Abad ke-21 menuntut totalitas dan profesionalisme individu dalam meniti karier. Persaiangan global telah membuat semua elemen pekerjaan menuntut kerja ekstra agar dapat tetap konsisten.

Rentang waktu 24 jam bukan lagi tentang kerja dan keluarga. Sekarang porsinya telah bergeser pada pekerjaan semata dengan opsi keluarga kerap terpinggirkan. Efeknya tentu saja menjalar kulaitas family time saat sekarang ini.

Dahulu hari minggu adalah saat yang sangat berkualitas dan spesifik bagi sebuah keluarga. Kata liburan sangat erat dengan hari spesial ini. Anak - anak merasakan kehadiran orangtua sepanjang hari. Berekreasi ketempat favorit anak atau sekadar memancing di selokan belakang rumah. Sederhana, murah, namun memiliki kualitas hubungan yang jauh lebih bernilai dari keadaan dewasa ini.

Segala penat perkerjaan serasa sirna ketika dapat bercanda tawa bersama buah hati. Anak-anak pun merasakan sentuhan kasih yang mereka rindukan selama sepekan. Fenomena ini terangkum apik dalam sebuah rutinitas bernama “liburan akhir pekan”.

Jangankan fashion, kadang bagi anak laki - laki dan sang ayah, bertelanjang dada adalah sebuah hal biasa dalam menikmati waktu akhir pekan bersama. Sementara ibu, bergulat di dapur dengan tomat, cabai dan terasi untuk membuat sambal tomat favorit keluarga. Rasa lapar yang mendera akibat terlalu lama berendam di selokan menambah nikmat hidangan pagi.

Pola hidup modern perlahan memusnahkan itu semua. Liburan akhir pekan yang penuh kehangatan telah tergantikan. Sekarang intinya adalah bagaimana sebuah keluarga dapat bekerja secara total untuk dapat memenuhi segala kebutuhan sesuai fashion. Waktu adalah kerja, dan kepraktisan adalah segalanya.

Akhir pekan bukan lagi masalah liburan keluarga. Akhir pekan adalah waktu menunjukan jati diri yang muaranya disajikan dalam media sosial. Bapak yang sibuk dengan hobi mahalnya, Ibu yang menginspirasi lingkungan dengan kelompok senam kekinian, sementara anak - anak sibuk menginspirasi netizen dengan konten tiktok sambil rebahan.

Tak jarang aktivitas ini akhirnya mengarah pada motif ekonomi. Demi kemajuan, maka seseorang harus dapat melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang sama. Sekali lagi, tuntuan gaya hidup telah membuat kesederhanaan itu bergeser menjadi sebuah kekurangan yang harus dapat dipenuhi dengan segala cara.

Kemajuan adalah bagaimana memanfaatkan peluang sebaik mungkin. Bahkan demi alasan ini, keluarga (anak) bukan lagi menjadi prioritas saat akhir pekan. Jangankan diakhir pekan, waktu untuk mereka bahkan sangat terbatas setiap harinya. Beban kerja selalu menjadi alibi pembenaran akan apa yang dilakukan.  

Sebelum era digital, keluarga banyak memanfaatkan jasa asisten rumah tangga untuk membantu dalam pengasuhan anak. Pada awalnya profesi ini sangat dekat dengan sebuah keluarga, tak jarang ikatan emosi membuat seorang asisten rumah tangga tak ubahnya seperti keluarga sendiri.

Seiring dengan semakin banyaknya permintaan, maka kualitas pengasuhan dirasa semakin menurun. Penggunaan obat tidur, penculikan dan penjualan organ menambah kekhawatiran terhadap pemanfaatan asisten rumah tangga.

Tempat penitipan menjadi alternatif selanjutnya. Namun, lagi - lagi ketakutan yang sama mulai merebak. Banyak kasus kekerasan juga terjadi disini. Perlahan orang - orang mulai meninggalkan alternatif ini.

Dunia digital hadir memberikan solusi instan.Handphone, ya! Gawai ini dianggap solusi instan dari permasalahan pelik ini. Pada awalnya telepon rumah adalah sarana untuk mengobati kerinduan sanak saudara yang nun jauh disana. Masih ingatkah kita dengan istialah SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh)? Menelpon adalah kegiatan mahal yang dilakukan seperlunya saja kala itu.

Pada perkembanganya gawai menjadi pilihan brilian. Brilian karena dapat “mengasuh” anak tanpa resiko seperti dalam mempekerjakan asisten rumah tangga ataupun jasa penitipan anak. 

Berbagai aplikasi yang dapat diakses membuat banyak hal menarik yang dapat disimak melalui gawai ini. Sistem komunikasi yang berkembang pesat telah membuat benda yang awalnya tergolong benda mahal ini menjadi menu wajib dalam melewatkan hari.

Jadilah sebuah pemandangan akhir pekan era milenial. Semua ada dirumah, sibuk dengan dunianya sendiri. Egoisme atas nama kekinian telah meracuni nilai suci sebuah keakraban keluarga. Semua sibuk dengan konten dan postingan masing - masing. Bapak dengan hobi mahalnya, Ibu dengan komunitas ibu - ibu seksinya, sedangkan anak-anak bertiktok ria tanpa memikirkan norma ataupun mendapat bimbingan selaiknya.

Corona seperti malaikat maut yang dikirim Penguasa Dunia untuk membuat kita menarik nafas panjang. Ia adalah wabah komplit yang bisa menghancurkan sistem kekebalan kita dari berbagi aspek. Kurangnya aktivitas fisik yang cenderung kita lakoni telah memudahkan virus ini menyebarkan maut keseluruh penjuru dunia. 

Kedatanganya yang tiba-tiba bahkan telah menimbulkan keraguan akan kebenaran virus ini sendiri. Sementara korban terus bertambah menambah sengsara umat manusia. Ruang publik tempat berkarya telah menjadi seperti medan perang dengan protokol kesehatan yang ketat.

Dengan berkurangnya aktivitas luar rumah, maka dengan sendirinya tercipta ruang untuk mendekatkan diri dengan keluarga. Pertanyaanya, sudah siapkah kita dengan fenomena ini?

Menurut hasil survei daring Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap lebih dari 20.000 keluarga, 95% keluarga dilaporkan stres akibat pandemi dan pembatasan sosial. Hal itu terjadi pada April-Mei 2020. Kita sebuah kesempatan mengembalikan fitrah keluarga, tampak hanya penyesalan yang menonjol.

Efek lanjutan dari stres adalah KDRT. Di seluruh Indonesia, KDRT meningkat di masa pandemi. Survei Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan peningkatan( KDRT) sekarang ini. Pada tahun 2019 setiap bulannya terdapat laporan 60 kasus KDRT, sedangkan pada masa pandemi terdapat 90 kasus setiap bulannya.

Dimanakah rasa bersyukur kita? Saya mengacu istilah “aget” (beruntung) dalam budaya masyarakat Bali. Misalnya kita mendapat musibah kecelakaan dengan rusaknya kendaraan. Maka orang - orang akan berucap “aget batise sing lung” (beruntung kakinya tidak patah) walaupun sebuah kendaraan telah rusak parah dalam kejadian itu. Kenyataanya sekarang, orang - orang sibuk menyalahkan tentang siapa yang salah dalam musibah itu.

Gambaran diatas telah menunjukan bahwa tujuan utama kehidupan bukan lagi untuk membangun keluarga yang kuat, namum lebih pada penonjolan ego pribadi. Keluarga bukan lagi alasan utama kita bekerja. Kita bekerja ternyata untuk pemuasan hasrat kita sendiri.

Fenomena yang terjadi justru kedekatan keluarga hanya terangkum dalam image semata. Foto dalam status, kegembiraan dalam postingan, serta kebersamaan semu dalam profile picture.

Tidakkah sebaiknya momen pandemi ini kita gunakan sebagai instrospeksi atas apa yang telah berubah dalam kehidupan keluarga? Siapkah kita mengalami penurunan omset demi sedikit ruang berbagi dengan keluarga?

Sekilas, wabah ini nampak seperti kiamat. Kita dibuat susah bekerja, susah belajar, susah bersosialisasi, bahkan sangat susah untuk sekadar menghirup udara bebas untuk sekadar berolahraga.

Namun di balik itu semua, ini adalah sebuah kesempatan untuk mengembalikan jati diri keluarga. Tidak akan ada gunanya pemerintah menggaungkan program revolusi mental dengan sub pendidikan karakter dalam jika kita tidak memulainya dari lingkungan keluarga.

Pandemi ternyata telah memberikan blessing in diguise kepada kita. Dalam momen lembaran baru tahun ini. Sudah saatnya kita introspeksi diri. Apalagi kesempatan telah terbentang di hadapan kita. Bergantung pada kita akan memanfaatkanya atau tidak.