Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan virus korona (Covid-19) sebagai pandemi, perekonomian menjadi lumpuh. Perekonomian global diperkirakan mengalami defisit hingga ke level mines dua persen. Perekonomian Indonesia juga diperkirakan runtuh hingga ke level negative growth.

Dari wabah Covid-19, menjamur wabah-wabah yang lain. Yang paling gamblang sekarang adalah wabah PHK, wabah pengangguran, wabah hoax, wabah masker, wabah cemas-takut, wabah gak sabaran, serta wabah lain yang siap mengintip. Pokoknya, perpanjangan lama waktu domisili Covid-19 di berbagai negara menciptakan wabah baru.

Efek virus corona rupanya makin serius menggerayangi semua sektor kehidupan. Pengangguran meningkat. Usaha bangkrut. Bisnis mengalami pendarahan hebat hingga kerugiaan triliunan rupiah. Tempat ibadah ditutup. Sistem belajar-mengajar beralih daring. Singkatnya, ‘tak ada kerumunan. Tak ada “sentuhan.”

Untuk menanggulangi wabah ini, maka ditetapkan kebijakan work from home (WFH). Kebijakan ini dinilai mampu memotong rantai penyebaran virus corona. Beberapa negara, seperti Vietnam dan Selandia Baru, terbukti berhasil ketika menerapkan kebijakan ini.

Jika semuanya dirumahkan, apa yang perlu dibuat? Jika selama sembilan bulan, semua orang dilarang keluar rumah, bagaimana dapur bisa tetap ngepul? Melalui kebijakan stay at home, masing-masing orang perlu kreatif agar tetap produktif. Semua upaya untuk tetap produktif selalu mengarah pada terjaminnya kehidupan (prosperity). Jika tidak, kita bakal mati kelaparan, bukan karena Covid-19.

Akan tetapi, perlu disadari bahwa ketika diharuskan berada di rumah (stay at home) dan bekerja dari rumah (work from home), tidak semua pekerjaan bisa seproduktif, seperti ketika kita berada di luar rumah. Hal ini mengantar kita pada logika kapitalisme lama yang menuntut adanya interaksi langsung dalam bekerja.

Logika kapitalisme lama menuntut adanya interaksi langsung antara buruh dan majikan, antara pemilik usaha dan para pekerja. Di dalam rumah, semua pekerjaan terbatas. Mereka yang kemarin bekerja dengan sistem kontrak, tentunya akan kehilangan upah dan lahan kerja ketika dipaksa harus bekerja dari rumah.

Di tengah pandemi ini, kita tetap patuh agar hastag di rumah aja menjadi status harian dan story 24 jam di plat media sosial masing-masing kita. Story ini (stay at home) harus selalu update. Maka, agar bisa tetap stay safe ketika berada di rumah, sebisa mungkin dicari penghasilan lain agar bisa bertahan hidup. Apapun bentuk pekerjaannya, yang penting halal. Yang bisa dilakukan sekarang adalah menjadi relawan.

Opsi menjadi relawan adalah salah satu bentuk pekerjaan mulia di tengah pandemi ini. Relawan dalam hal ini memiliki beragam bentuk. Ada model relawan yang getol mengadakan konser musik dari rumah untuk menghibur orang agar betah berada di rumah, ada relawan yang berusaha menularkan berita-berita yang benar dan membendung hoax-fakenews, ada relawan yang berupaya membagikan sembako, relawan di bidang keamanaan wilayah, dll. 

Semua ini adalah aneka pekerjaan yang selalu digandrungi. Sekali lagi, di balik semua pekerjaan ini, pasti ada upahnya. Dan, yang penting halal.

Beberapa relawan mengatakan bahwa dengan menjadi relawan, kita tidak hanya menyumbangkan tenaga, waktu, fasilitas saja, akan tetapi kita sejatinya tengah mempromosikan solidaritas (solidarity) dan rasa cinta (sense of love). Danuri (39), seorang koki mengaku merasa stres, jenuh, dan gabut saat krisis sekarang. Akan tetapi, ia justru mencari ruang yang bisa digunakan sebagai celah untuk tetap hidup dan bisa berbagi.

Ia memilih menjadi relawan di LAZ UCare Indonesia. Sebagai seorang relawan, ia mengandalkan tenaga untuk tetap membangun kerja sama dengan pihak UCare. Ia justru berterima kasih karena pihak UCare juga memperhatikan kesejahteraan para relawan dengan memberikan insentif. "Apa pun ya saya kerjakan yang penting halal, seperti menjadi relawan di UCare demi dapur tetap ngepul," ujar Danuri.

Kisah lain dari relawan ini datang dari Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Bripka Jerry Tumundo, Kanit Reskrim Polsek Dimembe, Minahasa Utara berani menjadi relawan dalam menguburkan jenazah pasien virus corona. Banyak orang menjauh ketika diminta untuk menguburkan pasien Covid-19. 

Akan tetapi, Bripka Jerry memilih untuk menjadi garda terdepan proses penguburan. Aksi Bripka Jerry akhirnya mendapat apresiasi dari Kapolri Jenderal Idham Azis. Idham Azis memberikan hadiah berupa kesempatan mengikuti Sekolah Inspektur Polisi (SIP) kepada Bripka Jerry.

Saya sendiri mengisi masa pandemi Covid-19 ini dengan menulis. Sehari, saya wajib menuliskan satu artikel sebagai wahana menyambangi jarak. Jika perjumpaan vis a vis tak lagi dimungkinkan, maka optimalisasi penggunaan media sosial bisa menjadi alternatif.

Dalam satu artikel, saya bisa mengulas apa saja. Apa yang penting bahwa selama masa pandemi, saya tetap menjadi pribadi yang produktif - meski jarak tak lagi didekati. Artikel-artikel ini bisa diunggah ke platform media apapun. Dengan ini, saya menjaga stamina produktivitas diri dengan cara saya.

Tempat kerja tutup, maka relawan jadi opsi. Hal-hal kreatif lainnya untuk tetap produktif adalah dengan menggunakan kanal hiburan, seperti YouTube, facebook, instagram, whatsapp, dan kanal media sosial lainnya. Inilah bentuk kepeduliaan di saat krisis seperti sekarang. Karena lawan dari cinta di zaman sekarang bukan lagi benci, melainkan ketidakpedulian.

Maka, dengan menampilkan konten-konten yang menarik di kanal media sosial, secara tidak sadar kita tengah mengampanyekan upaya melawan korona dengan tetap berada di rumah. Selain mengampanyekan kebaikan, orang akan menghargai karya-karya kita dengan kontribusi apa pun untuk menunjang kehidupan. 

Dapur tetap ngepul, jika kita giat meniupkan api kebaikan melalui media apa saja. Ingat pesan Paus Fransiskus: "The more you give yourselves to others, the more you receive and be happy!"