Mahasiswa
3 minggu lalu · 121 view · 4 min baca menit baca · Lingkungan 12865_12412.jpg
Foto: media.npr.org

Jakarta yang Subur dengan Beton

Ramadan tahun ini menjadi Ramadan yang menarik bagi saya. Sebagai orang yang berasal dari daerah, terutama Kalimantan, tentu kunjungan ke ibu kota Indonesia menjadi sesuatu yang menyenangkan.  

Lebaran di ibu kota Jakarta adalah tajuk utama saya pulang kampung tahun ini. Jika orang-orang berbondong-bondong meninggalkan Jakarta saat lebaran, maka saya sebaliknya, saya akan mendatangi Jakarta.

Sudah tiga tahun saya tidak ke Jakarta. Selain karena orang tua saya yang memang berasal dari dua daerah berbeda. Hitung-hitungan harga tiket pesawat juga menjadi alasan mengapa sudah tiga tahun saya tidak menyambangi Jakarta.

Gambaran Jakarta tiga tahun lalu sempat terekam dengan baik di ingatan saya. Jakarta yang tiga tahun lalu sedang dalam proses membangun MRT dan tiang-tiang pancangnya. Jakarta yang jalan layangnya masih dua tingkat. Dan Jakarta yang jalan tolnya masih bisa dihitung dengan jari. Oh ya, tiga tahun lalu, Jakarta juga memberikan kenangan yang spesial, kemacetan yang parah.

Ketika tahun ini saya kembali ke Jakarta, saya cukup terpukau. Banyak sekali Crane-crane dan Bulldozer di kiri kanan jalan yang saya lalui ketika keluar dari Bandara Soekarno-Hatta. Hampir sepanjang perjalanan setelah saya keluar dari bandara hingga saya ke Bekasi, pembangunan-pembangunan mulai dari adanya LRT, jalan layang hingga pelebaran jalan tol adalah pemandangan yang saya temui sepanjang jalan.

Hal ini membuat saya berpikir bahwa ternyata Jakarta sudah hampir sangat serius membangun kotanya. Ibu kota sudah hampir ingin menyamai Singapura dengan berbagai modernitas Asia Tenggaranya. Masih hampir memang karena semua itu sedang dalam proses pembangunan.

Hingga akhirnya saya sampai di tempat nenek saya di Bekasi, saya sadar bahwa pemerintah sangat serius menyuburkan beton dengan tujuan pembangunan. Niatan yang tidak salah, namun dengan cukup prihatin saya melihat bahwa hijaunya pohon di kanan kiri jalan yang saya lalui sudah sangat minim. 

Bahkan Bekasi yang dahulunya adalah daerah yang sederhana dan cukup tradisional. Saat ini, saya takjub dengan sibuknya orang-orang proyek membangun berbagai jembatan dan tiang pancang di daerah Bekasi.


Jakarta menurut saya sedang menuju modernisasi besar-besaran. Semua gedung berbondong-bondong merayu untuk ditatap. 

Saya yakin bahwa pembangunan-pembangunan yang saya saksikan ketika pertama kali menginjak Jakarta setelah tiga tahun pasti memiliki tujuan yang mulia. Selain untuk mempermudah masyarakat dalam mobilisasi ke berbagai tempat, pembangunan besar-besaran seperti yang saya saksikan juga pasti bertujuan untuk mengurai macet. 

Saya memang cukup katro ketika melihat jalan layang yang berlapis-lapis. Maklum di daerah saya Banjarmasin, jalan layang hanya satu dan itu pun sudah terlihat cukup mewah. Dan ini ada berlapis-lapis jalan layang!? hadeeh saya takjub.

Keadaan seperti ini pada akhirnya memang harus diacungi jempol. Tentu sebuah kemajuan memang harus diiringi dengan berbagai pembaruan dan pembangunan yang menunjang. Tidak ada kemajuan jika tidak ada pembangunan. Hukum tersebut adalah hal mutlak bagi suatu daerah yang ingin disebut sebagai daerah yang maju. 

Akan tetapi, dari semua hal positif yang dimunajatkan dari berbagai pembangunan gila-gilaan itu, rasa khawatir saya muncul. Rasa khawatir manusiawi yang muncul ketika melihat tingginya gedung apartemen yang di sebelahnya ada gedung yang lebih tinggi dari apartemen tersebut.

Saya menyaksikan sendiri suburnya berbagai beton yang menyapu mata dibanding pepohonan yang hijau. Bisa dibilang, banyak sekali pohon-pohon dipensiunkan demi tempat untuk kemajuan dan modernitas. Ironi yang cukup unik dan sulit dihindari bahwa penghijauan dan pembangunan adalah dua kubu yang sulit disatukan. 

Dan lebih sering proses penghijauan kalah dengan beton-beton kemajuan. Lalu apakah beton yang tumbuh subur dan pembangunan adalah sesuatu yang salah? 

Menurut saya, semua itu tidaklah salah. Hanya saja, banyak hal-hal yang memang sering dikorbankan untuk mencapai sebuah kemajuan. Namun tentu tidak dibenarkan memberikan pengecualian untuk kepunahan pohon-pohon di ibu kota untuk sebuah kemajuan.

Ujaran tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan memang mempunyai hukum realistis yang sulit diubah. Dunia memang seperti itu adanya. Bahwa kemajuan-kemajuan yang dilakukan di ibu kota Jakarta adalah sebuah kemajuan dengan risiko pengorbanan yang memang sudah disadari. 

Saya yakin semua orang tahu bahwa adanya jembatan layang hingga jalan tol akan mempermudah banyak orang. Namun lingkungan dan sekitarnya memang terlalu sulit untuk tetap dipertahankan.

Risiko-risiko lingkungan inilah yang membuat saya prihatin. Ketika sepupu saya menjelaskan bahwa Jakarta sudah sangan padat ditambah dengan berbagai pembangunan, dia juga berseloroh, “Jakarta yang tumbuh subur bukan pohon tapi beton.” Memang begitulah apa yang saya lihat.


Kondisi ini memang dilematis. Beton yang berjejal memang akan menutup sumber kehidupan pepohonan. Saya tentu saja tidak akan memberikan solusi ilmiah mengenai permasalahan yang saya lihat di ibu kota dalam tulisan ini.

Ini hanya sekadar suara hati yang menurut saya harus dilihat banyak orang, bahwa Jakarta sebagai ibu kota sedang berbenah menuju kemajuan sambil dibayang-bayangi dengan berbagai pengorbanan yang melingkupinya. 

Bahkan ketika saya teringat bahwa ada wacana untuk pemindahan ibu kota dari Jakarta ke pulau Kalimantan. Saya membayangkan hijaunya hutan Kalimantan dengan tumbuh lebatnya pepohonannya.

Lantas apakah harus terlihat seperti ini jika ibu kota jadi dipindah? Apakah Kalimantan yang masih bisa dianggap hijau juga akhirnya akan ditumbuhi beton-beton pemangku masa depan dan kemajuan?

Jakarta, ibu kota dan pembangunan adalah tiga kata kunci yang berputar di otak saya sepanjang perjalanan saya dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bekasi. Jakarta tiga tahun yang lalu adalah kenangan yang cepat sekali berubah saat saya menyaksikan Jakarta yang sekarang. 

Jakarta dengan pembangunannya adalah sebuah niatan perubahan untuk kemajuan. Namun Jakarta dengan kemajuan itu sering melupakan efek dari suburnya beton yang menyebabkan banjir, longsor hingga kualitas udara yang semakin hari semakin menurun akibat minimnya pepohonan.

Ibu kota Jakarta saat ini sedang memodernisasi diri dengan menyuburkan beton-beton penyambung kemajuan dan masa depan. Dan semoga Jakarta juga menyadari bahwa suburnya beton juga harus diimbangi dengan suburnya pohon.

Artikel Terkait