Netizan masih berkecamuk karena drama “Start Up” dan persaingan antara dua kubu Do-san dan Ji-Pyeong. Yang akhirnya, pertarungan sengit memperebutkan wanita itu dimenangkan oleh kubu Nam Do-san. Dan kepada kubu Han Ji-pyeong, kami ucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya.

Eh, tapi kok saya ingin lebih fokus untuk membahas persaingan antara Seo Dal-mi dan Won In-jae ya?

Di awal serial drama itu, Dal-mi dan In-jae bertaruh sepuluh ribu won untuk membuktikan siapa yang paling hebat diantara mereka. Ketika meilhat persona dan sikap mereka berdua, saya langsung terhubung dengan serial anime Naruto. Lihat, bukankah rivalitas antara Dal-mi dan In-jae persis sama dengan rivalitas Naruto-Sasuke? Dal-mi adalah Naruto. Sementara In-jae adalah Sasuke.

Dal-mi memilih untuk ikut ayahnya sejak orang tuanya bercerai. Tak lama kemudian, ayahnya meninggal karena tertabrak mobil. Dal-mi akhirnya hidup bersama neneknya. Hidupnya sulit, bahkan ia harus berhenti kuliah dan bekerja paruh waktu. 

Kehidupan Dal-mi tidak dapat dikatakan sejahtera, dan ia bukan gadis yang hebat. Ia dalah underdog, di awal drama. Bahkan, karena tak berpengalaman, ketika ia memulai bisnis pun ia harus banyak melakukan kesalahan. Rival yang sekaligus kakaknya, In-jae, jauh lebih hebat dan selalu berhasil dalam menjadi CEO perusahannya.

Namun, Dal-mi punya semangat belajar yang tinggi. Ia seakan memiliki energi tiada habisnya. Ia selalu riang dan tak pernah nampak murung karena mengutuki keadannya. Akhirnya ia pun memiliki teman-teman yang selalu mendukungnya, serta mentor yang selalu membantunya.

Keadaan Dal-mi persis Naruto. Naruto yang tidak punya orang tua dan selalu mencari perhatian, yang bodoh dan selalu gagal di akademi dan pertarungan. Ia yang selalu dikalahkan oleh Sasuke dan ditertawakan bahkan dijauhi teman-teman lain. 

Namun, Naruto pembelajar keras dan selalu bertumbuh. Akhirnya, dengan kerja keras, ia punya banyak teman dan guru yang mengakuinya. Lalu. Di akhir cerita, ia jadi pahlawan. Bahkan mengalahkan Sasuke yang dari kecil sudah superior.

Baik, kembali ke serial Start Up. Dal-mi bertemu In-jae setelah sebuah seminar. In-jae yang terlihat meremehkan Dal-mi akhirnya mengundangnya untuk datang ke pesta relasi yang diadakan perusahaan Nature Morning milik ayah In-jae. Undangan itu jelas bukan bermaksud untuk beramah-tamah kepada Dal-mi. Itu merupakan tantangan sekaligus pertaruhan harga diri.

Karena tak ingin terlihat lemah karena sudah memilih ayahnya, Dal-mi bertekad menyaingi In-jae. Disitulah semua dimulai. Bagaimana Dal-mi selalu berkata, “Aku tak pernah menyesal dengan keputusanku.” Meski selama ini keadannya sulit. Sementara In-jae yang ikut asuh ibunya yang menikah lagi dengan pengusaha kaya, Nampak sangat sejahtera dan hebat. Ya. Itulah jalan ninja Seo Dal-mi, sama seperti perkataan Naruto yaitu “Aku takkan pernah menarik kata-kataku. Itulah jalan ninjaku.”

Berawal dari pekan retas di Sandbox, Dal-mi terpilih menjadi salah satu CEO yang berhak membuat tim. Karena kerendah-hati-annya, ia pun akhirnya dipilih untuk menggantikan  Nam Do-san menjabat CEO Samsan Tech, padahal saat itu tim Samsan Tech juga ditawari untuk bergabung dengan In-jane yang lebih hebat tentunya. Sikap “rendah hati” Dal-mi itu membuat timnya setara dan tak merasa tertekan. Itu juga termasuk jalan ninja yang selama ini digunakan Naruto untuk mendapatkan hati teman-temannya.

Selanjutnya, ketika anggota tim Samsan Tech kurang seorang lagi. Dal-mi memperhatikan Jung Sa-ha. Sa-ha yang sangat menarik dan banyak ditawari untuk bergabung dengan tim-tim lain, malah menolak semua tawaran itu dengan berbagai alasan. Tapi, tiba-tiba Dal-mi berlutut dan mengatakan sesuatu yang tak biasa, menunjukkan keseriusan, dan membuat hati Sa-ha luluh. Lagi-lagi jalan ninja yang begitu apik dari Seo Dal-mi.

Kemudian kita akan diperlihatkan perjuangan Seo Dal-mi yang lain. Mulai dari bagaimana ia menjadi CEO yang tegas, lalu dapat membuat keputusan penting, hingga menemukan ide-ide dengan hal-hal sederhana pada hubungan setiap individu.

Misalnya, ketika ia melihat tunatentra yang dibimbing anjing dan ia berandai, kalau saja anjing itu bisa berbicara untuk menunjukkan jalan dan memberitau kepada si pemilik yang tunanetra itu. Saat itulah Do-san yang mendengar perkataan Dal-mi itu malah menemukan inspirasi untuk menciptakan aplikasi Noongil yang dapat merekam benda-benda sekitar dengan kamera ponsel dan menyebutkannya ke pengguna.

Dal-mi juga tipe wanita yang tak mudah menyerah. Untuk mendanai Noongil, aplikasi buatan timnya, ia harus mencari dana CSR dari berbagai perusahaan. Ia rela menemui orang-orang penting yang sibuk, bahkan ia harus presentasi di dalam lift. Hingga akhirnya, dengan berbagai drama tentunya, ia dapat memenangkan negosiasi dengan Morning Group dan mendapatkan dana sosialnya.

Keberhasilan Seo Dal-mi dan timnya membuat salah seorang pengusaha sukses yang mendunia bernama Alex tertarik mengakuisisi Samsan Tech dengan angka tiga milyar. Meski ternyata akuisis itu hanya karena Alex ingin mendapatkan bakat Nam Do-san saja, namun saya kira itu adalah sebuah keberhasilan. Namun sayangnya, Seo Dal-mi, diberhentikan dari CEO.

Disitulah kekaguman saya dengan tokoh Dal-mi tersebut kian membuncah. Setelah menerima saran dari mentornya, Ji-pyeong, Dal-mi pun membuang gengsinya dan memutuskan untuk melamar ke perusahaan rivalnya sendiri, Injae Company. 

Singkat cerita, mereka sukses dan mendirikan anak perusahaan yang diketuai oleh Seo Dal-mi. Lagi-lagi, jalan ninja yang begitu menarik untuk diambil pelajarannya dari Dal-mi.

Sampai ditutup serial drama tersebut, Dal-mi tak pernah sekalipun meninggalkan jalan ninja-nya. Jalan yang tak mudah, namun tetap ditekuninya hingga merubah dirinya sendiri, merubah pandangan orang padanya. Apik!