Mahasiswa
3 tahun lalu · 441 view · 2 menit baca · Budaya perbedaan-nabi-dan-rasul.jpg
Foto: wizamisasi.com

Jadi Nabi Tak Semudah Bupati

Di zaman modern saat ini, banyak di antara masyarakat Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai Nabi utusan Tuhan. Tanpa harus menyebut beberapa contoh nama yang mengaku dirinya sebagai nabi, namun dampak yang ditimbulkan sangatlah resisten dan banyak menyedot perhatian masyarakat.

Disebut resisten karena memang faktanya banyak dari umat muslim yang langsung bersikap responsif dan melegitimasi “sesat” atau “kafir” bahkan sampai melaporkannya ke polisi atas dasar penistaan agama terhadap orang-orang yang mengaku sebagai pengemban wahyu Tuhan tersebut.

Terlepas dari siapakah yang benar atau salah dari cerita di atas, namun hal tersebut adalah kenyataan yang ada di tengah-tengah kehidupan kita yang harus disikapi secara bijaksana. Hal tersebut dipandang penting supaya kekerasan atas nama agama dan keyakinan tidak lagi terjadi di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk dan multikultural.

Dalam sejarahnya, menjadi Nabi memang tak semudah menjadi bupati, gubernur ataupun presiden. Karena untuk menjadi pejabat publik di tengah arus sistem demokrasi saat ini, kualitas seseorang tidak terlalu dihiraukan, asalkan punya dukungan suara terbanyak dialah yang menang dan berhak menduduki jabatan tersebut. Kemudian bagaimanakah seseorang dapat menjadi seorang Nabi?

Seseorang dapat diangkat menjadi Nabi tentu merupakan hak prerogatif Tuhan. Tidak ada kewenangan dari manusia untuk bermusyawarah atau melakukan voting dalam hal menentukan siapa nabinya. Karena pada dasarnya seorang nabi itu diangkat dan ditentukan oleh Tuhan, maka sulit bagi kita untuk mengukur standarisasi kualitas-kualitas yang melekat pada seseorang yang menjadi nabi tersebut.

Bagi Ibn Sina, Nabi adalah seseorang yang memiliki kualitas kecerdasan yang melampaui manusia lain pada umumnya. Dia adalah seseorang yang mampu mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tanpa melalui perantara pengalaman indrawi. Maka tidak salah jika sekiranya setiap ucapan (wahyu) yang dilontarkan seorang nabi selalu di luar nalar dan pengalaman manusia pada umumnya. Pengetahuan seorang nabi secara langsung diajarkan oleh Tuhannya.

Secara sederhana Ibn Sina mencoba untuk menggambarkan kualitas kesempurnaan dari setiap entitas makhluk hidup yang ada di semesta ini. Antara hewan dan tumbuhan, yang lebih utama adalah hewan. Hewan itu ada yang berpikir, ada juga yang tidak. Dari keduanya, yang berpikirlah yang lebih memiliki keutamaan. Hewan berpikir tersebut yang kemudian dinamakan manusia.

Kemudian, dalam mendapatkan pengetahuan, manusia memiliki dua jalan, yaitu pengetahuan yang didapat melalui perantara panca indra, dan pengetahuan yang didapat tidak melalui perantara apa pun.

Di antara dua jalan tersebut, manusia yang mendapatkan pengetahuan dengan jalan tidak melalui perantara indrawilah yang lebih utama dan sempurna. Dan dia itulah yang kemudian dinamakan nabi. Kepadanya berakhir segala kesempurnaan di dalam bentuk benda-benda yang dipikirkan.

Puncak kecerdasan manusia hanya dimiliki oleh seorang nabi. Segala bentuk pengetahuan yang ada pada seorang nabi disebut wahyu. Karenanya wahyu merupakan limpahan karunia dari Tuhan. Melalui kekuatan Malaikat, limpahan karunia Tuhan tersebut bisa sampai kepada seorang nabi.

Bisa dikatakan bahwa sabda seorang nabi adalah ilmu yang langka dan mahal, karena itu bersumber langsung dari Tuhan. Sebagaimana disebutkan oleh Plato di dalam bukunya Nomoi, bahwa seseorang yang tidak memahami arti dan makna dari rumusan-rumusan yang diajarkan para nabi, berarti seseorang tersebut belumlah mencapai rahasia ilmu Tuhan.

Jadi, simpulannya adalah nabi itu manusia tercerdas di dunia. Sebelum anda mendeklarasikan diri sebagai seorang nabi, alangkah bijaksananya jika anda mengukur dan menilai kecerdasan diri sendiri. Jangankan untuk menjadi manusia tercerdas di dunia, pertanyaannya adalah apakan IQ anda melampaui Habibie? Jika tidak, lebih baik anda nyalon jadi bupati.

Artikel Terkait