Ketika pergi menjenguk orang tua, kami melewati jalan yang penuh lubang. Waktu tempuh jadi dua kali lipatnya. Sering kelelahan di saat memilih atau bergantian melewati jalan yang rata. Tak jarang marah dan ngedumel  dalam hati. Saya marah kepada truk-truk besar yang overload dan pemerintah yang lamban memperbaiki jalan.

Jalan berlubang adalah keadaan yang sering dijumpai di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Banyak sebabnya. Karena kontur tanah yang labil, kualitas jalan yang kurang baik atau kendaraan dengan muatan berlebih. Sebab-sebab itu kadang “berkomplot” membuat keadaan jalan-jalan raya kita menjadi makin rusak parah.  Dan lubang yang dalam dan lebar menjelma.

Mirisnya, jalan-jalan rusak itu, dibiarkan rusak dalam kurung waktu yang lama. Berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.  Keadaan tersebut tentu mempengaruhi mobilitas, ekonomi dan juga kejiwaan masyarakat yang menggunakannya. Masyarakat terpaksa harus membiasakan diri dengan keadaan tersebut.

Siapa yang tidak jengkel dan marah berhadapan dengan realitas di atas. Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh satu jam, menjadi berjam-jam. Jika musim hujan tiba, keadaan makin sulit.  Karena lubang tertutup air, pengendara bisa terjebak lubang atau terjatuh.

Semua itu, dapat menjadi sarana di mana manusia belajar sesuatu. Daripada sekedar marah dan mengutuki keadaan yang tidak berubah, lebih baik kita belajar dari keadaan itu. Bisakah kita belajar dari jalan rusak? Ya bisa, jika kita mau.  

Belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja. Manusia belajar dari sesamanya. Bagaimana manusia berterima kasih, marah, senang atau sedih. Manusia dapat belajar dari alam. Dari air, angin, pohon, sungai dan gunung. 

Manusia dapat belajar dari peristiwa pernikahan, kelahiran, kematian, musibah atau kecelakaan. Manusia juga dapat belajar dari realitas di sekitarnya, dari lingkungan yang kumuh, jembatan ambruk, sulitnya air bersih atau jalan raya yang penuh lubang.

Hidup itu belajar sepanjang jalan.  Dalam relasi dengan orang lain mereka belajar tentang keunikan setiap pribadi. Dari musim yang terganti, malam berganti siang manusia belajar tentang keteraturan kehidupan. Sesuatu yang teratur dan tidak bisa dikontrolnya. 

Selanjutnya, ketika pohon banyak yang mati dan air menjadi sulit didapatkan, manusia belajar pentingnya keduanya bagi kehidupan. Ketika terjadi bencana karena ulah manusia, hal itu mengajari manusia untuk tidak hidup seenaknya.  

Intinya, manusia sebenarnya disuguhi oleh semesta dan apa saja di dalamnya untuk belajar. Manusia bodoh adalah manusia yang tak mau belajar. Bukan tidak ada sarananya. Kebodohan manusia tidak berhubungan dengan ‘bangku sekolah’. Kebodohan identik dengan keengganan untuk belajar.

Di manapun dan kapan pun manusia harus belajar. Manusia harus menjadikan realitas sekelilingnya menjadi “ruang kelas” di mana kehidupan dibentuk. Dalam realitas jalan rusak pun dapat menjadi sarana kita belajar banyak hal, terutama bagi jiwa kita.

Jiwa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai keseluruhan kehidupan batin manusia; perasaan, pikiran, agan-agan dan sebagainya. Nah  apa dan bagaimana kita belajar dari jalan berlubang itu dan perjalanan di atasnya? Mari kita mulai.

Pertama, kita belajar untuk sabar. Sabar memilih jalan mana yang bisa dilewati. Sabar ketika orang lain menggunakan jalur kita yang kondisinya baik.  Sabar ketika mobil yang habis dicuci menjadi sangat kotor karena debu tanah atau lumpur. Berdasarkan pengalaman, hal tersebut  cukup menguras kesabaran saya sebagai pengendara.

Kedua, belajar mendahulukan orang lain. Ketika jalur kita rata,  kemudian kita mengizinkan orang dari arah berlawanan lewat lebih dulu. Hal ini tidak mudah. Apalagi ketika kita buru-buru atau banyak kendaraan di depan kita yang akan lewat.

Di atas jalan yang rusak, kita  bisa merenung tentang adanya orang-orang egois. Mereka memuati mobil secara berlebihan dan yang mengurangi kualitas dari jalan tersebut. Mereka untung tapi menyengsarakan orang banyak. Dari situ kita belajar untuk tidak egois seperti mereka. Tidak ingin tindakan kita menyusahkan orang lain.

Ketiga, belajar untuk mengeluarkan kata-kata positif. Dalam keadaan tersebut, akan sangat mudah menyalahkan atau mengomel. Yaitu mengeluarkan kata-kata makian atau sumpah serapah. Kata-kata positif dan ungkapan syukur akan mencegah kita mengeluh atau memaki dan seterusnya. Daripada mengutuki lebih baik memberkati.

Keempat,  belajar untuk diri sendiri dan mengenal orang di samping kita. Hal itu saya lakukan ketika perjalanan berjalan lambat. Saya mengobrol ini dan itu, ke sana kemari dengan istri dan anak-anak. Sambil menunggu orang lain lewat di jalur kita, kita bisa sambil ngobrol dan bercanda. Bukankah dengan mengenal orang lain, kita juga dapat lebih baik mengenal diri sendiri? Ya.

Jack Ma mengajari orang yang ingin sukses untuk belajar dari kegagalan orang lain. Bukan keberhasilannya. Sama dengan jalan, terkadang jalan rusak dapat menjadi sarana lebih komplit untuk mendidik jiwa kita.

Di sini bukan mengajak kita untuk bersikap apatis dan tidak kritis. Kita harus tetap bersuara tentang keadaan yang tidak seharusnya. Kritis terhadap suatu realitas bukan berarti kita hidup dalam kemarahan, omelan, makian dan seterusnya. Sikap kritis dan kritik kita  tetap sampaikan dengan santun dan elegan.

Namun, di saat keadaan belum berubah, mari kita jadikan keadaan buruk sekalipun sebagai sarana memperbaiki pribadi kita. Mendidik jiwa kita untuk lebih sabar, peduli, positif, dan mengenal diri sendiri serta orang lain. Jadi ketika keadaan di sekeliling tidak bisa diubah, maka sikap kita yang berubah.