Seniman
3 tahun lalu · 331 view · 6 min baca · Cerpen gambar-jalan-yang-lurus.jpg
pesantren-alihsan.org

Jalan Lurus yang Telah Sesat

Di Kampung Numi ada sebuah jalan bernama Gurawa. Jalan lurus yang aneh dan sangat berarti bagi warga setempat. Namun hari ini satu kehebohan terjadi. Jalan itu ditutup.

Aku adalah salah satu warga Kampung Numi. Aku mengetahui jelas bagaimana kehidupan di kampung ini, dan aku juga mengetahui siapa yang menutup Jalan Gurawa pagi ini. Gora, pemuda dua puluh lima tahun itu menjadi pelaku tunggalnya. Ia adalah sosok yang terasing di kampung kami. Introvert, tak punya teman, aneh dan berpenampilan paling buruk di kampung ini. Kenapa Gora bersikap agresif begini?

“Tak ada satupun warga yang boleh menggunakan jalan ini lagi!! Mulai sekarang dan seterusnya, Jalan Gurawa ditutup! Mengerti kalian?! Jalan ini ditutup selamanyaaaa!!”

Gora berkata lantang sambil mengacungkan golok. Warga gentar. Muka Gora yang biasanya kuyu, sekarang tampak beringas. Ia macam harimau lepas. Hari ini Gora berkuasa, setelah beberapa tahun ini ia puasa bicara.

“Aku kan sudah bilang kalau Gora itu gila. Kerjaannya tiap hari hanya bermenung. Hati-hati saja. Nanti kalau dia ngamuk, leher kita yang dipenggal,” Bu Enih berbisik padaku.

“Iya Bu Enih. Aku juga mikir kayak gitu. Kepala desa harusnya bisa mengantisipasi keadaan ini dari kemarin-kemarin."

“Aku sudah bilang ke kepala desa. Tapi kepala desa tidak menanggapi. Katanya, urusan perekonomian lebih penting daripada mengurus orang-orang aneh,” sambung Bu Enih.

Aku rasa penutupan Jalan Gurawa telah direncanakan oleh Gura di hari-hari sebelumnya. Papan-papan bekas, gerobak, besi-besi tua hingga puing-puing bangunan ia bentangkan di tengah jalan dengan sangat teratur.

*****

Matahari beranjak naik. Warga berkerumun di pinggir jalan. Hari ini aktifitas mereka mati. Bisik warga terdengar mendengung persis lalat menggerutung. Tidak ada yang berani bicara dengan Gura. Warga lebih memilih berdiri di pinggir jalan yang berjarak sekitar seratus meter dari tempat Gura berdiri. Para pemuda pun tak berani mengambil sikap. Ancaman tertebas golok membuat nyali mereka ciut. Apalagi aku.

Aku berharap kejadian ini tidak berbuah pertumpahan darah. Kampung Numi tersohor dengan kedamaiannya. Tidak ada yang ribut-ribut, karena setiap hari warga selalu sibuk dengan rutinitas. Jika adapun, paling hanya masalah sepele, kecemburuan sosial atau karena hewan ternak yang mengacak-acak pekarangan rumah salah satu warga.

*****

Semua mata menatap ke arah Gura. Ia mengambil palu besar dan kemudian menghantamkannya ke badan jalan. Gurawa retak. Dengungan warga makin keras terdengar.

“Ini yang kalian inginkan?! Tidak perlu lagi ada Jalan Gurawa! Buat apa jalan ini?!” Gura menghantam keras badan jalan sekuat tenaga. Kemarahannya meledak. Aku menatapnya penuh tanya.

Satu jam kemudian, kepala desa datang bersama tokoh masyarakat di Kampung Numi. Kepala desa bergerak mendekati Gura. Tetap ada jarak, kira-kira dua puluh jengkal. Warga pun mengikuti langkah pimpinan mereka. Suasana tegang. Gura menatap mereka dengan emosi mendidih.

“Kemana saja, Pak?” ujar Bu Enih pada kepala desa.

Kepala desa menanggapi dengan tenang, “Maaf terlambat, saya sudah dengar kabar ini sejak tadi pagi. Makanya saya bersama tokoh masyarakat harus mendiskusikan masalah ini terlebih dahulu. Hampir tiga jam kami rapat agar bisa mendapatkan solusi.”

Melihat kedatangan kepala desa beserta rombongan, Gura semakin beringas. Sadar dengan keadaan yang semakin tidak kondusif, kepala desa pun mengajak Gura berkompromi.

“Kenapa kamu melakukan ini, Gura? Apa yang salah? Jalan ini akses utama untuk bisa keluar dari Kampung Numi. Lihat, warga jadi terlantar dan tidak bisa beraktifitas.”

Gura menatap tajam ke arah kepala desa. Gerahamnya beradu menahan hati yang panas. Nafasnya menggebu.

“Buat apa jalan ini?! Tak ada gunanya. Lebih baik dihancurkan!”

“Hey, sabar.. Mari kita bicarakan.”

Gura menahan emosi yang telah sampai puncak ubun-ubun.

“Bapak tahu jalan ini untuk apa? Sebelum warga ramai mendiami Kampung Numi, jalan ini telah membentang cukup lama. Jalan ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sekarang apa?! Jalan ini dinodai!”

“Maksudmu apa, Gura?!”

“Pertama, jalan ini dibuat agar warga bisa menuju kehidupan luar. Namun lihat sekarang, jalan ini hanya menciptakan ketakutan.”

“Aku tidak mengerti maksudmu, Gura.”

“Warga telah menciptakan taklid buta untuk jalan yang panjangnya hanya tujuh kilometer ini. Setiap hari aku melihat warga selalu berduyun-duyun melintasi Jalan Gurawa. Mereka berhenti di beberapa titik dan memasukkan beberapa lembar uang di kotak yang telah disediakan entah milik siapa. Setiap hari seperti itu. Bapak tahu, keberadaan kotak itu pada awalnya adalah usul dari para pendahulu kita agar warga di sini saling berbagi. Tapi sekarang lain. Di kepala setiap warga tumbuh ketakutan. Jika tidak memasukkan uang ke kotak, mereka cemas tidak bisa keluar dari sini. Paradigma ini telah bulat. Awalnya ini sukarela, Pak, tapi kenapa sekarang berubah menjadi ancaman?”

Kepala desa diam. Ia berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Gura.

“Lalu apa lagi?” hanya itu yang bisa diucap kepala desa untuk sementara.

“Sejak adanya tradisi itu, kotak-kotak lain bermunculan. Warga yang takut, terpaksa memasukkan uang ke kotak lain. Alasannya biar perjalanan keluar dari Kampung Numi berjalan aman dan lancar. Harusnya uang yang terkumpul diberikan kepada warga kurang mampu, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Hampir semua warga berlomba untuk memasukkan uang ke kotak, tapi hanya untuk pencitraan diri. Sampai-sampai ada sebagian warga yang makin sombong karena telah memasukkan uang dengan jumlah yang besar setiap harinya.”

“Itu biasa, Gura. Untuk sampai ke luar dari Kampung Numi ini memang harus begitu. Kalau tidak kita akan tersesat di hutan belantara. Lihat di sisi kiri dan kanan jalan, hutan rimba yang ganas telah siap menerkam siapa saja yang tidak mentaati peraturan.”

“Nah, Itu juga! Kita diserang ketakutan, Pak. Sadarkah bahwa kita telah diperalat oleh aturan yang salah arti. Aku juga lihat, ada beberapa pondok yang didirikan di pinggir Jalan Gurawa, warga selalu berhenti lalu kemudian duduk dan memandang jauh ke Barat. Alasannya, mereka takut diterkam binatang buas atau tersesat di hutan. Siapa yang menyebar faham seperti itu? Jalan ini sudah salah arti. Sebaiknya memang harus dihancurkan!”

“Itulah etikanya, Gura. Kamu mau diterkam harimau?”

“Harimau apa, Pak?! Awalnya, pondok-pondok itu hanya tempat peristirahatan saat tubuh penat menyusuri jalan. Duduk dan memandang jauh ke Barat adalah untuk mengingat. Cobalah Bapak duduk di sana, lalu pandanglah ke arah Barat, apa yang Bapak lihat? Indah bukan?! Di sana terhampar hijau yang asri, sungai-sungai yang mengalir jernih dan tenang serta sepoi angin segar menyejukkan. Tenang dan damai. Dengan begitu kita memiliki tenaga lagi untuk berjalan menuju keluar Kampung Numi tanpa hilang arah. Seringkali, letih dan kenyamanan yang dihadirkan di tengah jalan membuat kita lupa. Makanya, dulu banyak warga yang tersesat hingga ke hutan belantara.”

“Mmm..” kepala desa berpikir lagi untuk mengalahkan pernyataan Gura.

“Jadi intinya kita telah salah arti tentang Jalan Gurawa ini, Pak. Makanya, aku begini. Lebih baik dihancurkan dari pada warga diancam ketakutan. Ketakutan, kerugian dan langkah-langkah yang menjadi tidak berguna sama sekali. Sia-sia! Aneh ya, kenapa semua warga mau saja menjalani hidup di bawah tekanan? Padahal sebenarnya tentang kotak, pondok dan lainnya itu bukanlah ancaman. Hanya pengingat biar tidak tersesat ke hutan.”

“Itu sudah biasa, Gura. Lagian tidak ada yang mengeluh dengan adanya peraturan dan etika ketika melewati Jalan Gurawa.”

“Ya tidak ada. Tetapi arti dari semua itu sudah sangat salah jalan!”

“Arti apa?”

Kepala desa sepertinya juga telah naik pitam dengan kelakuan pemuda gila ini. Tubuh lelaki tua itu gemetar menahan emosi. Sejenak kemudian kepala desa mengedipkan mata dan menganggukkan kepala padaku.

“Uhk…! Kalian salah jaa…lan.”

Aku menghunuskan belati ke punggung Gura. Tepat menembus jantungnya. Ia tewas.

*****

 

Esoknya, warga sepakat untuk tidak lagi menggunakan Jalan Gurawa. Jalan benar-benar ditutup. Untuk selanjutnya, seluruh warga bergotong royong untuk membuka jalan baru untuk akses keluar dari Kampung Numi. Alasannya hanya satu, biar tidak ada lagi Gura Gura lain di kampung itu.

Melihat warganya bahu membahu membuka jalan, kepala desa tersenyum bangga. Ia kemudian mendekatiku dan berbisik, “Kotak-kotak di Jalan Gurawa dipindahkan ke jalan yang baru ya. Begitu juga dengan pondok-pondoknya.”

*****

Artikel Terkait