Bukan untuk pertama kalinya, kita disuguhkan dengan berita paketan kekerasan seksual, pacaran dan bunuh diri. Ketiganya kerap bergandengan membentuk siklus sebagai imbas dari pergaulan yang mengacuhkan batasan.

Jalan yang ditempuh NWR yang memilih mengakhiri hidupnya cukup membuat kita tak habis pikir. Seolah kehidupan dunia yang hanya berlangsung satu kali tidak cukup berharga.

Berita demi berita yang mengulik kasus tersebut terus membanjiri media. Pemerkosaan, aborsi berkali-kali, depresi, pola asuh orang tua, tekanan orang tua pacar dan kabar lainnya yang sejatinya masih simpang siur.

Sulit mengetahui faktanya dengan sempurna, karenanya teramat riskan jika masyarakat Indonesia terlalu terburu-buru menodong keadilan untuk korban hingga meneror keluarga pelaku dan menghujaninya dengan sanksi sosial.

Satu-satunya yang tidak sulit adalah meyakini bahwa nelangsanya nasib yang menimpa NWR adalah dampak dari pelanggaran batasan pergaulan yang telah Allah patenkan.

Kita sungguh dihadapkan dengan lingkungan yang gawat. Ini sejatinya adalah PR negara. Negara melalui tangan para penguasa berkewajiban mendidik masyarakatnya yakni dengan memutuskan kebijakan-kebijakan yang mampu melahirkan ketenteraman sosial, meminimalisir kriminalitas, serta menciptakan lingkungan yang mampu merawat fitrah anak-anak kita.

Namun karena negara berlepas tangan, maka tanggung jawab para orang tua menjadi sepuluh kali lebih berat. Orang tua kudu tertatih-tatih menjaga anak-anaknya dari maraknya penyimpangan-penyimpangan di luar rumah.

Selain riba, pacaran adalah sesuatu yang Allah haramkan namun dianggap lumrah. Hal ini adalah sebuah perjalanan panjang dari sistem sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan).

Banjirnya informasi yang memancing penguatan gharizah nau’ (naluri berkasih-sayang dan mencintai) baik melalui tontonan film, musik dan konten YouTube membuat para pemuda memiliki taraf berpikir yang rendah, akidah yang bobrok, doyan hiburan, serta hidup tanpa visi.

Maka tidak heran jika di luar sana banyak manusia yang telah berusia baligh namun belum aqil. Mereka dewasa secara fisik namun akal mereka belum sempurna, belum mampu membedakan baik dan buruk serta kerdil tujuan hidup.

Sayangnya ikatan pra nikah tidak lagi sebatas persoalan individu. Ikatan haram ini sudah menjadi tren yang menjangkiti anak muda layaknya es boba. Tak hanya remaja, anak-anak bahkan orang tua pun marak berpacaran. Kelu

Kasus viral yang menimpa NWR ini hanyalah segelintir kecil dari maraknya kasus serupa di luar sana. Pergaulan bebas, HIV/AIDS, pemerkosaan, LGBT, kekerasan seksual, pelecehan seksual, pelacuran, hubungan incess dan sekelumit kekejian lainnya yang merupakan buah dari liberalisme betapa tumbuh subur di negeri ini.

Potret krisis moralitas yang masif harusnya menjadi warning bahwa keadaan generasi kita perlu ditata, dipikirkan lamat-lamat kembali, dan dikaji jalan keluarnya. Namun kebiasaan yang menggelikan, kasus seperti ini selalu hanya ditangani dengan sebatas penangkapan pelaku yang hukumannya bahkan tidak menimbulkan efek jera.

Seharusnya permasalahan seperti ini harus dituntaskan hingga ke akar-akar penyebabnya. Penyebabnya tidak lain adalah diacuhkannya hukum syariat yang membatasi interaksi antara laki-laki dan perempuan.

Namun mirisnya ada pihak tertentu yang menjadikan kasus viral ini sebagai sarana menyuarakan pengesahan Permen dan RUU PPKS yang nyata-nyatanya merupakan produk hukum liberal.

Salah satu muatan dalam Permen dan RUU PPKS yakni kekerasan seksual distandarisasi dengan persetujuan korban. Ridho atau tidaknya manusia untuk dijadikan alat pelampiasan nafsu seksual tidak boleh menjadi standar hukum. Sebab pangkal dari pengesahan rancangan hukum ini adalah kerusakan.

Di luar sana, ada banyak perempuan yang melahirkan anak tanpa berstatus istri, ada anak-anak yang mengalami kemalangan status nasab bahkan sebelum mereka lahir, ada hubungan orang tua dan anak menjadi hancur, ada remaja yang masa depannya menjadi muram. 

Tidak sedikit ke semuanya berasal dari perzinaan atas persetujuan kedua pihak. Sexual consent yang digaung-gaungkan, dikemas dengan label Hak Asasi Manusia sungguh mencederai peradaban, pun merendahkan kehormatan perempuan. Tidak ada standar hukum terbaik, melainkan hukum-hukum Allah.

Meski ada penggiat pacaran yang berujung menikah, tidak sama sekali mengurangi sedikitpun kadar keharaman pacaran. Sekalipun banyak yang berdalih bahwa pacaran adalah langkah awal mengenali calon pasangan menikah. Ada banyak yang pacaran bertahun-tahun, namun mereka tidak benar-benar saling mengenali. Pacaran adalah satu dari sekian jalan nyata datangnya perzinaan dan mudharat besar. 

Dan Islam datang melingkupi batasan-batasan pergaulan antar gender, memberikan pandangan rinci mengenai status kebolehan interaksi laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom, pemahaman tentang khalwat dan ikhtilat, juga tentang kaidah-kaidah mengenali calon pasangan menikah.

Seiring dengan bergelimparannya kasus kekerasan seksual dan kasus wanita depresi karena menanggung derita hamil di luar nikah, semakin itu juga aku mengagumi Islam melalui ayat ini;

“Dan janganlah kamu mendekati zina, zina (itu) sungguh perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra :32)

Allah mewanti-wanti kita untuk tidak sekali-kali mendekati zina sebab Yang Menciptakan kita maha tahu kelemahan hamba-hambanya. Jika telah mendekati zina, kita akan mudah terjerembab kedalamnya.

Maka para orang tua, jaga anak-anak kita dari bergelutnya mereka ke dalam aktivitas pacaran.

Kita sebagai anak, cintai orang tua kita dengan tidak menyepakati ikatan pra nikah.