Sesaat setelah titah sang Prabu Harjuna Sasrabahu diterima oleh Sumantri, tetiba saja langit menjadi gulita, bergemuruh seolah akan runtuh. Bumi pun gonjang-ganjing memantik prahara jiwanya.

Jauh akan lebih dipilihnya maju sendiri berlaga di medan yudha menghadang seribu musuh, menerjang tajamnya senjata pedang dan derasnya anak panah daripada harus menerima titah itu.

Sungguh, ia akan lebih memilih daging dan tulangnya lebur dilumat ganasnya dahana kawah Candradimuka Kahyangan, sebagai penggugur kewajibannya menjalankan titah sang titisan Wisnu.

Namun apalah daya? titah sang Prabu sudah ia sematkan jauh di dalam dadanya dan ditempatkannya di atas janji prasetya. Titah sang Prabu adalah kehormatannya sebagai seorang kesatria. Kepala boleh saja lepas dari tubuh, tapi tidak dengan sebuah titah junjungan.

Tugas yang diemban Sumantri dan harus dilaksanakan sepenuh hati adalah membinasakan sosok raksasa bajang yang berada di tengah-tengah taman Sriwedari. Sumantri tahu bahwa sosok yang dimaksud sang Prabu tersebut adalah adiknya, Sukasrana.

Sesaat setelah memboyong taman Sriwedari dari Kahyangan Bathara Wisnu, Sukasrana yang sakti mandraguna itu ingin istirahat sejenak di tengah taman. Namun tidak disangka, sang Dewi Citrawati, permaisuri sang Prabu, yang melihat keberadaan Sukasrana di taman, menjadi sangat takut melihat sosok Sukasrana yang memang menyeramkan itu. 

Tak ayal lagi, sang Prabu pun langsung memerintahkan Sumantri yang baru saja diangkat menjadi Senopati Maespati, bergelar Patih Suwanda, untuk memberangus raksasa yang mengganggu sang dewi.

Sumantri seperti berada di tengah-tengah samudera tak bertepi. Dihempas badai dan diombang-ambingkan hingga ditenggelamkan ke dasar samudera ketika menerima titah tersebut. Selama ini, atas bantuan Sukasrana lah ia bisa diterima kembali nyuwita pada sang Prabu. Tanpa kesaktian Sukasrana yang mampu muter taman Sriwedari tanpa kurang satu apapun, Sumantri tidak mungkin mendapat kepercayaan lagi dari sang Prabu karena kesalahannya dahulu yang berani menantang kadigdayan rajanya.

Ingin saja ia menukar titah itu dengan nyawanya. Tapi, ah ... Sukasrana, apakah harus dengan cara ini kita terpisah, lirih Sumantri dalam hatinya.

“Kakang...”.

“Kakang Sumantri !”

Sumantri terhenyak oleh suara yang memanggilnya itu. Ia melihat ke semua penjuru mata angin. Lalu menundukkan wajah memasang prana mencari sumber suara. Ia kenal betul suara itu. Pemilik suara cadel itu tiada lain adalah suara adiknya, Sukasrana. Dengan mendengarnya saja, Sumantri seolah dihembus kedamaian yang menelusup hingga relung hatinya.

“Sukasrana, kaukah itu?” Sumantri menyahut dengan perasaan yang gamang dan gelisah.

“Sukasrana...” Sumantri kembali memanggil.  

“Sukasrana, tak pantaskah kakangmu ini menjumpaimu hingga kau tak tampakkan diri wahai adikku?” suara Sumantri mengiba namun tetap berwibawa.

Sejenak tidak terdengar sahutan. Sepi.

Sumantri semakin nampak gundah. Sebenarnya ia ingin menceritakan perihal titah junjungannya, sang Prabu Harjuna Sasrabahu, pada adiknya itu. Seolah bisa membaca keadaan, Sukasrana pun muncul di hadapan kakangnya.

“Kakang Sumantri...”

”Sukasrana...sekarang juga bunuhlah kakangmu ini, bunuhlah aku Sukasrana.” Sumantri mendekap tubuh Sukasrana. Aura kesedihan yang mendalam menggelayut di mata Sumantri, gerimis pun tumpah.

“Sukasrana, haruskah dengan cara seperti ini lakon persaudaraan kita? Bagaimana aku akan berani menghadap bopo Resi Suwandagni kelak jika saat ini titah sang Prabu kupenuhi”.

“Kakang...” Roman Sukasrana berubah serius. “Apakah ada hal yang lebih diutamakan daripada titah sang titisan Wisnu di arcapada?”

Sumantri Diam seketika.

“Bukankah kakang ini seorang prajurit pinunjul? seorang Patih pilih tanding negara Maespati ini?”

“Sukasrana, bagaimanapun unggulnya seorang Patih, ia juga tidak bisa lepas dari hati nuraninya. Apakah ia harus selalu menjalankan perintah junjungannya?”

“Harus kakang, jika tidak ia akan mencederai jiwa kesatria-nya.”

“Apapun itu wahai Sukasrana?”

“Apapun itu kakang.”

“Termasuk jika harus mengorbankan saudaranya sendiri?”

“Aku rela kakang.” Jawab Sukasrana tegas. Sumantri seketika tertunduk tanpa daya.

“Sukasrana adikku, jika titah sang Prabu sama artinya dengan nyawaku, aku juga rela mati sebagai ganti kewajibanku sebagai seorang kesatria. Tidak mungkin aku tega membunuh saudaraku dengan tanganku sendiri. Aku bisa mukti wibawa di Maespati ini juga berkat bantuanmu Sukasrana. Jika bukan kau yang memindah taman Sriwedari dari Kahyangan ke Kaputren, niscaya aku tidak mungkin berada di Maespati ini lagi. Maka betapa dosaku tidak akan terampuni jika harus...”  

“Tidak kakang, semua kesatria niscaya akan menempuh jalannya masing-masing. Mungkin dewata berkehendak jika jalan kasatrian kakang adalah dengan mengantarku kembali ke nirwana. Jika itu sudah menjadi titah sang Prabu, lakukanlah kakang! Aku rela menjadi perantara jalan pengabdian kakang sebagai seorang kesatria.” 

Sukasrana tampak berseri-seri. Lalu memeluk Sumantri yang masih tertunduk tiada daya. Keris Sumantri direnggutnya dan dihunuskannya ke dadanya sendiri. 

“Selamat tinggal kakang Sumantri, adikmu Sukasrana ini selalu merindukanmu, aku akan  tunggu kakang di alam yang lebih kekal. Di sanalah kita akan bersua kembali. Di saat kakang menghadapi musuh yang bertaring sepertiku, saat itulah aku datang menjemput ya kakang.”

Betapa terkejutnya Sumantri. Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap. Sumantri seperti tersambar petir batin dan jiwanya. Ia tersungkur seketika. Sunyi. Sesunyi jalan Sukasrana menuju alam yang lebih abadi.