Jika ditanya apa yang mampu mereduksi jumlah para penyinyir doang, sekelompok penghujat, segolongan penerka, saya akan menjawab dengan yakin, perangai ilmiah dan kesadaran bernalar. Ia merupakan alat dasar kontruksi pemikiran rasional. Ibarat memasak sayur, peran perangai ilmiah setamsil pisau, wajan, kompor, buku resep dan korek api.

Pun pembeda kaum intelektual dengan penyinyir doang adalah kecakapan bernalar yang tumbuh dari perangai ilmiah.  Saya mengistilahkan penyinyir doang karena spesies manusia ini sering melabeli tanpa tedengaling, tanpa bukti, dan kebanyakan didorong doktrin dan dogma yang dipahami dangkal.

Maka bukalah kemudian sosial media, laman berita, banyak para penyinyir doang yang memenuhi setiap baris komentar dan link berita kekinian. Bahasa nyinyir yang aduhai, sungguh kurang sedap di mata, dan argumen salah kaprah sungguh bisa membuat muntah.

Jika saja, semangat menyinyiri kisruh sosial-politik misal, didasarkan pada teori sosialnya Auguste Comte, lalu menilik ke eksistensi personal elit politik ala teorinya Sartre dan Camus. Kemudian meninjau laku sadisme ke rakyat ala Freud, tentulah nyinyirannya lebih berkelas.

Atau semangat menyinyiri bukti, teori fisika, teorema, aksioma, postulat, tentulah akan lain ceritanya. Maka saya beri empat jempol—meminjam jempol tetangga—dan memanggil si penyinyir dengan kategori demikian sebagai penyinyir Ok. Tatkala si penyinyir Ok melihat topik berita hot tentang isu kebangkitan komunisme dan Leninisme mereka menyinyiri tendensi miring penyaji berita.

Menyinyiri si Semprul yang berkomentar miring tanpa landasan ilmiah, pun meragui kutipan sejarah yang partikular sebagai bukti yang dipaparkan. Dan menghindari argumen yang menyerang penganutnya, bukan paham yang dianut. Jangan pernah tiru si Semprul. Sungguh indah tatkala mendudukkan perkara dengan pertanyaan, kenapa itu berbahaya? Dan sederet pertanyaan kenapa susulan yang mengikuti.  

Kata –kurang lebih—salah seorang guru saya, “In live, every people is different with another from sense of inquiry. We should have fundamental questions about anything. And primordial question in the beginning of an exist of mankind is why.” Mempertanyakan kenapa?

Tatkala kita digempur tetanda dari banyak sisi. Pertanyaan kenapa membentengi kita tak asal-asalan menjadi pengekor. Apalagi di zaman kekinian, sebagian kita asyik menyinyiri banyak hal tak penting. Perangai ilmiah mampu menyulap yang penyinyir doang menjadi penyinyir bermutu tinggi, penyinyir Ok.

Akan setara derajatnya dengan jomblo yang telah mengalami proses di-AgusMulyadi-kan. Pikirannya akan terarah. Lakunya berdasar isi kepala. Sungguh iri saya tatkala mengingat capaian orang-orang India soal ini. Mereka kini tampil sebagai masyarakat yang diperhitungkan menjadi “Raja lain” di Asia setelah Jepang dan China.

Untuk mengimbangi mereka, saya ingin mencetuskan sebuah program ngaco bernama Ayo Menyinyiri Semesta. Demi Indonesia yang lebih baik dengan penyinyir yang menghasilkan karya berkelas di Physical Review, IOP Science, MDPI Journal misal atau Elsevier. Masa’ kalah sama negara tetangg—agak—jauh.  

Kalau kebetulan anda berkesempatan mengikuti suatu forum ilmiah, satu kelas dengan mahasiswa doktoral dari India, atau bahkan sekadar bincang-bincang di pojok Star**ck, maka—biasanya—anda akan berdecak kagum. Mereka terlihat sangat mahir berdebat, dan cakap dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bagus.

Pernah suatu ketika saya berdebat dengan kawan dari Aligaarh Muslim University terkait topik horizon virtual lubang hitam, tiba-tiba ia bertanya balik dengan pertanyaan yang kedengarannya sederhana namun rumit, jika saja saya tak diasah dan ditempa dengan kultur ilmiah serupa saat kecil maka tetntulah pertanyaan mereka akan jadi awal dari rasa lucu karena mereka akan menganggap teman debatnya adalah manusia tak bernalar. Sungguh, jika anda dalam posisi serupa jangan sampai di skak di forum. Rasanya tak enak.

Lalu kemudian, saya tergerak ingin tahu apa rahasia di balik skill mereka? Pak Iwan Pranoto, seorang atase pendidikan yang juga guru besar  matematika ITB pernah ngomong bahwa, “itu karena jasa mantan perdana menteri, Nehru.”

Waw, Paman Nehru –begitu anak-anak India mengenalnya—mewariskan hal yang luar biasa.

Di Indonesia kita punya simbahe Tan Malaka. Seorang yang punya sisi tepat diconteki untuk mencapai budaya bernalar dan perangai ilmiah. Konon, simbahe tetap bahagia semasa pelarian karena tetap mampu menjaga rasa kasmarannya bermatematika. Bernalar di hadapan ilmu abstrak dengan keindahan yang tersembunyi.

Maka Bapak bangsa ini patutlah menjadi teladan luar biasa sepanjang zaman yang mampu menyaingi Paman Nehru-nya India. Tan Malaka adalah paduan sempurna dari manusia yang menghragai aktivitas bernalar, berlogika dan bermatematika.

Mari mengutip tulisannya di buku Madilog. ”…otak yang sudah dilatih oleh matematika lain sikapnya terhadap sesuatu persoalan daripada otak mentah,”Sungguh luhur pesan Tan Malaka.

Berikutnya mari mengutip komentar Pak Iwan Pranoto tentang Tan Malaka, “Di kalimat sebelumnya Tan menuturkan, walau bidang pekerjaan seseorang tak berkait langsung dengan matematika, tetap akan terbantu jika nalarnya pernah dilatih lewat pengalaman bermatematika.

Tentu saja pandangan Tan pada pendidikan matematika ini relevan sampai hari ini. Pernyataan ini mengirimkan pesan tentang guna bermatematika. Apakah anak-anak kita hari ini memahami guna matematika untuk mengembangkan kecakapan berpikir sama seperti Tan?”

Saya menduga penyinyir doang mungkin memiliki otak mentah dan tak membiasakan diri bernalar. Tak terlatih. Dan ini bisa berbahaya.

Terakhir, untuk para kawan-kawan penyinyir doang bertransformasilah menjadi terhormat dengan matematika, lalu milikilah perangai ilmiah, lalu jadilah penyinyir Ok.

Jadi jika kebetulan bangsa ini punya impian serupa dengan saya, sebelum bermimpi punya perangai ilmiah, ada baiknya membangun tradisi matematika yang mantap. Dimulai dari pribadi, lalu ke generasi berikutnya.