46159_13145.jpg
Flickr.com
Pendidikan · 3 menit baca

Jalan Literasi dan Kemacetan Logika Akal Sehat

Siang tadi teman kamar mengajak saya nge-nutrisari di warung dekat kursusan. Katanya kalau siang nge-nutri, malam nyusu, pagi nge-teh dan saat mau menulis baru ngopi (nge-copy). Tapi menulis ini saya tidak ngopi tapi nge-nutri lagi.

Teman saya membuka obrolan, "Wan, per tahun kamu menghabiskan berapa buku?"

Saya tidak pernah menghabiskan buku kecuali LKS waktu SMA, membaca seperlunya saja, kataku. "Saya punya banyak buku tapi tidak suka membaca, tapi sering diskusi dan mengutip dari itu", lanjutnya.

Saat itu juga saya merefleksi. Sewaktu masih aktif di kampus kemarin, setiap bulan ada-ada saja buku yang saya beli. Setiap diskusi bebas atau dalam forum, kalau dengar seseorang mengutip buku, biasanya langsung dicatat dan segera cari bukunya, minimal membaca ulasannya di internet.

Sekarang, kalau melihat tumpukan buku yang terkumpul, miris dan decak kagum serasa di-mix. Mirisnya karena cukup banyak buku yang tertumpuk namun tak cukup banyak waktu untuk membelainya lembar demi lembar. Kagum karena entah, sadar jika banyak orang hebat di dunia ini.

Tulisan ini sedikit merepresentasi obrolan saya waktu nge-nutri. Sebuah penelitian yang menyatakan bahwa Indonesia salah satu negara yang berada pada titik terendah menyangkut kultur baca tulis (literasi) itu bukan bercanda.

Namun mengatakan Indonesia krisis literasi rasanya kurang pas menurut saya. Mengatakan krisis berarti menganggap bahwa kita pernah maju dalam konteks literasi. Faktanya kita belum pernah sampai pada titik tersebut, malah kita baru saja memulai untuk ikut bermain.

Saya menganggap bahwa kita tidak dalam kondisi berbahaya menyangkut kultur baca tulis, malah justru kita menuju pengembangan budaya literasi. Itu yang mesti di-support melalui kontribusi sekecil apa pun.

Di abad ke 21, idealnya literasi bukan lagi soal kamu rajin membaca atau tidak tapi sejauh mana kamu mampu menganalisis suatu topik dan menghasilkan argumentasi berkualitas yang berlandaskan logika akal sehat bukan logika akal bulus. Namun realitas menunjukkan kita masih berusaha menggapai idealitas tersebut.

Sangat banyak contoh konkret dari kegagalan menghasilkan argumentasi logis. Misalnya ketika meng-klik kolom komentar di status facebook yang viral, reply di akun twitter public figur dan video di youtube. Kita akan sulit menemukan argumen, namun sangat mudah menemui sentimen. Maksudnya adalah seolah kita dikonstruk untuk menikmati produksi emosi negatif dalam panggung media sosial dan kita diajak untuk bertepuk tangan dengan ramai.

Kemacetan logika akal sehat terjadi karena terlalu banyaknya konten di media sosial yang tidak mampu disaring menggunakan variabel teori, paradigma, dan perspektif dalam menganalisis. Jadi pendapat yang dikeluarkan cenderung tanpa dilandasi dengan argumentasi logis sehingga tidak melahirkan tesis, antitesis dan sintesis yang membangun dilakektika namun melahirkan dosa berujung problematika.

Belakangan muncul sebuah wacana progresif bahwa semestinya kita tidak hanya fokus pada persoalan akses menuju bacaan, tapi yang terpenting adalah kontennya. Memberi akses pada konten yang buruk sama halnya membangun penyebaran racun pada tubuh literasi.

Alih-alih bikin kopi, gelas saja tak punya. Sudah punya gelas tapi distribusinya bermasalah, distribusi lancar ternyata bibit kopinya kualitas rendah atau bahkan tidak sehat. Perbaiki dulu wadahnya, bangun dulu aksesnya, kemudian gali soal yang lebih dalam tentang konten.

Sekarang tentu sudah tidak asing dengan lapak baca, perpustakaan jalanan, dan warkop sajian buku. Seluruhnya adalah pembangunan akses untuk melek baca. Orang mau baca atau tidak itu soal lain. Social movement idealnya tentu berangkat dari kegelisahan bersama dan dikerjakan secara bersama meski dengan metode yang berbeda.

Sebagai bagian dari pengalaman, poin melapak baca bukan pada banyaknya orang singgah untuk baca buku atau tidak, namun pada "teror" di wilayah mindset dan rangsangan untuk berdiskusi. Bagi saya hal tersebut adalah sebuah gerakan simbolik yang menggunakan buku sebagai representasi dari literasi.

Akses yang saya maksud dalam konteks tulisan ini bukan soal pembangunan jalan tol dan jembatan serta infrastruktur lainnya. Membangun infrastruktur penting, namun membangun jalan pikiran dan jembatan ideologi serta mercusuar paradigma jauh lebih penting.

Sejarah mengajarkan kita bahwa para pendahulu bangsa mampu membuat bangsa ini bergerak maju. Meskipun ada sungai yang lebar, hutan belantara, gunung, dan jurang pemisah namun, karena jalan pikiran itu tetap tersambung, mercusuar itu tetap berdiri sebagai penanda tujuan bersama. Maka bergeraklah kita dengan sumber daya yang ada.

Sedikit merefleksi, mengapa kita malas membaca? Lebih merefleksi lagi, mengapa kita harus membaca?

Pada dasarnya manusia selalu membutuhkan feedback dan melakukan sesuatu tanpa "kepentingan" itu nonsense. Semestinya kita sadar dulu pada kebutuhan mengapa kita perlu membaca dan mengapa kita perlu untuk menulis.

Alih-alih membangun kesadaran literasi pada lingkungan masyarakat luas, lingkungan pendidikan saja sangat minim kultur literasi di dalamnya. Kaum terdidik dan mapan pun masih bergulat pada kegalauan. Apalagi menyangkut jelata, bodoh amat literasi; beli terasi saja masih bon.

Jadi, tugas negara adalah adalah menjamin perut, dompet, dan kepala warganya tetap terisi. Sementara tugas warga negara adalah membuka diri untuk itu dengan filtrasi yang berlandas pada moralitas, falsafah, dan kemampuan menganalisis.