“Untuk sukses, sikap dan optimis sama pentingnya dengan kemampuan," begitulah ujar seorang tokoh yang kata-katanya saya temui di salah satu artikel di internet. 

Quotes dan kata-kata motivasi yang mengagungkan sikap optimis mungkin sudah biasa kita baca dan temui.  Entah itu di dinding kelas saat sekolah menengah, di sosial media yang kita miliki, bahkan stiker-tiker yang kerap kali dijual di toko online.

Seolah-olah masa depan terbuka selebar-lebarnya dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang berpikiran optimis.  "Optimisme adalah langkah awal menuju kesuksesan! sederet ucapan klise yang rasanya sudah biasa kita dengar untuk memotivasi seseorang yang sedang tak bergairah akan kehidupan.  

Lantas bagaimana nasib para pesimis? Orang-orang yang berpikiran pesimis dan selalu memandang kehidupan dari sisi negatifnya, kerap kali disandingkan dengan kata “calon orang gagal”.  Orang yang masa depannya suram.  

Oleh sebab itulah para motivator, entah itu motivator handal, amatiran, hingga kawan yang menjelma menjadi motivator dalam satu malam, biasanya sedikit memotivasi orang-orang pesimis untuk membuang jauh-jauh sikapnya.  

Kata-kata sejenis ini mungkin kerap kali kita dengar dari orang-orang sejenis mereka.  “Sikap pesimis jelas-jelas harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan karena kesuksesan hanya dapat dicapai dengan sikap optimis”.

Namun, benarkah begitu ? Benarkah pesimisme mengantar kita pada kegagalan, sedang optimisme membantu kita mencapai keberhasilan?  

Nyatanya gak selalu tuh.  Buktinya saya sendiri pernah mengalaminya.  Awalnya saya termasuk jajaran orang yang menganggap pentingnya sikap optimis dalam menjalani kehidupan.  Menganggap bahwa kesuksesan hanya dimiliki oleh orang-orang yang berpikiran optimis. 

Dengan pandangan hidup yang saya ambil itu, maka wajar saja jika teman-teman mengenal saya sebagai sang optimis.  Walau sebenarnya sikap optimis saya merupakan sikap optimis yang dipaksakan. 

Kalau diingat-ingat sikap pesimis saya bertindak jauh lebih natural dibanding sikap optimis saya.  Faktanya, saya pengeluh tingkat akut, senang melihat sisi negatif dari kehidupan, dan hobi membuat list kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Namun saya berusaha untuk membuang jauh-jauh sikap pesimis saya dan menggantinya dengan semangat optimisme.  Yahh, habisnya mau bagaimana lagi? Jika saya berpikiran pesimis, seperti kata quotes-quotes yang kerap kali saya temui, saya bakal jadi orang gagal yang memiliki masa depan suram.

Hingga suatu hari, saya satu tim penugasan dengan teman saya.  Sebut saja namanya Wati (bukan nama sebenarnya).  Wati bukan tipikal orang yang optimis. Dia lebih senang melihat kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa yang akan datang. 

Begitupun saat kami mengerjakan tugas bersama.  Di saat saya “memaksakan” berpikiran optimis.  Berpikir bahwa proyek yang kami rencanakan pasti berhasil, Wati justru berpikir sebaliknya.

Ia berpikir bahwa proyek yang kami rencanakan akan mengalami kegagalan. Sehingga ia membuat beberapa rencana lain.  Rencana B, C, dan D.  Bukan hanya mengandalkan satu rencana saja. 

Pada awalnya saya agak kesal dengan jalan pikir Wati.  Kok, bisa-bisanya berpikir negatif begitu akan hasil karya sendiri? Mau jadi apa nanti proyek kami? Dengan membuat rencana cadangan sama artinya Wati tak benar-benar percaya bahwa proyek utama kami akan berhasil.   

Nyatanya, benar saja apa yang dipikirkan Wati.  Proyek utama yang kami rencanakan gagal total.  Kegagalan tersebut dapat terjadi karena kurangnya alat dan bahan, dikejar tenggat, dan proyek kami yang terkesan utopis untuk anak sekolahan.  

Untunglah Wati sudah menyiapkan banyak rencana cadangan.  Sehingga meski proyek utama kami gagal, nilai ujian praktik kami terselematkan.  Dengan menjalankan rencana B yang telah dipersiapkan Wati sebelumnya. 

Dari Wati saya belajar, bahwa tak selamanya berpikir optimis itu mendatangkan kesuksesan dan tak selamanya juga berpikir pesimis mendatangkan kegagalan.

Kisah Wati di atas justru membuktikan sebaliknya.  Bahwa sikap pesimis-lah yang mendatangkan kesuksesan.  Nilai proyek kami terselamatkan karena sikap pesimis Wati.

Bayangkan jika saya dan Wati sama-sama berpikiran optimis.  Sudah pasti kami akan shock menghadapi kegagalan proyek kami, karena kami tak menyiapkan rencana apa-apa.  Hal ini membuktikan, bahwa dalam beberapa kasus sikap pesimis diperlukan. 

Kisah saya ini sejalan dengan pola pikir pesimis defensif yang dikembangkan para ahli.  Pola pikir ini menjadikan sikap pesimis sebagai suatu hal yang menguntungkan dan berfungsi untuk menunjang kesuksesan bukan malah dijadikan sebagai penghalang.

Orang yang memiliki pola pikir pesimis defensif cenderung melihat suatu hal dari kemungkinan terburuknya, sehingga mereka sudah siap jika hal itu benar-benar terjadi.  Entah itu secara mental ataupun rencana. 

Seorang pesimis defensif sudah menyiapkan berbagai plan dan rancangan apabila rencana pertama gagal.

Berbeda dengan orang optimis yang kerap kali melihat segala sesuatu dari sisi baik kehidupan.  Mereka akan berpikir bahwa sesuatu akan berjalan sesuai rencana.  Sehingga mereka cenderung kurang siap dan shock ketika hasil yang mereka dapatkan tak sesuai dengan harapan mereka. 

Di sini bukan berarti saya hendak menjatuhkan orang-orang optimis dan mengagungkan para pesimis.  Saya hanya ingin menekankan bahwa sikap pesimis pun diperlukan dalam mencapai keberhasilan dan menjalani kehidupan. 

Pemikiran optimis dan pesimis bak yin dan yang harus berjalan seimbang. Dengan seimbangnya dua unsur tersebut dalam diri seorang, maka kesuksesan di masa mendatang dapat ia wujudkan.