Sedikit sulit melacak sejarah pertama kali munculnya profesi Advokat. Seperti kebanyakan sejarah, ia memiliki banyak cermin yang bias cerita. Dalam buku berjudul Advokat dan Penegak Hukum, Theodorus Yosep-Genta menceritakan tentang kisah seorang tokoh bangsawan zaman Romawi Kuno bernama Patronus.

Patronus membela dan membantu orang-orang yang membutuhkan keadilan dari kekejaman kaisar di zaman itu. Idealisme Patronus berorientasi ketulusan membantu dengan penuh kedermawanan. Pasalnya, dari semangat dan spirit Patronus inilah lahir sematan profesi terhormat-mulia (Officium Nobile) pada Advokat.

Entah mana yang mendahului yang mana, nama Patronus kemudian disebut dalam dongeng klasik Romawi. Ia adalah seorang ayah dari wanita cantik keturunan dewa bernama Dewi Kai. Patronus sang Preator memiliki jiwa yang adil dan kasih pengembira pada masyarakat. Ia seorang dewa yang baik hati.

Pada bagian lain, J.K Rowling, pemilik kisah fiksi legendaris Harry Potter, juga menggunakan istilah Patronus sebagai salah satu jenis mantra sihir di Hogwarts. Ialah mantra yang digunakan untuk bertahan. Menariknya, mantra Patronus hanya akan berfungsi dengan baik, jika kita memiliki energi dan pikiran positif.

Bukan sebuah kebetulan yang unik, istilah Patronus kemudian identik dengan hal-hal yang baik, mulia, dan positif. Bisa jadi semua saling terkait dan menginspirasi.

Pada perjalanan sejarah yang panjang, istilah Patronus ini bertahan dan digunakan dalam menggambarkan hubungan kelas sosial masyarakat Romawi Kuno (757/747 SM–509 SM).

Romawi kuno membagi kelas sosial masyarakatnya secara garis besar dengan istilah, Patricia yang merupakan keturunan bangsawan, memiliki hak penuh sebagai warga negara, dan Plebeia yang merupakan masyarakat biasa, atau masyarakat non-Romawi yang berdomisili di wilayah kekuasaan atau taklukan bangsa Romawi.

Seiring perkembangan waktu dan kompleksnya persoalan masyarakat Romawi, hubungan Plebeia dan Patricia tidak bisa dielakkan. Lalu lahir golongan masyarakat ketiga yang disebut Cliente. Mereka awalnya adalah masyarakat golongan Plebeia, tetapi membangun-jalin Kerjasama hukum (Patronus) dengan keluarga dari golongan Patricia. Mereka lalu disebut Cliente Patronus, - Klien.

Patronus – seorang, sesuatu, yang baik, mulia, dan positif. Officium Nobile.

*

Menelisik secara etimologis, Officium Nobile dapat diartikan, Nobilis yang bermakna mulia, luhur, atau yang sebaik-baiknya, dan Officium berarti jasa, kesediaan menolong atau kesediaan melayani. Nobilis juga dikaitkan dengan bangsawan, kalangan atas, berpangkat tinggi. Bisa jadi, bagian terakhir ini dipengaruhi oleh posisi Patronus yang saat itu merupakan seorang bangsawan.

Itu berarti, terhormatnya profesi Advokat bukan hanya ada pada konsep Nobilis yang luhur dan mulia, tetapi juga Nobilis kalangan atas, pangkat tinggi atau bangsawan yang dermawan.

Kalimat sebelum ini tidak berarti apa-apa, toh juga kalimat-kalimat mulia tentang profesi ini tidak lagi memiliki nilai yang sebagaimana mestinya. Relevansi sematan profesi terhormat-mulia pada kalangan advokat abad ini mendapat tanda tanya (?).

Advokat atau advocatus berarti, to defend, or to speak in favour of or depend by argument to support (reqnews). Selama seseorang mengatakan sesuatu untuk mempertahankan argumentasi yang menguntungkan bagi seseorang yang dibelanya, maka secara “bahasa” ia adalah seorang advocatus.

Itu mengapa, seorang Jaksa, yang berdiri tegak membela kepentingan negara dalam perkara privat atau adminitrasi tata negara juga disebut sebagai advokat negara.

Pada perjalanan panjangnya, profesi ini mendapat nilai yang buruk dari masyarakat. Advokat dianggap profesi yang identik dengan uang-bayaran. Ia membela yang (salah) membayarnya. Bahkan tidak jarang, advokat diidentikkan dengan klien yang dibelanya di pengadilan.

Seorang advokat yang membela koruptor juga dicap sebagai koruptor. Begitupula ketika ia membela pelaku kejahatan tercela lainnya. Di kepala sebagian masyarakat, profesi ini jauh dari kata terhormat-mulia.

**

Sebagai profesi yang jualan utamanya adalah jasa, nyawa profesi advokat ada pada pelayanan. Kenyamanan klien tergantung pada kualitas pelayanan jasa, bukan pada hal lain. Terhormat atau nobilisnya adalah kesebandingan kualitas pelayanan dan harga yang harus dibayar.

Hanya dengan luhur dan bekerja sebaik-baiknyalah seorang advokat akan menjadi officium yang nobilis. Nobilisnya advokat bukan ‘hanya’ diukur Ketika ia membantu seorang tanpa bayaran. Memberikan pelayanan atau bekerja dengan sebaik-baiknya dalam jasa profesi juga adalah tindakan nobilis, dengan bayaran yang mahal sekalipun.

Membuat argumentasi hukum yang ngasal, meskipun gratis adalah perbuatan yang tidak luhur, tidak mulia dan juga tidak terhormat. Sebaliknya, dengan membangun argumentasi hukum kokoh yang didaras pada prinsip-prinsip tujuan hukum yang terukur adalah bentuk kemuliaan profesi ini.

Titik equilibrium itulah letak profesionalitas. Bukankah yang profesional itu yang bisa dikatakan terhormat? Tentu bukan berarti seorang advokat harus memaksakan nilai bayaran seperti yang diinginkan. Itu sebabnya, santer celoteh dikalangan profesi ini, bahwa bayaran seorang advokat kadang ‘tak terhingga’ dan kadang pula ‘tak terduga’.

Ia ‘hanya’ sebuah pekerjaan profesi, sebagaimana pekerjaan palayanan jasa lainnya. Seperti seorang dokter yang juga dibayar karena jasanya mengobati. Lalu mengapa seorang dokter cantik yang merawat atau menolong seorang pembunuh di ruang ICU tidak danggap sebagai pembunuh, atau tidak sama sekali mengurangi nilai luhur profesi kedokternya?