Pemilihan Yaqut Cholil Qoumas oleh Presiden Joko Widodo menggantikan Fahrur Razi sebagai Menteri Agama mengejutkan banyak pihak. 

Gus Yaqut, sapaan akrabnya, sebelumnya tidak masuk dalam daftar nama yang akan mengisi reshuffle menteri jilid pertama ini. Di sisi lain, banyak pihak yang menganggap penunjukan Gus Yaqut sebagai Menag sangat tepat untuk mengurusi keberagamaan di Tanah Air, yang makin ke sini problematikanya makin beragam.

Menilik menteri sebelumnya, Fahrur Razi hanya menjabat selama 14 bulan. Mantan jenderal TNI ini didapuk Presiden Jokowi untuk memerangi virus radikalisme di Indonesia, yang mana sejak medio tahun 2016-an isunya mengganggu stabilitas negara. 

Akan tetapi, pada permulaan menjabat, yang dihadapi Fahrur Razi bukan problematika Virus Radikalisme, malahan Virus Corana yang nampak di pelupuk mata. Praktis problem yang dihadapi Fahrur Razi bukan di bidangnya seperti yang diharapkan Presiden Jokowi.

Karena kurangnya pergerakan, tentu kinerjanya mendapat kritikan dan sorotan dari berbagai pihak. Bisa dikatakan waktu 14 bulan yang dijalani Fahrur Razi sangat jauh dari ekspektasi. 

Belum lagi statement-nya yang kontroversial. Ia yang bukan ahli dalam agama ketika bicara perihal agama membuat publik tidak nyaman dengan statement dan kebijakannya. Pernyataan-pernyataannya berkaitan dengan agama sering gagal paham, seperti ucapannya tentang cadar, celana cingkrang, ustaz Good Looking, dan sertivikasi dai dinilai gagal paham dan tidak sesuai.

Malahan ketika isu radikalisme mencuat kembali akhir-akhir ini, Fahrur Razi cenderung pasif, tidak ada tindakan-tindakan tegas seperti awal mula menjabat dahulu. Kemudian lahir kritik mencolok dari Anggota Komisi VIII DPR, Ali Taher, ketika mengungkapkan Fahrur Razi lebih cocok menjadi Menteri Pertahanan ketimbang menjadi Menteri Agama.

Maka, Penunjukan Gus Yaqut ini saya nilai sangat tepat. Problematika yang tidak bisa diselesaikan menteri sebelumnya akan bisa dibereskan dengan tuntas. Hal itu didukung dengan rekam jejaknya di bidang keberagamaan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Lahir dari darah pesantren tulen, kariwrnya di bidang agama, khususnya NU sangat mentereng. Dua periode menjabat sebagai ketua PP GP Ansor tentu kredibilitasnya bukan kaleng-kaleng. Ibarat kata, Gus Yaqut menjadi Menteri Agama ini hanyalah pindah kantor kerja saja; yang sebelumnya bermarkas di NU, sekarang bermarkas di kantor milik negara.

Urusan yang ditangani GP Ansor pun tidak jauh beda dengan yang dihadapi oleh Kementerian Agama, hanya wilayah konstitusional saja yang tidak ditangani. GP Ansor yang dipimpin Gus Yaqut selama ini memang menjadi garda terdepan dalam memerangi radikalisme bisa dikatakan GP Ansor lebih serius melawan radikalisme daripada pemerintah itu sendiri. Apalagi sudah 10 tahun Gus Yaqut bergelut dengan radikalisme, tentu suatu perkara yang tidak asing lagi dengannya.

Lalu kredibelkah Gus Yaqut dalam mengelola Konstitusi Pemerintahan?

Tahun 2005, ia menduduki kursi wakil bupati Rembang. Kemudian jabatan yang ia tinggal demi Menjadi Menteri Agama pun Kursi DPR RI Komisi II. Di sana putra KH Cholil Bisri ini menduduki sebagai wakil ketua komisi.

Dengan pengalaman sebelumnya di kursi legislatif dan sekarang menduduki jabatan eksekutif, tentu akan membuat komunikasi dan relasi dua lembaga besar negara ini menjadi lancar serta tidak saling salah paham, sebuah perkara yang tidak bisa dilakukan menteri sebelumnya.

Apalagi ia merupakan tokoh Nahdlatul Ulama, yang memiliki basis public paling luas, tentu langkah dan kebijakannya akan banyak yang mendukung daripada yang merudung, meskipun tidak menutup kemungkinan akan mendapat kritik dari kelompok minoritas, saya rasa ia akan bijak dalam menjalankan amanahnya.

Melihat fakta rekam jejak Gus Yaqut di atas, baik di tatanan negara maupun luar agama, praktis Gus Yaqut hanya pindah kantor kerja. Semua kesibukan yang ada di dalam Kementerian Agama sudah pernah dilahap olehnya dulu ketika di PP GP Ansor.

Basic sebagai tokoh ulama dan juga figur umara yang melekat padanya sangat membatu kinerjanya. Publik pun akan menaruh kepercayaan ‘lagi’ pada kementerian agama yang sebelumnya luntur di era Menteri Fahrur Razi.

Terakhir, pada akhirnya Presiden Jokowi sadar, pos kementerian agama seolah tidak akan berjalan lancar bila tidak ditangani dari kalangan Nahdlatul Ulama yang sudah menjadi ‘langganan’ NU sejak Orde lama maupun Orde Baru, karena memang NU paling membidangi keberagaman beragama di negeri ini.

Ketika Menag bukan dari NU, rata-rata publik kurang puas dan selanjutnya pun kinerjanya tidak jalan. Hal itu sesuai dengan sabda Nabi, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”

Di sini Gus Yaqut sangat kredibel untuk menduduki jabatan Menteri Agama. Insyaalloh keberagamaan di Indondesia ini akan rukun damai sentosa, penuh toleransi, radikalis, dan teroris musnah di bawah kepemimpinannya.

Selanjutnya, kita amanahkan sepenuhnya kepada Gus Yaqut. Selamat menjalankan tugas, Gus!