Sekali waktu di suatu peristiwa, saya berkesempatan bertemu dengan orang-orang "penting" - orang yang pengaruhnya relatif besar pada masyarakat luas. Mereka adalah kiai besar, politisi senayan, dan pengusaha sukses.

Karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan mereka yang aktivitas kesehariannya super padat, saya pun memanfaatkan waktu yang singkat itu dengan sebisa mungkin melempar banyak pertanyaan, mulai dari persoalan desa yang picisan sampai ke persoalan negara yang kompleks.

Ketika ngobrol sama kiai, muara obrolan selalu berorientasi ke Tuhan, God centered. Banyak wejangan yang bisa saya petik dari sang kiai. Yang paling membekas begini:

"Jika kamu ingin mencari Tuhan, carilah Dia di dalam hatimu, di dalam kalbumu. Tuhan tidak ada di Baitulmakdis, tidak pula di Mekkah, bahkan di dalam Ka'bah sekalipun. Rahasia itu ada di dalam dirimu sendiri, di dalam batinmu yang suci."

Sebagai orang yang sejak lahir dan tumbuh besar di lingkungan masyarakat tradisional Jawa, saya akan manut dan tunduk, sami'na wa ato'na dengan apa pun yang dikatakan oleh kiai. Sekalipun berbeda pendapat, misalnya, saya paling tidak akan berusaha menyembunyikan ketidaksepakatan saya dengan kiai serapat mungkin.

Yang membuat saya makin takzim, menurut cerita orang-orang, beliau ini rajin blusukan ke masyarakat bawah, kerap berada di garda terdepan sebagai problem solver di tengah masyarakat, tidak seperti kiai pada umumnya yang masih konvensional: cuma pandai bergumam di depan mimbar.

Hal berbeda ketika ngobrol sama politisi. Ada kontradiksi pesan yang disampaikan, sangat jauh dari orientasi ke Tuhan.

"Kamu jangan mikir dosa kalo mau jadi politisi. Politik itu soal merebut kekuasaan. Soal bagaimana kamu bisa mengendalikan dan mengontrol kecenderungan tiap-tiap orang. Kalo orang itu tidak bisa kamu kontrol dan kuasai, singkirkan!"

Saya membayangkan jika semua politisi seperti orang ini, betapa bahayanya negeri ini. Instingnya cuma kuasa. Orang ini mengingatkan saya pada sosok Thomas Hobbes yang memaknai politik sebagai Sang Leviathan. Politik yang mendasarkan bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus) sehingga kekerasan dan pemaksaan itu dibolehkan untuk merebut kekuasaan.

"Pantas saja Novel Baswedan sampai disiram air keras," pikir saya. Pikiran saya makin liar membayangkan perilaku para politisi busuk yang menurut dugaan saya, merekalah yang sudah berlaku keji kepada Novel." Jahat banget ya.

"Ah, politik!" Begitulah kira-kira anggapan khalayak ihwal politik. Politik adalah kotor, maka sudah barang tentu semua politisi juga kotor. Tapi tidak menurut saya. Memang bisa saja politik itu kotor di tangan dan dari hati politisi yang kolot. Kalau ada yang kotor sudah barang tentu juga ada yang tidak kotor. 

Politik sendiri tidak bisa diartikan hanya sebatas kepartaian, ia adalah semua aspek yang bersangkutan dengan kekuasaan, dan selama masyarakat ada kekuasaan juga ada, tidak peduli bagaimana eksistensinya, kotor atau bersih.

Singkatnya, setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi berbangsa, selalu bertautan dengan politik. Bahwa seseorang menerima, menolak, bahkan mengukuhi suatu kewarganegaraan adalah suatu sikap politik. Bahwa seseorang mengibarkan bendera kebangsaannya, itu adalah perbuatan politik. Bahwa seseorang membayar pajak, itu adalah pengakuan pada kekuasaan, jadi juga berarti ketaatan politik. 

Sekali lagi, selama ada masyarakat manusia dan kekuasaan yang mengatur atau merusaknya, di situ setiap individu bertautan dengan politik.

Dan, yang selalu mengasikkan itu ketika ngobrol sama pengusaha muda yang visioner. Pengusaha yang punya etos bisnis dan sikap hidup berpandangan jauh ke depan. Ada semangat juang tinggi yang berkobar dan menyala-nyala tiap kali mendengar orasi pengusaha muda ini. Ada rasa iri dan kagum. 

Saya selalu tercerahkan dengan kutipan-kutipan orasinya. "You may lose the battle, but should win the war", "Wani ngalah duwur wekasane", "Lebih baik mandi keringat dalam latihan daripada mandi darah dalam pertempuran"

Luar biasa orang ini. Dia menguasai dalil-dalil yang berkaitan dengan etos bisnis. Saya pun berkhayal untuk banting setir jadi pelaku bisnis. Tapi sayangnya, saya bukan orang yang cerdik cari duit. Business is not my passion, pikir saya.

Tak cuma pandai berdalil, mirip dengan sang kiai tadi, pengusaha muda ini juga kerap menghabiskan waktunya di tengah masyarakat. Dia menggerakkan anak-anak muda potensial lewat komunitas-komunitas entrepreneurship yang dia dirikan.

Akhirnya, dari perjumpaan dengan orang-orang "penting" itu, saya memetik pelajaran berharga ihwal makna kemuliaan hidup: sebenarnya apa makna kehidupan itu sendiri, paling tidak bagi saya. Saya pun tiba pada kesimpulan, ini menurut saya, ada tiga jalan menuju kemuliaan hidup: ilmu, harta, dan kuasa.

Seorang kiai menjadi besar dan dimuliakan karena teladan dan keluasan ilmu agamanya. Politisi menjadi begitu berpengaruh terhadap peradaban manusia karena kekuasaan yang dimilikinya (politisi autentik, bukan politisi sebagaimana contoh yang saya uraikan di awal). Pengusaha yang menjalankan fungsi sosial hartanya akan sangat membantu meminimalisir kemiskinan yang akut.

Kendati demikian, bukan berarti mereka yang berilmu harus jadi kiai, bukan. Begitu pula dengan mereka yang memiliki hasrat politik tidak harus jadi politisi, demikian juga mereka yang berharta, tidak harus jadi pengusaha. Karena sejatinya setiap dari mereka yang berilmu adalah pendidik: bisa guru, dosen, ustad, dan seterusnya.

Mereka yang punya kuasa adalah mereka yang punya otoritas untuk menciptakan keteraturan sosial (social order) di masyarakat: bisa camat, lurah, ketua RT/RW, dan seterusnya. Dan mereka yang berharta sejatinya adalah mereka yang dermawan.

Jadi, ilmu, harta, dan kuasa, ketiga-tiganya adalah alat. Siapa pun yang menggunakan alat ini dengan baik, niscaya akan meraih kemuliaan. Sebaliknya, jika alat ini digunakan secara serampangan, tidak pada tempatnya, maka kenistaan lah yang diraih.