Mahasiswa
2 tahun lalu · 278 view · 5 menit baca · Filsafat smoke-1162291_960_720.jpg
Foto: Pixabay

Jalan Tasawuf sebagai Terapi Krisis Spiritual

Dewasa ini, semakin majunya perkembangan teknologi dan maraknya globalisasi, sebagian masyarakat modern terlena oleh berbagai arus globalisasi yang tak terbendung lagi, sehingga tidak adanya pemfilteran dalam diri yang kian merasuk hingga ke dalam sendi-sendi kehidupan rohani itu sendiri.

Masyarakat modern juga kebanyakan tengah gencar-gencarnya mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemahaman mengenai keagamaan yang didasari wahyu semakin hilang, dan mereka semakin cenderung untuk mengejar hal-hal yang materi dan gaya hidup secara modern. Sehingga semakin lama semakin menghilangkan peran penting dari keagamaan dan spiritual yang ada didalam diri manusia.

Kemajuan yang terjadi bukan hanya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi saja akan tetapi keranah  sosial, ekonomi, budaya maupun politik juga. Tanpa disadari mereka pada kenyataannya tidak mampu menghadapi tantangan yang ada, sehingga menimbulkan berbagai problem, tekanan psikis, dan munculnya berbagai penyakit hati atau jiwa yang melanda masyarakat modern.

Oleh karenanya itu setiap orang membutuhkan pijakan dan panduan dalam hidupnya untuk menyelesaikan berbagai problemnya dan memunculkan wacana tentang cara atau alternatif untuk mengatasinya dengan berbagai terapi.[1]

Jalan Tasawuf sebagai Terapi Krisis Spiritual

Seorang pengkaji Tasawuf, di samping harus mengetahui ajaran metafisika, juga harus memahami jalan tasawuf, yakni jalan atau cara untuk bisa memperoleh pengetahuan tentang realitas dasar segala sesuatu. Dalam kajian filsafat sendiri jalan tasawuf mirip kajian epistemologi, ilmu yang mengkaji tentang asal-usul, susunan, cara-cara dan sahnya pengetahuan. sebuah cara bagaimana seorang salik mendapatkan pengetahuan spiritual atau pengalaman tasawuf.

Adapun cara yang biasa ditempuh untuk mendapatkan pengetahuan, antara aliran tasawuf biasanya disebut Thariqat yang satu dengan yang lainnya bisa saja memiliki perbedaan, akan tetapi sekalipun caranya berbeda namun tujuannya sama yakni untuk membersihkan jiwa agar mendapatkan pengetahuan tertinggi atau pengalaman tasawuf.[2]

Adapun fungsi tasawuf sebagai suatu terapi krisis spiritual adalah yang pertama bahwa tasawuf secara psikologis, merupakan hasil dari berbagai pengalaman spiritual dan merupakan bentuk dari pengetahuan langsung mengenai realitas-realitas ketuhanan yang cenderung menjadi inovator dalam agama.

Dalam ungkapan William James seorang ahli jiwa Amerika bahwa pengetahuan dari pengalaman tersebut disebut neotic, yakni pengalaman keagamaan tersebut memberikan sugesti dan pemuasan (pemenuhan kebuthan) yang luar biasa bagi pemeluk agama. Kedua bahwa kehadiran Tuhan dalam bentuk pengalaman mistis dapat menimbulkan keyakinan yang sangat kuat.

Perasasaan-perasaan mistik, seperti ma’rifat, ittihat, hulul, mahabbah, uns dan yang lainnya mampu menjadi moral force bagi amal-amal saleh. Dan selanjutnya amal saleh tersebut akan membuahkan pengalaman-pengalaman mistis yang lain dengan lebih tinggi kualitasnya.

Ketiga bahwa dalam tasawuf, hubungan seseorang dengan Allah dijalin atas rasa kecintaan. Allah bagi sufi bukanlah Dzat yang menakutkan, tetapi Dia adalah Dzat yang Sempurna, Indah, Penyanyang dan Pengasih, Kekal, al-Haq, serta selalu hadir kapanpun dan dimanapun. Oleh karena itu, Dia adalah dzat yang paling patut dicintai dan diabdi.

Hubungan yang mesra ini akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang baik, lebih baik bahkan terbaik, adalah inti dari ajaran taubat, di samping itu juga hubungan tersebut dapat menjadi moral kontrol atas penyimpangan-penyimpangan dan berbagai perbuatan tercela. Karena dengan melakukan perbuatan tidak terpuji merupakan suatu hal yang menodai dan mengkhianati makna cinta mistis terhadap Sang Kekasih yang sudah dijalani.

Namun manakala seseorang telah memelihara, membersihkan  dan menghias spirit yang ada di dalam dirinya maka tanpa disadari ia telah melakukan hal-hal yang positif.[3]

Sebagian besar berpendapat bahwa Tasawuf akan mengoreksi ketidakseimbangan psikologis, maka tentu saja di sini Tasawuf memiliki ilmu yang menyembuhkan jiwa. Dalam hal ini seseorang harus menjalani serangkaian disiplin fisik, psikologism dan spiritual serta melakukan praktek-praktek tertentu yang memungkinkan untuk membuat kemajuan menuju jalan kebenaran.[4]

Kebersihan jiwa sangatlah penting bagi seorang salik untuk bisa mendapatkan pengetahuan spiritual. Oleh karena itu jiwa harus dilatih, dibersihkan, disucikan agar tindakan tubuh juga bersih dan baik. Tubuh hanya sebagai pelaku dari apa yang diperintahkan oleh jiwa, kekuatan yang positif (ilahi) dan kekuatan yang negatif keduanya berada dalam level psikis manusia.

Bila keadaan jiwa suci maka secara otomatis keadaan jasmani pun akan sesuai dengan keadaan jiwa. Ketika jiwa benar-benar dalam keadaan suci maka jiwa tersebut seperti bayang-bayang Tuhan. ketika jiwa mampu menangkap bayang-bayang Tuhan maka disaat seperti itulah seseorang telah mencapai pengalaman rohani (pengalaman spiritual/tasawuf).[5]

Prinsip dasar tasawuf dalam dunia Islam adalah menyoal ketauhidan, oleh karena itu segala manifestaso harus mencerminkan sifat tauhid (sifat mengesakan asal usul segala sesuatu yaitu Tuhan). Prinsip-prinsip tauhid ini harus tercermin dalm metode dan praktik-praktik tasawuf. Artinya, metode dan praktik-praktik tasawuf yang digunakan sebagai cara untuk memperoleh pengetahuan menuju jalan kebenaran serta pengalaman spiritual yang tinggi.

Kontemplasi dalam spiritualitas Islam merupakan sebuah pengetahuan yang menghubungkan seorang pencari kebenaran dengan Dzat Tuhan. Kontemplasi sama dengan shuhud (penglihatan), ta’amul (melihat dengan penuh perhatian), tafakur (meditasi) kontemplasi tersebut dipadukan dengan pengertian aksi. Perpaduan dorongan batin kontemplasi dengan aksi menimbulkan kehidupan kontemplasi yang intensif.

Kontemplasi juga bisa dilakukan dengan melalui aktivitas berdoa dan berdzikir yang khusyuk (fokus), sehingga antara seorang yang berzikir dengan Allah bisa menyatu.[6]

Keingkaran kepada Allah bisa terjadi karena kerusakan pada jiwa bukan pada jasmani, jasmani hanya berfungsi sebagai instrumen dan pelayan bagi kehendak jiwa. Oleh karena itu, jiwaah harus dilatih , dbersihkan sedemikian rupa agar kegiatan jasmani pun baik. Kekuatan ilahi dan kekuatan kejahatan keduanya berada pada level psikis. [7]

Mengikuti jalan tasawuf adalah mematikan nafsu kedirian secara berangsur-angsur dan menjadi Diri yang sebenarnya, agar memperoleh kelahiran baru dan selalu menyadari bagaimana keadaan seseorang yang berasal dari keabadian (azal) namun tak pernah melaksanakan hal itu sebelum terjadi perubahan pada dirinya.[8]

Oleh karena itu tasawuf serupa dengan nafas yang memberikan hidup pada tubuh, ia telah memberikan semangatnya kepada seluruh struktur Islam baik dalam perwujudan sosial maupun intelektualnya.

Tarekat-tarekat sufi, sebagai badan-badan yang tersusun dengan baik di dalam kandungan besar masyarakat Islam, mempunyai pengaruh yang kuat dan mendalam atas seluruh struktur masyarakat, walaupun fungsi utama mereka adalah untuk memelihara disiplin kerohanian dan menyebarkan ajaran kerohanian dari generasi ke generasi.[9] Sehingga di sini tasawuf hadir dalam berbagai methodenya dalam menghadapi tantangan yang dialami oleh manusia modern masa kini.

Peranan metode kerohanian dalam pengetahuan manusia adalah sesuatu yang hakiki, oleh karena hanya melalui Kehadiran Tuhan dan barakah yang terkandung dalam metode-metode tasawuf dan hanya dengan kembali ke sumber ajaran Alquran sendirilah semua unsur yang tercerai berai dalam diri manusia dapat diperpadukan secara bersama-sama.[10]

[1] Tamami HAG, Psikologi Tasawuf, (Bandung:Pustaka Setia, Cet 1 2011), hal 79

[2] Siti Fatimah, Epistemologi Tasawuf, (Cirebon:NurjatiPres, 2013), hlm 124

[3] Prof. Dr. Simuh Dkk, Tasawuf dan Kritis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm 24-25

[4] Sayyed Husain Nasr, The Garden Of Truth : Mereguk Sari Tasawuf, trj (Bandung: Mizan Pustaka 2010), hlm 148

[5] Siti Fatimah, Epistemologi Tasawuf, (Cirebon:NurjatiPres, 2013), hlm 124

[6] Ibid, hlm 125

[7] Ibid, hlm 126

[8] Sayyid Husein Nasr, Tasauf Dulu dan Sekarang, terj (Jakarta: Pustaka Firdaus Cet 1 1985) hlm 9

[9] Sayyid Husein Nasr, Tasauf Dulu dan Sekarang, terj (Jakarta: Pustaka Firdaus Cet 1 1985) hlm 11

[10] Sayyid Husein Nasr, Tasauf Dulu dan Sekarang, terj (Jakarta: Pustaka Firdaus Cet 1 1985) hlm 51