Konon, kami dikutuk untuk hidup di bumi ini. Aku yakin kutukan sejatinya bukanlah hidup di bumi itu sendiri. Kalau iya, maka seluruh organisme di sini pun terkutuk. Apa mungkin kucing-kucing manis ini pun korban dari pertempuran di surga?

Dengan berbekal rasa penasaran, sang angan terbang menembus ruang dan waktu, menerobos sampah-sampah pornografi yang memenuhi memori, mengarungi luasnya samudra absurditas, tanpa memedulikan teriakan keputusasaan yang terus menghantui sepanjang perjalanan. 

Tertidur 

Tampaknya perhatiannya teralihkan oleh nyanyian merdu yang menerobos dimensi, membuatnya mengesampingkan tujuan awalnya. Sang angan pun memutar haluan dengan penuh antusias, matanya menari-nari berusaha mengidentifikasi warna-warni coretan hayal yang dilalui, demi menemukan lantunan yang memikat hasratnya. 

Seekor kucing manis dengan bulu berwarna hitam, corak putih di lehernya membuatnya terlihat seolah sedang memakai dasi. Menunggu hari berlalu dengan nyanyian penuh harapan. Mimpinya memberi energi pada syairnya, menghanyutkan angan yang lelah dengan perjalanan lintas dimensi. 

Sang angan hanyut bagai daun yang jatuh di sungai, mengikuti sungai keruh yang dipenuhi sampah ibukota, mengalir seperti seharusnya. Sementara ia sedang tenggelam dalam lantunan penuh harapan, rangkaian syair melintas, mengusik kedamaian semu sang angan;

Konon, seniman adalah wujud dari kebebasan. Apa dia benar-benar bebas dari hasrat yang menjerat? Demi kehidupan yang harus terus berlangsung, seniman berkarya mengikuti selera mayoritas yang tidak membutuhkan pencernaan, layaknya tanah pembuangan yang menerima sampah dengan lapang dada. Kemudian seni pun telanjang, melecehkan dirinya didepan publik. 

Tidak masalah, publik suka pelecehan. Sementara seni yang sejati sedang mengambang jauh dari cakrawala manusia umum, di mana hanya segelintir pula yang gemar dan mampu mengaguminya.

Baca Juga: Sang Dewi

Bangun

Ia terbangun dari khayalan kekanak-kanakannya. Ia sadar tiada lagi kucing yang bernyanyi di situ. 

Mungkin aroma ikan segar membungkam nyanyiannya, atau mungkin dia memang tidak merasa nyaman lagi di situ, lalu pergi mencari tempat yang tepat untuk bernyanyi. Atau mungkin si kucing hanyalah jelmaan dari keputusasaan yang terus merayunya sepanjang perjalanan.

Sinar matahari menerobos pepohonan, mengintip dari sela-sela pegunungan berkabut. Cahayanya memecah dinginnya pagi yang memberi beban tambahan pada mata-mata yang belum sepenuhnya terbuka. 

Rangkaian kalimat sebelumnya bagai wahyu yang diantarkan Jibril. Segala macam jelmaan keputusasaan yang merayunya dari berbagai arah makin terasa hambar.

Mengapa pagi begitu membosankan? Apakah aku terkutuk untuk bermunafik ria di tengah teriknya matahari jam 12 tepat? Malam pun tak begitu membantu, tapi dia cukup setia dan menghangatkan.

Rangkaian kalimat yang terus melintas tampaknya tidak memberi jawaban yang memuaskan. Jiwa mudanya yang penuh dengan rasa penasaran terus melahirkan pertanyaan baru. 

Namun itu tidak membuatnya menyerah. Tiap kalimat yang hadir bagai jejak kaki di tengah hutan belantara, dan pertanyaan yang terus mempertanyakannya makin merangsang rasa penasarannya yang tinggi. 

Kini ia benar-benar berada di tengah hutan belantara, dan ia pun menemukan jejak kaki di situ. Di ujung pandangannya terlihat api unggun, di mana jejak kaki itu berakhir pula. 

Menjadi seniman pada waktu itu sangatlah sulit. Selain tekanan dari orang tua yang menganggap pekerjaanku tidak produktif, mungkin karena pemasarannya yang cukup rumit dan buang tenaga. Pada masa kini, yang menguras tenaga adalah memikirkan bagaimana caranya karya seni itu menjadi lebih mudah dicerna atau tidak sama sekali.

Seniman tua itu duduk bersila menatap api unggun, tatapan penuh harapan yang mengingatkannya pada nyanyian merdu si kucing hitam. Ia disambut dengan pernyataan yang kembali menimbulkan pertanyaan. Kepalanya seakan penuh sesak dengan pertanyaan. 

Sebelum hutan belantara dalam kepalanya ini musnah, ia sempat menuliskan ungkapan pak tua tadi dalam khayalnya; 

Letak keindahannya ada pada selimutnya yang menutupi realitas. Namun ketika seni menjadi komoditas, dia terpaksa harus menuruti selera umum. 

Lebih buruk lagi, selera umum kini bagaikan tanah pembuangan, yang menerima sampah dengan lapang dada. Kemudian seni pun melecehkan dirinya sendiri di depan publik. 

Tapi, sekali lagi, itu tidak masalah, publik suka pelecehan. Tidak ada yang salah, seniman juga manusia yang memiliki hasrat yang mengikat. Hidup di dunia di mana hasrat dimonopoli demi kepentingan pribadi memaksa seni melacurkan dirinya. Tunggu, mungkin kesalahannya ada pada..... "

Ingatan itu buyar seketika, ada sesuatu yang membuatnya kehilangan konsentrasi.

Putus Asa dan Harapan Baru

Nyanyian itu datang lagi, namun sedikit lebih kasar hingga memecah konsentrasinya. 

Tak perlu waktu lama untuk menemukannya. Kali ini si kucing tampak lebih dewasa. Nyanyiannya penuh energi liar, menyerang daya khayalnya yang sarat akan harapan. Menimbulkan keraguan yang terus menghantuinya. 

Apa arti semua ini? Cahaya mentari bukan esensi dari kebahagiaan, hadirnya tak memadamkan pertanyaan yang menghujam. Pertanyaan yang terus melahirkan pertanyaan baru. Sampai kapan?

Nyanyian liar mengantarkan angan melesat jauh ke jantung kesadaran. Dengan penuh kepercayaan diri, ia terbang menuju realitas yang penuh warna; warna-warni ego. 

Panasnya bukan kepalang. Rasanya ingin kuhitamkan saja warna-warni ini, memurnikannya kembali ke warna Tuhan; Hitam.

Kemanakah Jibril dengan segala wahyu yang diantarkannya? Keputusasaan yang tadinya hambar makin menjadi-jadi. Apa ini ujian? Apa aku salah melangkah?

Tak kuat menanggung semuanya, kini bola matanya lebih suka bersembunyi di balik kelopak. Ingatannnya mulai lumpuh, bahkan ia lupa caranya tersenyum.  

Dengan naif, ia mulai belajar menikmati siksaan itu. Rangkaian kemunafikan yang menyelimutinya makin nyata, hiperrealitas mengubahnya menjadi budak dari perasaannya sendiri. Ia melarikan diri ke dalam belantara manusia, di mana kemunafikan adalah kunci kebahagiaan.

Sebelum ia benar-benar hilang, sebelum ia benar-benar tertelan, rangkaian aksara itu kembali hadir memberinya harapan. 

Alam adalah coretan yang kacau, hingga aksara hadir sebagai syarat pelengkap untuk lahirnya angan. Liar adalah kutukan yang melekat padanya dan dia akan terus berkeliaran sambil terus melahirkan dan memikul pertanyaan-pertanyaan. 

Tapi liarnya telah memberi keteraturan pada alam. Setidaknya hewan-hewan ini tak takut lagi pada sambaran petir, walaupun itu membuat mereka terlalu sombong untuk disamakan dengan hewan.

Dia tersenyum. Matanya kini punya keberanian untuk menampakkan diri. Mungkin akhir dari perjalanannya, mungkin juga tidak. Konon akhir bahagia hanyalah kisah yang belum selesai.