"Anda harus mampu membaca masalah bangsa ini secara jernih, tidak dengan emosi. Selamat berpikir."

Demikian kutipan kalimat akhir dari satu pesan WA Buya Màarif sebelum Pilkada DKI untuk mengajak kita berpikir tentang kasus yang dipaksakan terhadap Ahok.

Tentu hal ini sangat menarik, sampai-sampai beliau harus meminta dan mengajak kita berpikir, kenapa?

Bisa jadi, beliau melihat banyak dari antara kita sudah tidak mau, dan juga tidak lagi bisa berpikir.

Tentu ini akan sangat berbahaya. Ketika kita sudah tidak lagi berpikir, maka sesungguhnya kita telah kehilangan kendali atas diri kita.

Dan bisa saja itu berarti bahwa kita juga telah kehilangan diri kita, atau dengan kata lain: kita sudah tidak ada.

Jika demikian, lalu siapa sebenarnya yang mengendalikan kita? Tentulah mereka-mereka yang berpikir untuk kita. Dan pada akhirnya, merekalah yang memiliki kontrol atas kita. Merekalah sesungguhnya yang mengendalikan kita dengan pikirannya.

Hal itu bisa terjadi karena mereka berpikir, sementara kita tidak.

Sampai level tertentu, bisa jadi hal ini tidak menjadi masalah serius, ketika kepada siapa - kita mempercayakan atau meletakkan pikiran kita - bisa dan jujur saat berpikir untuk kita.

Namun, tidak sedikit pula yang nyata-nyata tidak jujur, bahkan sesat dalam berpikir.

Ini tentu menjadi masalah. Bukan hanya bagi kita, akan tetapi juga bagi orang lain, yang akan ikut terkena imbas dari pikiran orang-orang yang tidak jujur dan sesat pikir itu.

Dalam konteks Pilkada DKI. Hal ini jelas terlihat dengan massifnya gerakan menolak Ahok sebagai pemimpin karena ia non Muslim. Dalam konteks beragama seakan-akan Ahok merupakan bencana jika sampai memimpin kembali untuk lima tahun ke depan.

Kemungkinan akan terpilihnya Ahok ini seakan- akan menjadi ancaman besar, sehingga apapun caranya harus dilakukan supaya Ahok tidak terpilih.

Inilah sikap yang tidak jujur menurut Buya. Dalam kerangka berpikir Buya, jika umat Muslim ( Jakarta) menghendaki pemimpin Muslim, maka terlebih dahulu harus melahirkan kader atau calon pemimpin Muslim. Bukan dengan cara menghalangi atau menghambat orang lain untuk terpilih.

Dan ketika itu belum berhasil dilakukan, maka jika ada pemimpin non Muslim yang tampil, itu adalah keniscayaan, dan mau tidak mau harus diterima.

Di sinilah letak persoalannya menurut Buya, ketika ( ada sebagian) umat Muslim tidak mau menerima kenyataan jika DKI dipimpin oleh Ahok yang non Muslim. Lalu kemudian beranggapan bahwa masalahnya ada pada Ahok, bukan pada mereka yang memang nyata-nyata belum berhasil membentuk pemimpin Muslim bagi ibukota.

Memang, pada akhirnya calon yang mereka dukung bisa menang dengan ikutsertanya mereka beramai-ramai dan habis-habisan "menghajar" Ahok sebelum dan saat bertarung di Pilkada.

Bahkan tidak cukup sampai di situ, kita bisa melihat bagaimana mereka terus berikhtiar menghendaki kejatuhan Ahok sampai ke jurang yang paling dalam yang mungkin ada.

Buya tampaknya tidak senang dengan cara seperti ini, dan juga tidak berarti bahwa Buya sedang membela Ahok. Buya tentu ikut prihatin dengan kegaduhan yang terjadi hanya karena seorang Ahok, yang mana semestinya hal itu sangat tidak perlu.

Bagi Buya, masalah ini sebenarnya sederhana, namun dibuat mejadi rumit ketika kejujuran diabaikan. Situasi bertambah rumit karena kesengajaan dari pihak-pihak tertentu, yang dengan sengaja membuat kasus Ahok ini lebih rumit. Dengan cara demikian, ia ( Ahok) akhirnya kehilangan kesempatan untuk tetap menjadi pilihan warga.

Ketika "pesonanya" disamarkan, bahkan ditutupi dengan bayang-bayang ketidakjujuran sehingga menjadi bias, dan diharapkan bias itu berdampak signifikan untuk menggagalkan Ahok demi kemenangan calon selain Ahok yang akan mereka dukung.

Pesan Buya di atas sejatinya tidak ditujukan kepada elit parpol Muslim maupun ulama yang mayoritas tampaknya sedang berkolaborasi dalam kisruh ini. Buya sepertinya tidak lagi banyak berharap dengan mereka, walau tidak dengan semua elit parpol dan ulama tentunya.

Penekanan justru dialamatkan kepada umat kebanyakan dengan ajakan untuk berpikir. 

Dengan berpikir, maka umat akan mengerti apa sesungguhnya yang terjadi. Tidak latah untuk ikut-ikutan apa kata elit, yang dalam perspektif Buya sangat tidak jujur berpikir dalam kisruh ini.

Jika saja umat mau berpikir, maka persoalan bangsa ini akan sangat jelas kelihatan. Dan itu sudah pasti bukan antara Ahok dan umat Muslim.

Namun, ketika umat tidak mau berpikir, dan justru memasrahkan persoalan ini kepada "juru-pikir", maka dengan sendirinya energi mereka akan habis terkuras guna mengikuti skenario juru pikir.

Emosi dan absennya kejernihan dalam melihat persoalan hanya akan membuat bangsa ini lelah. Dengan kendali ada pada juru pikir, yang sudah pasti konteks berpikirnya hanya mengutamakan kepentingannya semata.

Masyarakat kebanyakan sama sekali tidak mendapat apa-apa dengan aksi ini. Kecuali: terwujudnya hasrat dari mereka-mereka yang sudah menggenggam dan mengendalikan massa dengan logika berpikir yang sudah berhasil mereka tanamkan di pikiran orang-orang yang tidak mau dan sudah tidak lagi bisa berpikir.

Mereka ( umat kebanyakan) sesungguhnya tidak ada dalam kisruh ini. Yang ada hanyalah mereka yang sudah mengendalikan pikiran mereka.

Dan karenanya, kita dengan geleng-geleng kepala bisa menyaksikan bagaimana mereka begitu saja melakukan dan mengamini apa pun yang sudah ditanam di pikiran mereka. Ya, mereka sebenarnya sudah tiada.

Ya, mereka sesungguhnya tidak ada. Pikiran mereka tidak bekerja dalam kisruh ini, dan itulah yang mengkonfirmasi ketiadaan mereka. Andai mereka mau berpikir, sudah pasti mereka ada.

Cogito Ergo Sum, suatu ungkapan Rene Descartes, seorang filsuf Prancis yang berarti :" Aku berpikir maka aku ada." Hanya ketika aku berpikirlah maka aku ada, dan keberadaanku terkonfirmasi oleh buah pikiranku, yakni keyakinanku dan itu menjadi bukti bahwa aku memang ada.

Seperti kata Descartes, selagi masih ada, kita harus berpikir. Sama halnya dengan pesan Whatsapp Buya Syafii Maarif yang sangat menghargai keberadaan kita dari kalimat penutupnya yang menyebut: "selamat."

Beliau mengucapkan selamat, karena beliau masih percaya kita bisa berpikir, dan mau berpikir tentunya. Dengan berpikirlah maka kita ada, oleh sebab itu berpikirlah!

Pilkada DKI sudah usai, dan hasilnya kita sudah tahu: Ternyata, lebih banyak yang tidak mampu, tidak mau, dan enggan untuk berpikir.

Apa hendak dikata, itulah pilihan mayoritas warga Jakarta. Oleh karenanya, Indonesia harus berpikir, jangan meniru Jakarta.

Jika tidak, Indonesia akan segera tiada karena kita membiarkannya tiada dengan tidak berpikir. Dengan berpikir maka kita ada, demikian juga Indonesia, apapun taruhannya harus tetap ada.

Kitalah Indonesia, dan kita harus berpikir supaya Indonesia tetap ada. Dengan kita berpikir maka kita pasti ada, dengan cara demikian kita bisa menjaga Indonesia tetap ada, jangan sampai tiada.

Indonesia, berpikirlah!