2 tahun lalu · 290 view · 2 menit baca · Cerpen images_26_0.jpg

Jalan Pertapaan Seorang Pelayan Peradaban

Hari ini hari terakhirku di desa ini. Sudah sejak beberapa hari lalu aku menghabiskan waktuku di sini. Titik yang lumayan jauh terpinggirkan dari Ibu Kota. Aku memilih kampung ini sebagai tempat persemedianku bukan karena aku sering ke sini. Aku baru satu kali mengunjunginya. Hanya satu kali. Itu pun di malam hari. Dan esoknya aku kembali lagi, ke Jakarta.

Tapi entah mengapa, rencana yang tertunda berbulan-bulan lamanya baru kesampaian saat ini. Dan anehnya, akalku tergerak untuk memilih tempat ini, tempat yang sangat asing bagiku.

Persemedianku jangan kau tafsirkan layaknya seorang yang sedang bertapa, memegang tasbih dengan mulut komat kamit. Atau seperti seorang biksu yang bersilah tanpa makan dan minum.

Semediku hanyalah kiasan. Untuk menggambarkan suatu cara melakukan perjalanan dalam kesunyian, sendiri dalam keheningan. Menghabiskan malam suntuk dalam perenungan.

Terkadang aku memang melakukannya. Aku sadar, dan aku tahu bahwa jalannya para pejuang adalah jalan kesepian. Di mana terkadang ia berjalan dengan beratus bahkan berjuta manusia. Tapi dalam hatinya, ia sebatang kara.

Bersemedi adalah suatu proses rangkaian evaluasi, intropeksi dan proyeksi diri sendiri. Ibarat mesin, kita hanya mampu me-refresh agar kembali segar dan fokus dalam perjuangan. Dan bukankah setiap pejuang melakukannya?

Begitupula aku. Aku ingin sejenak menjauh dari hiruk pikuk ibu kota dengan segala riak-riak sandiwaranya yang membosankan. Melepas kepenatan. Dan mengaharap kasih sayang Tuhan Yang Maha Penyayang.

Aku ingin sesaat saja menghabiskan waktuku sendiri. Mencurahkan segalanya kepada sepi. Tentang hati yang resahnya setengah mati. Dalam pengharapan rida dan ampunan Sang Ilahi.

Maka kemudian jalan pertapaanku bukan jalan kebanyakan. Yang duduk dalam gua. Atau di gunung-gunung. Dalam hutan di bawah air terjun yang menjulang.

Jalan pertapaanku adalah jalan memasuki jiwa kehidupan semesta. Dengan melihat segalanya dari sisi yang berbeda. Tanpa ada dusta antara aku dan alam semesta.

Jalan pertapaanku adalah suatu proses memasuki kalbuku sendiri. Mengenal siapa aku. Apakah aku masih sama seperti yang dulu. Ataukah aku telah sedemikian menjelma mengikut jiwa hewaniah atau nabatiah yang bersemayam dalam jiwaku, dan mematikan potensi kemanusiaanku.

Jalan pertapaanku adalah jalan melihat wajah Indonesia bukan dari atas bangunan megah menjulang raksasa. Bukan pula dari atas kasur yang empuk dengan pendingin ruangan yang sejuk. Bukan juga melalui makanan enak santapan para bangsawan, raja-raja dan aristokrat. Melainkan lewat senyuman tipis setiap wajah keriput yang aku saksikan. Lewat teriakan anak kecil yang berlari bermain bahagia penuh suka ria.

Atau lewat nyanyian burung yang terbang bebas di angkasa. Atau tetesan hujan yang turun dari langit, membasahi dedauanan, dan akhirnya jatuh dan mengendap ke bumi.

Pertapaanku adalah jalan mencari separuh jiwaku yang sedang menunggu di balik pintu kerinduan. Yang sedari kemarin lalu dan lalunya lagi mengetuk-ngetuk seraya memanggil dengan nadanya yang lirih.

"Abang, bukalah hatimu untukku."

Aku tidak segera membukanya. Sengaja aku membiarkannya. Aku ingin terus mendengar suara merdumu terus memanggil-manggil namaku. Supaya aku bisa memastikan, bahwa itu benar-benar dirimu, Purnamaku.

Aku mulai menyadari, bahwa jalannya seorang Pelayan Peradaban adalah jalan yang teramat sulit. Jalan yang terjal penuh liku dan luka. Jalan di mana kesepian adalah temannya sehari-hari. Jalan di mana ia akan terasing dari segala kesenangan yang biasanya menganggu dirinya.

Jalan Pelayan Peradaban adalah jalan pengharapan tiada henti. Penghambaan tiada mati. Dan perjuangan yang tak pernah berakhir. Dan di tengah-tengah semua itu, maka hatiku akan tergerak untuk kadang kala menjauh dari keramaian, kebisingan dan kebohongan dunia.

Aku ingin berkelana dan menyelami dalamnya samudera hati. Berbicara dengan diri sendiri. Sudah sampai di mana ia terpatri. Aku ingin mencurahkan segalanya kepada malam, kepada alam, sambil menengadahkan tangan dalam munajah pengharapan. Bahwa aku adalah manusia kecil sekecil-kecilnya dan butuh genggaman Tuhan Pemilik Alam Semesta. Itu saja.

Artikel Terkait