Banyak sekali buku otobiografi di pasaran. Kebanyakan bercerita tentang jatuh-bangun dalam membangun karier hingga sampai ke titik kesuksesan. Nah, apa yang ditawarkan S. Jai ini adalah sebuah pertanggungjawaban sebagai insan kreatif; penulis.

Dalam buku yang berjudul Melawan Kematian-Sebuah Otobiografi Estetik, Jai hendak berterus terang bagaimana sebuah karya dituliskan. Karya sastra, bukanlah lahir dari ruang kosong semata-mata atau hasil imajinasi belaka. Ada perjalanan mental spiritual yang dijalani oleh sang penulis hingga menghasilkan karya untuk dikonsumsi oleh publik.

Sebagai prosais yang sudah malang melintang di dunia prosa atau cerita, baik cerpen maupun novel, Jai memerlukan sebuah ruang untuk bisa jujur dalam menjelaskan perjalanan hidupnya, juga proses kelahiran karya-karyanya.

Sebagaimana diakuinya, menulis sastra adalah upaya menjaga diri, memahami diri agar tak kehilangan hak milik sebagai manusia. Ia laksana cinta yang tidak takut pada jarak, waktu, dan ruang. Cinta itu bisa merasakan setiap perasaan baik itu bahagia, sedih, ataupun luka. (hal. 1)

Lahir dari keluarga miskin yang sekaligus buta aksara di lereng gunung Kelud, semasa kecil Jai jauh dari keriuhan baca-tulis di rumahnya. Ia hanya banyak mendengar kisah-kisah dari nyanyian tembang-tembang Jawa yang disuarakan dari setiap pertunjukan tradisional di desanya.

Terkumpul dengan dua belas saudara kandung yang hampir kesemuanya tak berpendidikan tinggi dan hanya Jai yang pada akhirnya berhasil memperoleh kesempatan itu. Ini dimulai dari kegemarannya membaca.

Seperti diakuinya, bahwa setelah ia bisa membaca, ia menikmati barang-barang bekas yang dibawa oleh bapaknya dari pabrik gula tempat bapaknya bekerja, yaitu koran dan majalah.

Namun, apa yang ia jalani sebagai anak desa terpencil di Kediri ini rupanya secara tidak langsung telah memberikan kepadanya bahan-bahan cerita rekaanya ketika pada saatnya ia mampu merangkai kata.

Lingkungan desa yang masih percaya takhayul dan kehidupan sosial desa yang masih sinkretis, dan terlebih lagi dekat dengan beberapa lokasi peristiwa sejarah yang terkait dengan partai komunis. Semua itu terekam di benak Jai sehingga ia mampu menganggit novel yang dianggap sebagian kritikus di Jawa Timur mempunyai latar sosio-historis kuat.

Salah satu novelnya, Kumara-Hikayat Sang Kekasih, pada tahun 2012 menjadi pemenang sayembara novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jawa timur.   Novel ini banyak menggambarkan kehidupan warga desa di seputar pabrik gula Ngadirejo, Kediri, yang notabene adalah tempat kelahirannya.

Bagaimana setiap kenangan yang ia tuliskan berhasil menarik perhatian juri saat itu karena dianggap banyak mengeksplorasi budaya lesan. Bagaimana mitos-mitos di kampungnya dieksplorasi serta konflik sosial tokoh-tokohnya berhasil mengupas sisi kelam sejarah bangsa di tahun 60-an dari perspektif yang berbeda.

Aku mengisahkan periode dramatik bangsa di tahun 1965 dengan sudut pandang korban yang tak kuasa menolak takdir yang terjadi padanya. Dalam Kumara S. Jai mengungkapkan pleidoi rakyat kecil dengan sudut pandang kultur “jawa rendahan” nrimo dan anut gruduk serta tak lepas dari mitos-mitos desa. Setidaknya aku bisa menampilkan betap berharganya kehidupan bagi semesta. (hal. 204-205)

Selain novel tersebut di atas bagaimana proses kehidupan Jai memengaruhi lahirnya novel-novel lainnya, Khotbah di Bawah Lembah, Tanha, Tirai dan Tanah Api, juga diuraikan dengan jelas proses kreatif yang melatarbelakanginya.

Membaca apa yang disajikan oleh Jai, saya mengingat Rekaya Fiksinya Fariz RM. Di situ Faris banyak mengeksplorasi proses terjadinya lagu yang ia ciptakan. Apa yang melatarbelakangi sebuah karya memang tidak bisa dilepaskan dari kesadaran mental pribadi penciptanya.

Meski sebenarnya proses berkarya banyak subjektifnya, namun meminjam pemahaman dari S. Jai, bahwa sebenarnya semua karya masih bertolak dari kesadaran kolektif masyarakat. Itu semua karena karya tak pernah berdiri sendiri. Ia terikat ruang dan waktu, dan tentu saja sebagai sebuah karya sastra tetap harus ada sisi mental spiritualnya; apa pun bentuknya.

Sebagai penulis yang juga sempat menjadi jurnalis ini, Jai hampir merambah semua genre sastra, mulai puisi, prosa, esai, dan drama. Seperti diakuinya, bahwa sejak remaja ia sudah menjadi aktor terkenal di kampungnya. Dan di teater inilah ia mulai luas pergaulannya dan aktif di komunitas seniman, salah satunya Balai Pemuda Surabaya.

Sebagai pemain dan sutradara teater, ia pun pernah membuat heboh saat mementaskan Racun Tembakau adaptasi dari On The Harmful Effect of Tobacco. Drama yang dipentaskan di tengah isu regulasi tembakau ini berhasil menyita perhatian publik.

Kini, meski tak begitu bergelimang materi dengan menjadi penulis, Jai telah menemukan cara mengisi hidupnya. Untuk mengabadikan dirinya, ia harus menulis dan menulis. Sedangkan untuk terus menghidupi keluarganya, ia harus bekerja. Keduanya bisa ia jalani bersama. Baginya, menulis dan bekerja adalah sebuah laku.

Kini Jai telah menikmati dan masih akan membagi kenikmatan itu dengan kita. Bersama keluarga kecilnya, ia mengurus penerbitan yang didirikannya di sebuah desa yang asri di Selatan Kota Lamongan, yaitu di Dusun Tanjung, Kecamatan Ngimbang. Semua tersebab karena Ia telah melawan kematian dengan jalan memeluk keabadian, yaitu terus menulis dan berkarya.

  • Judul: Melawan Kematian, Sebuah Otobiografi Estetik
  • Penulis: S. Jai
  • Penerbit: Pagan Press, Lamongan
  • Tahun: 2015
  • Tebal: x+254
  • ISBN: 978602716030902