Ragam budaya di Indonesia menjadikan Indonesia disebut sebagai negara yang multikultural. Dari mulai adat istiadat, makan khas, rumah adat, pakaian adat, sampai dengan bahasa daerah. 

Melansir dari laman indonesiabaik.id, jumlah pulau di Indonesia yang tercatat hingga tahun 2021 sebanyak 17.000 pulau dengan kurang lebih 34 provinsi yang tersebar dari sabang sampai merauke. Salah satu pulau dengan penduduk terpadat adalah pulau Jawa.

Apa yang muncul pada pikiran kalian ketika mendengar kata Jawa? Pulau Jawa terbagi menjadi beberapa daerah. Selain itu, ada pula perbedaan suku yang dianut oleh masyarakat pulau Jawa. 

Pasti sebagian besar dari kita sudah tidak asing jika mendengar kata Yogyakarta atau Solo. Ya, itu merupakan salah satu kota yang ada di Jawa.

Lalu, apasih suatu hal yang identik dengan Yogyakarta dan Solo? Apakah tentang unggah - ungguh dan sopan santun masyarakatnya? Atau kehidupan keluarga ningrat yang terlihat anggun dan berwibawa?

Memang banyak hal yang identik dan menarik untuk dipelajari dari kota yang istimewa dan berseri ini. Dari mulai makanan, tempat, dan kebiasaan masyarakatnya. 

Jika kita berkunjung ke Yogyakarta pasti kita akan menemukan banyak angkringan di sana. Biasanya angkringan ini buka pada malam hari dan menjajahkan berbagai jenis makanan yang identik dengan cita rasa manis.

Pernah nggak sih kalian membayangkan ‘’Jawa’’ yang berbeda?

Seperti misalnya di daerah Banyumas dan sekitarnya. Mungkin bagi beberapa orang daerah itu terdengar asing. Banyumas adalah salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. 

Ada sedikit perbedaan dalam bahasa yang digunakan dalam keseharian masyarakat yang ada di Banyumas dan sekitarnya. Perbedaan itu terlihat dari dialek dan logat bicaranya.

Jika di Yogyakarta dan Solo menggunakan dialek Mataram, sedangkan di Banyumas menggunakan dialek Banyumasan. Dialek tersebut yang sering disebut sebagai bahasa ngapak.

Biasanya bahasa ngapak menggunakan banyak bunyi vokal ‘’a’’ pada akhir kata. Sementara di Bahasa Jawa baku bunyi ‘’a’’ akan berubah menjadi ‘’o’’. Misalnya orang Banyumasan akan menyebut ‘’sega’’ yang berarti nasi, sedangkan orang Solo akan menyebutnya dengan ‘’sego’’.

Perbedaan yang mencolok lainnya yaitu pada pengucapan konsonannya. Pada bahasa ngapak, konsonan ‘’G’’, ‘’K’’, ‘’D’’, DAN ‘’B’’ dibaca jelas. Sementara pada Bahasa Jawa yang baku akan dibaca samar-samar. 

Contonya pengucapan kata ‘’Bapak’’ pada orang Banyumas akan dibaca jelas huruf ‘’k’’ pada akhiran katanya. Namun, orang Solo akan mengucapkannya dengan samar-samar. 

Biasanya bahasa ngapak digunakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Tegal, Pekalongan, Brebes, dan Kebumen.

Akan tetapi, tahukah kalian bahwa Bahasa Jawa Ngapak merupakan turunan asli dari Bahasa Jawa Kuno? Bahasa Jawa baku atau yang sekarang digunakan oleh masyarakat Yogyakarta, Solo dan sekitarnya sudah melewati beberapa tahap perubahan. Sedangkan Bahasa Jawa ngapak merupakan Bahasa Jawa Dwipa yang konon adalah bahasa Jawa murni. 

Hal ini terjadi karena munculnya kerajaan-kerajaan di pulau Jawa yang memunculkan sistem sosial yang memberikan kekuasaan besar pada golongan bangsawan. 

Dahulu pusat pemerintahan terdapat di Yogyakarta dan Surakarta, lalu mereka menyebarkan dialek Mataram yang merupakan bahasa Jawa baku di daerah pusat pemerintahan. Sehingga, masyarakat di daerah Yogyakarta, Solo dan sekitarnya menggunakan dialek Mataram tersebut. 

Namun, dikarenakan wilayah Banyumas jauh dari pusat pemerintahan, menyebabkan masyarakat di Banyumas dan sekitarnya tetap mempertahankan bahasa Jawa kuno dengan dialek Banyumasan.

Bagi beberapa orang yang belum pernah atau jarang mendengar bahasa ngapak, mungkin terdengar kasar, karena memang pengucapannya yang jelas dan keras. 

Saya sendiri adalah orang asli Kebumen yang berkuliah di Solo. Tentunya ada banyak culture shock ketika saya baru datang dan bersosialisasi dengan teman perkuliahan. Apalagi dari segi bahasa dan logatnya. Mereka menganggap bahwa bahasa yang saya ucapkan terkesan kasar.

Butuh penyesuaian dengan teman baru yang berbeda daerah di sini. Tapi kenapa sih banyak orang yang malu ketika menggunakan bahasa ngapak? Padahal itu adalah budaya kita sendiri, sudah seharusnya kita bangga dan melestarikannya. Beberapa alasan mengapa beberapa orang malu untuk menggunakan bahasa ngapak antara lain :

1. Bahasa ngapak sering dijadikan sebagai bahan candaan

Karena logatnya yang berbeda dan terkesan udik atau kampungan, membuat beberapa orang menjadikannya sebagai bahan candaan. Seperti mengatakan cantik-cantik kok ngapak? Tanpa mereka sadari, mereka telah mencela salah satu bahasa daerah yang menurut saya unik dan perlu dilestarikan.

2. Media masa biasanya menjadikan ‘’orang ngapak’’ sebagai objek komedi

Sering kita jumpai di telivisi menampilkan beberapa tokoh atau figure ngapak yang menjadi komedian, dan mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh komedian ini lucu. Hal itu lah yang menjadikan bahasa ngapak menjadi sebuah lelucon.

3. Kurangnya kesadaran dan kepercayaan diri di kalangan pengguna bahasa ngapak

Bahasa persatuan yang digunakan di Indonesia adalah bahasa Indonesia, akan tetapi apa salahnya jika kita juga ikut melestarikan bahasa daerah kita? Khususnya ketika kita sedang berada di daerah desa atau kampung halaman.

Itu adalah beberapa faktor yang menyebabkan seseorang malu untuk menggunakan bahasa ngapak. Bahkan Bahasa Jawa Banyumasan sudah makin terancam karena sebagian penuturnya merasa tidak percaya diri yang disebabkan oleh adanya stigma kampungan atau tidak modern.

Sebagai warga negara yang baik, alangkah baiknya agar kita menghormati dan menghargai segala perbedaan yang ada. Jangan sampai perbedaan itu justru menjadikan perpecahan diantara kita. Dan sebagai orang yang menggunakan bahasa ngapak juga tidak perlu malu jika ingin menggunakannya, asalkan itu tidak menyinggung dan tetap menghargai orang lain. Tetap cintai budaya kita sendiri, dan jangan pernah lupa akan kampung halaman di mana kita berasal.

 ''Ora ngapak, ora kepenak!"