Hantaman Covid-19 telah menggemparkan penduduk bumi di akhir tahun 2019. Virus ini pertama kali terdeteksi pada 17 November 2019 dari seseorang di Provinsi Hubei, China berumur 55 tahun. Tidak sampai sebulan sejak ditemukannya virus ini, tercatat 27 jumlah kasus corona baru yang ditemukan di provinsi Wuhan, China.

Penyebaran virus ini terus meningkat hanya dalam kurun waktu empat bulan. Dilansir dari Worldometer per tanggal 1 April 2020, jumlah kasus corona di seluruh dunia mencapai 854.608 kasus. Dari jumlah itu, terdapat 176.908 orang yang dinyatakan sembuh dan 42.043 meninggal dunia.

Indonesia salah satu negara yang tak luput dari hantaman virus tersebut. Tanggal 1 April 2020, jumlah kasus corona di Indonesia mencapai 1.677 kasus. Dari kasus yang ada, terdapat 103 orang yang sembuh dan 157 orang dinyatakan meninggal dunia. Penyebaran yang sangat cepat dan jumlah korban yang begitu besar membuat pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk mengantisipasi penyebaran corona.

Tanggal 13 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Kepres Nomor 7/2020 Tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona. Beberapa pekan kemudian dia mengeluarkan lagi dua peraturan sekaligus, yakni: Peraturan Pemerintah No 21/2020 Tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona dan Kepres No 11 Tahun 2020  Tentang Penetapan Darurat Kesehatan Corona.

Selain menerbitkan beberapa peraturan, hal menarik lainnya adalah soal kucuran dana yang begitu besar untuk penanganan Covid-19 di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam penanganan virus ini ditaksir mencapai Rp. 405 Triliun. Angka fantastis ini meliputi atas : (1) Rp 75 Triliun dialokasikan di bidang kesehatan; (2). Rp 105 Trilun untuk jaringan pengaman sosial; (3), Rp 70,1 Triliun Insentif Perpajakan & Stimulus Kredit Usaha Rakyat: (4). Rp 150 Triliun untuk Pembiayaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Dengan anggaran yang besar itu, harapannya penyebaran Covid-19 dapat ditekan dan jaminan sosial dan perekonomian negara bisa segara pulih.

Upaya pencegahan penyebaran corona adalah tanggung jawab kita bersama. Namun pencegahan di saat terjadi wabah saja tidak akan cukup tanpa mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari—bahkan di saat tidak terjadi wabah virus sekalipun.

Di situasi-situasi sulit seperti sekarang, Indonesia perlu berkaca dari Kuba yang akhir-akhir ini menjadi sorotan dunia. Walau tidak bebas dari corona, negara di kepulauan karibia itu sibuk mengambil bagian dalam misi kemanusiaan dengan mengirimkan dokter-dokternya ke beberapa negara yang membutuhkan bantuan tenaga medis.

23 Maret lalu, 53 Dokter asal Kuba telah menginjakkan kaki di Italia. Kehadiran mereka untuk membantu Italia dalam memerangi virus corona yang sudah membunuh ribuan orang di negara pisa tersebut. Dokter-dokter itu disambut sorak sorai dan tepuk tangan warga Italia di tengah Covid-19 yang terus membayangi mereka.

Membicarakan Kuba tidak cukup hanya membicarakan para dokter yang hadir di Italia saat ini. Kita perlu melihat Kuba secara lebih dalam—terlebih capaian Kuba dalam bidang medis telah mengantarkan mereka sejajar bahkan melebihi negara-negara maju di dunia.

Kesalahan Berpikir Atas Kuba

Sebagian kita mengenal Kuba sebagai Negara miskin dan terbelakang. Acuannya adalah PDB Kuba yang rendah (hanya 97 Billion Dolar di tahun 2019) dan tingkat daya beli orang-orang Kuba yang kurang lebih satu Dolar perhari. Hal ini makin diperparah oleh propaganda Internasional, terutama Amerika (musuh utama Kuba), yang menempatkan ia menjadi salah satu Negara miskin di dunia.

Citra negatif tentang Kuba yang masih menyelimuti sebagian besar alam pikiran penduduk bumi justru terbantahkan di saat dunia sedang dihadapkan oleh wabah virus corona. Negara yang hanya dikenal dengan kemiskinannya itu, justru hadir dengan pengalaman dan pengetahuan medis yang cukup maju.

Sebenarnya capaian Kuba selama ini telah mendapatkan pengakuan dari beberapa lembaga Internasional. Berdasarkan data indeks pendidikan dan indeks pembangunan manusia yang dikeluarkan oleh PBB, Kuba masuk dalam 50 daftar terbaik di antara negara-negara maju lainnya. 

Selain itu, menurut UNICEF (United Nations Emergency Children's Fund), sistem kesehatan di Kuba adalah salah satu sistem kesehatan terbaik di dunia. Sehingga tidak heran kalau saat ini negara itu sanggup mengirimkan tenaga medisnya ke beberapa negara yang membutuhkan bantuannya.

Sistem Kesehatan yang Baik Buah dari Kebijakan Negara bang Baik

Capaian Kuba saat ini bukanlah sesuatu yang instant. Keberhasilan itu telah dilalui dengan jalan perjuangan yang panjang dan cukup berat

Apa yang didapatkan Kuba sekarang dimulai ketika rakyat yang dipimpin oleh duet Fidel Castro dan Che Guevara melakukan pengulingan atas kediktatoran Fulgensio Batista pada 1959. Penggulingan Batista, Presiden yang didukung oleh Amerika itu menjadi babak baru revolusi Kuba.

Di waktu yang hampir bersamaan, Amerika, sebagai penyokong presiden sebelumnya melakukan blokade ekonomi (embargo) kepada Kuba. Situasi ini justru tidak memudarkan semangat Fidel Castro dan kawan-kawannya untuk mempertahankan revolusi yang telah direbut itu.

Di periode awal revolusi, kebijakan Kuba terfokuskan ke beberapa sektor yang dianggap penting untuk mendorong kemajuan di negara ini. Sesuatu yang tak luput dari hal tersebut adalah memajukan sektor pendidikan yang berada di tingkat keparahan di masa kepemimpinan sebelumnya.

Dari beberapa referensi sejarah yang telah diulik, pada masa Batista hampir sebagian besar masyarakat Kuba masih mengalami buta huruf. Selain itu, di Kuba sendiri hanya terdapat tiga universitas yang menampung 15.000 mahasiswa. Menjawab situasi ini, Fidel Castro mengeluarkan satu kebijakan yang populis saat itu untuk memajukan sistem pendidikan di Kuba yakni “ Tahun Pendidikan”.

Tahun pertama ini, Fidel memfokuskan untuk memeratakan pendidikan di seluruh Kuba. Ia mengambil langkah radikal dengan menasionalisasi semua institusi pendidikan yang ada dan memobilisasi hampir satu juta orang-orang, terutama anak muda yang telah mengeyam pendidikan ke seluruh Kuba dalam pemberantasan buta huruf. Tidak lupa juga ia membangun 5000 sekolah di seluruh Kuba sebagai sarana pendukung proses pembelajaran rakyat.

Hasil tidak membohongi proses. Di tahun yang sama tingkat melek huruf di Kuba menjadi 96 persen. Pada Tahun kedua sejak dicanangkannya kampanye “Tahun Pendidikan”, Kuba mendeklarasikan diri menjadi negara yang telah terbebas dari buta huruf. Sebuah capaian yang begitu luar biasa bagi negara yang baru saja keluar dari masa kelam bayang-bayang Amerika.

Pencapaian Kuba tidak berhenti sampai di situ. Berbagai terobosan terus dibuat untuk mendorong pendidikan di Kuba. Pembangunan sekolah-sekolah dan universitas terus di pacu, jumlah tenaga pengajar terus bertambah. Dan yang paling penting adalah, Kuba telah menggratiskan pendidikan di negara karibia itu.

Keberhasilan di sektor pendidikan, juga menyasar sektor-sektor lain yang prioritas. Kesehatan merupakan hal yang paling penting untuk menjamin hak rakyat di Kuba. Seperti yang sudah lazim diketahui, tingkat kemajuan suatu negara tidak hanya dilihat dari seberapa besar sumber daya alam yang mampu dikelola untuk perekonomian nasional, tapi juga sejauh mana sistem pendidikan dan kesehatannya dibangun untuk menjawab kebutuhan rakyat.

Sejak Batista berkuasa, jumlah tenaga kesehatan di Kuba hanya berjumlah 6000 orang yang sebagian besar hidup di perkotaan. Ketika Batista terguling, terjadi migrasi besar-besaran pada dokter dari Kuba ke Negara lain. 

Hal ini disebabkan kebijakan Kuba yang saat itu memangkas beberapa keistimewaan para dokter yang secara mental melihat kesehatan masih dalam logika profit. Logika profit ini menyebabkan orang miskin sulit mengakses kesehatan dan hanya mengutamakan orang-orang kaya

Perpindahan besar-besaran para dokter itu menyisahkan sekitar 3000-an dokter di Kuba. Lagi-lagi situasi ini tidak serta merta membuat Fidel bertekuk. Ia Justru mengevaluasi kembali sistem kesehatan di Kuba yang dinilai memiliki hubungan erat dengan sistem pendidikannya.

Hasilnya, negara itu mencanangkan perombakan besar pada kurikulum pendidikan yang dinilai sangat Amerika. Fidel juga menggratiskan biaya pendidikan dan Kesehatan di Kuba dengan alasannya bahwa; biaya masuk pendidikan kesehatan yang begitu mahal telah menciptakan mental tenaga medis yang berorientasi pada profit.

Dalam situasi itu, sosok Che Guevara (kawan perjuangan Fidel) mengambil peran penting dalam menancapkan semangat revolusi bagi kesehatan di Kuba. Selain seorang pejuang revolusi, ia juga seorang dokter yang telah menggagas satu motto On Revolutionary Medicine tang telah meletakkan dasar sistem Kesehatan di negara itu.

Hingga saat ini sistem kesehatan Kuba terus berkembang. Mereka telah membangun sekolah-sekolah kedokteran yang cukup terkenal di dunia hingga sekarang. ELAM (Escuela Latinoamericana de Medicina) Sekolah Kedokteran Amerika Latin adalah satu di antaranya. Tercatat ada beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh ilmu Sekolah  ini dengan biaya perkuliahan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Kuba.