Pengelana
2 tahun lalu · 275 view · 5 min baca · Politik demi_jakarta_page_1.jpg
sumber gambar : dokpri

Jakarta Lebih Baik Tetap Ahok

Tidak ada orang, yang mana event Pilkada DKI 2017 paling membekas di hatinya selain Yusril Ihza Mahendra. Ia pada akhirnya  menyimpulkan apa yang terjadi dengan berujar; "Jangan mudah mempercayai orang." Yusril benar, dan ini bukan kata lembaga survey, pengamat, atau tim sukses paslon.

Ini merupakan kisah nyata Yusril Ihza Mahendra, setelah berbulan-bulan berjuang, mendatangi partai demi partai, blusukan, dan apapun yang bisa dilakukaknya sudah dilakukannya dengan sekuat tenaga demi satu tujuan, merontokkan elektabilitas petahana. Dan sudah tak pernah hilang dari mimpinya, bertanding head to head dengan Ahok di Pilkada DKI 2017.

Di menit-menit akhir perjuangannya, ternyata begitu mudahnya ia dicampakkan, betapa kejamnya dunia politik ternyata. Harapan yang dibangunnya dengan keringat dan airmata hari demi hari,  ternyata hanya mainan belaka bagi pihak-pihak yang selama ini ia telah menaruhkan asanya yang sedemikian besar.

Dimulai dengan PDIP yang pada akhirnya memilih Tetap Ahok, berlanjut kemudian dengan Gerindra yang ternyata lebih tertarik dengan sesuatu yang menarik di celana Sandiaga, membuat Yusril sempat hampir menyimpulkan bahwa ternyata hidup di Jakarta memang benar tidak mudah, bahkan urusan politiknya juga.

Situasi kemudian berubah, Yusril melihat secercah sinar terang, ketika ada tiga partai politik menjanjikannya harapan berupa tiket untuk maju di Pilkada. Asa yang tadinya hampir dikuburnya, segera dirangkainya kembali, dan ia pun kembali tampil percaya diri, dan  dengan sangat meyakinkan meminta semua pihak untuk menunggu tanggal mainnya, ketika namanya dideklarasikan sebagai cagub.

Apa nyana,  harapan Yusril kepada tiga partai politik itu ternyata harapan kosong belaka, dan beberapa hari menjelang pendaftaran pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta ditutup, janji partai yang sebelumnya diberikan kepada Yusril ternyata hanya tinggal janji. Yang ada, justru nama lain yang diambil dari negeri antah berantah yang  diusung ketiganya ditambah PAN.

Padahal, pendukung Ahok sudah mengakui bahwa Yusril merupakan penantang paling potensial yang bisa mengimbangi Ahok. Apalagi jika berhadapan head to head dengan Ahok, dan pengusungnya bisa mengelola isu SARA secara efektif, bisa jadi pada akhirnya Yusrillah yang unggul.

Ahokers harus mengakui bahwa haters Ahok bak menemukan pentungan untuk membalaskan sakit hati, kebencian, dan ketidaksukaan mereka terhadap Ahok melalui senyuman Yusril saat ia menyindir  Ahok.

Namun itulah jalan hidup Yusril, kali ini benar-benar tidak habis pikir, apa salah dan dosanya hingga ia diperlakukan demikian oleh ketiga partai itu. Andai sebelumnya ia tidak diberi janji, tentu hatinya tidak sesakit ini. Sungguh menyesakkan memang. Andai ini terjadi bukan kepada Yusril, entahlah akan seperti apa jadinya.

Dan akhirnya, publik DKI disuguhi tiga pilihan paslon untuk mereka pilih di Pilkada tahun depan, dan sudah pasti tanpa opsi nama Yusril. Selain petahana, pasangan Ahok-Djarot, ada nama Anies Baswedan-Sandiaga dan Agus-Sylviana.

Pasangan yang namanya disebut terakhir sudah pasti akan mengingatkan Yusril akan pengkhianatan tiga partai terhadap dirinya. Dan malam itu, malam terakhir ia harus menitikkan airmata, setelah mendapati realita bahwa namanya memang tidak  pernah diinginkan untuk menjadi cagub yang akan berlaga di Pilkada DKI 2017.

Kekecewaan  Yusril yang terbesar ialah, tatkala  ia pada akhirnya gagal membuktikan ucapannya bahwa ia mampu menumbangkan petahana seperti janjinya kepada para pendukungnya, dan mereka-mereka yang sebelumnya berharap banyak kepada dirinya untuk memberikan pukulan telak kepada Ahok di Pilkada 2017. Dan janji itu, sampai kapanpun tidak akan pernah bisa diwujudkannya karena ia tidak diberi kesempatan untuk itu.  

Begitulah realitas politik yang ada, pada akhirnya masyarakat harus bisa cerdas, bahkan dalam konteks Pilkada DKI harus bisa lebih cerdas dari Yusril sehingga tidak bisa lagi terpedaya oleh parpol dengan slogan-slogan dan janji-janjinya.

Perlu ditanyakan, apa sesungguhnya alasan parpol  tidak mendukung Ahok. Jangan-jangan, mereka sebenarnya sangat tergiur untuk mengelola  APBD DKI yang luar biasa besarnya itu, dan selama ini mereka tidak dilibatkan oleh Ahok.

Atau, bisa saja parpol-parpol ini sebenarnya hanya mencari sosok yang  bisa memberi keuntungan politik dan ekonomi bagi mereka, baik secara individu untuk pribadi petinggi parpol, maupun untuk parpol yang mereka pimpin.

Dengan demikian  kapabilitas dan elektabilitas seperti yang ada pada Yusril tidak lagi menjadi pertimbangan utama bagi mereka. Mereka berpikir sangat pragmatis  dengan  asumsi bisa memoles tampilan dan mampu mengelabui pemilih, dengan demikian, apa yang mereka inginkan bisa tercapai. 

Demikian juga dengan pasangan yang satunya, andai sebelumnya Sandiaga bisa diusung sebagai cawagub maka perjalanan tidak akan begitu berliku seperti sekarang ini. Entah apa alasannya, dan di menit-menit akhir, Sandiaga ternyata bersedia menjadi cawagub, yang mana sebelumnya pengambil keputusan berkeras bahwa tidak ada ceritanya bila Sandiaga maju sebagai cawagub.

Ketika pilihan cagub akhirnya jatuh kepada Anies Baswedan, ini juga merupakan bentuk pemutarbalikan logika. Kurang apa  elektabilitas dan kapabilitas Yusril dibanding Anies Baswedan? Belum lagi jika sejarah diputar, maka sangat tidak pantas bila Anies Baswedan yang sebelumnya demikian lantang menentang sosok capres yang disung Gerindra dan PKS, namun pada akhirnya akan menjadi orang yang akan mereka usung, dan bukan Yusril yang sedari awal sudah membuktikan keberpihakannya kepada capresnya Gerindra dan PKS.

Sangat jelas, tidak ada alasan politik yang kuat bagi Gerindra dan PKS mengusung Anies sebagai cagub. Demikian juga Sandiaga yang harus merelakan posisi cagub kepada Anies Baswedan. Jangan-jangan kesepakatan ini murni demi tujuan pragmatis semata, memanfaatkan Anies Baswedan sebagai vote getter, karena sosok yang mereka punya sangat tidak meyakinkan, baik elektabilitas maupun popularitasnya. 

Mereka berharap kepada Anies Baswedan, sekaligus memanfaatkannya guna menarik pendukung Pak Jokowi yang tidak bersedia mendukung Ahok oleh karena alasan subyektif. Dan juga terlihat bahwa Anies bersedia untuk sepakat dengan parpol pengusungnya jika kelak terpilih akan mendengarkan apa kata mereka. Ya, ternyata ujung-ujungnya kepentingan. Jika itu sebelumnya yang mereka inginkan, tentulah Yusril bersedia mengabulkannya, namun hal itu tidak ada disinggung sebelumnya. 

Jika sudah demikian ceritanya, apa lagi yang perlu dipusingkan? Memang  hanya paslon Ahok-Djarotlah yang murni bebas dari intervensi dan kepentingan pengusung jika kelak terpilih. Di samping karena sosok Ahok yang memang dari sononya tidak bisa diintervensi, parpol pendukungnya saat ini juga tidak memiliki agenda apapun secara ekonomi dengan mendukung Ahok.

Kisah Yusril tentu menjadi pelajaran berharga bagi warga DKI dalam menentukan pilihan di Pilkada DKI 2017. Jangan mudah mempercayai orang, apalagi parpol. Apa yang diucapkan atau dijanjikan sangat mungkin bukan berasal dari hati, hanya ucapan di bibir untuk menyenangkan hati, padahal sesungguhnya niatnya hanya kepentingan ekonomi.

Kalau sudah demikian, tidak berlebihan jika pada akhinya Jakarta lebih baik Tetap Ahok. Ya, Jakarta tetap memilih Ahok, bukan yang lain, berkaca dari kisah Yusril.

Artikel Terkait