pada sejarah yang dijelaskan dari sudut pandang berbeda, alih-alih dari sudut pandang para imperialis, penakluk, penjajah, dan para golongan yang bersifat “politis”.

Menurut Bambang Purwanto, historiografi Indonesiasentris yang selama ini dianggap menjadi identitas sejarah Indonesia ternyata tidak lebih dari sebuah label yang tidak mempunyai makna yang jelas, kecuali menjadi antitesis dari historiografi Belandasentris.

Dekolonisasi dijadikan prinsip dasar Indonesiasentris sebagai cara pandang masyarakat Indonesia tentang masa lalu, seolah-olah telah membangun suatu wacana sekaligus perspektif yang menjadikan historiografi Indonesia sentris hanya sekadar menjadi tameng pembenaran masa lalu dan sebagai alat penghujat.

Prinsip pemahaman tersebut tidak banyak orang yang mengetahuinya bahwa sejarah Indonesia cenderung anakronis (penempatan tokoh, peristiwa percakapan, dan unsur latar yang tidak sesuai menurut waktu di dalam karya tulisan).

Sebagian dari kita menutup mata bahwa banyak realitas yang dikategorikan sebagai bagian dari kultur kolonial dan menganggap hal itu sebagai bagian dari sejarah Belanda atau sejarah para penjajah yang tidak mempunyai hubungan dengan sejarah Indonesia. Padahal, dalam sebuah proses sejarah, realitas-realitas tersebut sebenarnya merupakan bagian yang tidak akan lepas dari sejarah Indonesia.

Sebaliknya, tradisi itu menanggap realitas-realitas lain sebagai realitas Indonesia hanya karena sebagai masa lalu realitas itu terjadi di Indonesia sebagai sebuah unit geografis. Secara konsep, realitas itu tidak bisa dikategorikan sebagai masa lalu Indonesia.

Prinsip dekolonisasi hanya dapat digunakan untuk merekonstruksi periode dominasi Barat di Indonesia, ternyata dilakukan untuk selain periode tersebut, baik periode sebelum kolonial atau setelah kolonial.

Cara pandang tersebut mengakibatkan berkembangnya histogriografi yang jauh dari tradisi sejarah kritis, namun sebaliknya menjadi historiografi parsial (berhubungan atau merupakan bagian dari keseluruhan) yang penuh dengan muatan politis-ideologis yang menjauhkan dari pandangan keragaman pandangan dalam konstruksi dan pemaknaan terhadap masa lalu.

Dari yang sudah dijelaskan di atas. Apakah tradisi historiografi Indonesiasentris gagal dalam merekonstruksi masa lalu Indonesia? pertanyaan ini sukar untuk dijawab. 

Pada satu sisi, berlebihan rasanya mengatakan bahwa historiografi Indonesia telah gagal secara keseluruhan, karena beberapa tingkat historiografi ini berhasil menghadirkan unsur ke-Indonesian baik sebagai aktor masa lalu maupun perspektif dalam konstruksi dan makna yang dibangun.

Contohnya adalah buku Sejarah Nasional Indonesia terutama pada jilid 6 dan 7. Buku tersebut banyak dikritik oleh para sejarawan karena campur tangan pemerintah yang terlalu dalam.

Namun, mampu menyajikan secara konseptual prinsip keindonesiaan yang dilandasi kaidah keilmuan, seperti periodisasi dan kerangka berpikir teoritik secara konseptual yang dirumuskan secara jelas daripada sekadar menggunakan emosional.

Sama halnya dengan Singgih Tri Sulistiyono namun dengan konsep yang berbeda. Beliau menawarkan konsep historiografi pembebasan. Konsep ini perlu dikembangkan lebih jauh lagi untuk membangkitkan kesadaran historis, aktual, dan sekaligus futural bagi masyarakat Indonesia.

Historiografi pembebasan ini bertujuan untuk membangkitkan semangat bergerak membebaskan diri dari berbagai persoalan yang hingga kini belum terpecahkan. Historiografi ini diharapkan mampu bebaskan cara berpikir masyarakat terhadap masa lalu dari ketidaktahuan, kepalsuan, mitos-mitos, manipulasi, dan kesalahan tafsir akan sejarah sehingga memberikan semangat untuk bertindak menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia berdasarkan akar historis.

Historiografi pembebasan menawarkan untuk membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia yang masih harus berjuang untuk membebaskan dari kemiskinan, ketergantungan, ketidakadilan, penindasan, dan lain-lain. Selama ini, semangat untuk membebaskan diri dari belenggu itu semua begitu lemah.

Hal tersebut disebabkan karena salah atau kurangnya pemahaman masa lampau dan masa kini, bahwa kita sudah merdeka, sudah berkecukupan, berkeadilan, bebas dari belenggu penindasan, dan sebagainya.

Historiografi jenis ini menyangkut akan upaya pemikiran “Bagaimana historiografi mempunyai fungsi yang signifikan dalam memecahkan persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa Indonesia pada saat ini dan mendatang?”

Daftar Pustaka

  • Ahmad, Khalwani. 2018. “Historiografi Kolonial”. Artikel. Jakarta: Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.
  • Purwanto, Bambang. 2005. Menggugat Historiografi Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
  • Rahman, Fadly. 2013. “Sejarah, Bahasa, dan Kekuasaan: Wacana Etnisitas dalam Historiografi Indonesia”. Jurnal. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada.
  • Subekti, Slamet. 2012. “Tinjauan Kritis Terhadap Kecenderungan Historiografi Indonesia Masa Kini”. Jurnal. Semarang: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro.
  • Sulistiyono, Singgih Tri. 2016. “Historiografi Pembebasan: Suatu Alternatif”. Jurnal. Semarang: Universitas Diponegoro.