63014_18865.jpg
Agama · 4 menit baca

Jadi Kafir Karena Beda Tafsir?

Sebagai salah satu pedoman hidup umat, urgensi Ilmu tafsir telah dirasakan sejak zaman Rasulullah saw dan kemudian ilmu itu berkembang hingga di zaman modern sekarang ini. Secara umum tafsir biasa diartikan sebagai Penjelasan, Pengungkapan, dan Menjabarkan kata yang samar. Adapun secara istilah tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya.

Sampai saat ini kita mendapati banyak versi tafsir Quran dengan keragaman sumber maupun metode penyusunannya. Sebagai amrun-ijtihadi keragaman pandangan merupakan ke-khasan ilmu tafsir, selama didukung oleh nash-nash suci semestinya dimaknai sebagai khazanah keilmuan yang perlu di hormati.

Imam Al-Khatthabi Rachimahullaahu dalam Syawahidul-Haqq, hal.125 telah berkata:

وَلَمْ يَثْبُتْ لَنَا اَنَّ الْخَطَأَ فِى التَّـأْوِيْلِ كُفْرٌ

“Kami tidak mempunyai keterangan yang sah bahwa oleh karena kesalahan tentang takwil maka orang yang mentakwilkan itu menjadi kafir.”

Kutipan singkat namun penting ini cukup ‘menyentil’ kaum pendakwah jaman now, yaitu mereka yang suka menjadikan perbedaan pandangan atas sebuah tafsir sebagai instrumen untuk menghakimi, mengkafirkan dan memurtadkan yang beda pandangan.

Jika kesalahan dalam memahami suatu ayat suci saja tidak bisa dijadikan alasan kafirnya seseorang, maka bagaimana bisa perbedaan pandangan atas suatu ayat Alquran dapat dijadikan dalih untuk mengeluarkan seseorang atau suatu kelompok dari ke-Islamannya??

Adalah suatu mukjizat Alquran bahwa bahasa yang dikandungnya memiliki keluasan makna yang tak terhingga (Qs.31:27, Qs.18:109). Oleh karenanya langkah mempersempit makna ayat-ayat dalam Alquran itu, sama halnya dengan mengabaikan keluhuran Alquran itu sendiri.

Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqaan mengatakan:

وَقَدْ جَعَلَ بَعْضُهُمْ ذَلِكَ مِنْ اَنْوَعِ مُعْجِزَاتِ الْقُرْانِ حَيْثُ كَانَتِ اْلكَلِمَةُ اْلوَاحِدَةُ تَتَصَرَّفُ اِلَى عِشْرِيْنَ وَجْهًا

“Prihal satu kata dalam Alquran mengandung banyak arti adalah merupakan mukjizat bagi Alquran sehingga kadang-kadang satu kata mengandung 20 (dua puluh) arti”.

Studi kasus kata Khaataman-Nabiyyiin dalam Qs. Al-Ahzab ayat 40 misalnya. Selain dimaknai sebagai “penutup para nabi”, ternyata juga memiliki makna lain. Imam Zurqani misalnya, telah mengarang Syarhul-Mawahibil-Ladunniyah yang di dalamnya beliau menulis pada Juz. III, hal. 163 sebagai berikut:

“Khaataman-Nabiyyiin itu dibaca dengan baris di bawah ‘TA’ dan dengan baris di atas ‘TA’. Kalau “Khatam” itu dibaca dengan baris di atas TA sebagaimana tersebut di dalam Alquran Majid, maka artinya; “AHSANUL-ANBIYAI KHALQAN WA KHULUQAN” (Dia sebaik-baik nabi dalam hal kejadian maupun kesopanan).

Cukup jelas bahwa Imam Zurqani membuka makna lain yang tidak sama dengan pandangan mainstrim umat Islam saat ini, dimana “Khaataman-Nabiyyiin” bisa dimaknai lain yaitu “sebaik-baik nabi”. Pemaknaan seperti ini sebetulnya hal yang lajim, sebagaimana gelar khaatamul-auliya untuk Sayyidina Ali ra tidak pernah dimaknai sebagai ‘penutup para wali’ atau khaatamul-syu’ara bagi Abu Tamam pun bukan bermakna ‘penyair terakhir’, melainkan ‘sebaik-baik wali’ dan ‘penyair terbaik’. (Tafsir Shaafi, Surah Al-Ahzab dan Wafiayatul A’yan, jld 1)

Kemudian Ibnu Arabi memaknakan Khaataman-Nabiyyiin sebagai ‘yang menghabiskan turunnya syari’at baru’, sebagaimana kata-katanya:

وَ كَانَ مِنْ جُمْلَةِ مَا فِيْهَا تَنْزِيْلُ الشَّرَائِعِ فَخَتَمَ اللهُ هَذَا تَنْزِيْلَ بِشَرْعِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ

“Sebagian dari yang diturunkan dalam kenabian itu ialah syari’at baru, maka dengan syari’at Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam itu Allah telah menghabiskan turunnya syari’at baru, oleh karena itulah Nabi kita menjadi Khaatamun-Nabiyyiin”. (Al-Futuhatul Makkiyah, Juz II, hal. 56)

Senada dengan Ibnu Arabi, Imam Mulla Ali Al-Qari berkata:

اَلْمَعْنَى اَنَّهُ لَا يَأْتِي نَبِيٌّ يَنْسَخُ مِلَّتَهُ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ أُمَّتِهِ

“Khaatamun-Nabiyyiin berarti bahwa tidak akan datang lagi sembarang Nabi yang memansukhkan (membatalkan) agama Islam dan yang bukan berasal dari umat beliau”. (Al-Maudhu’at Lil-Qariy, hal. 59)

Ibnu Arabi dan Imam Mulla Ali Al-Qari pun punya pandangan lain, dimana khaataman-nabiyyiin tidak dimaknai sebagai penutup pintu kenabian akan tetapi penutup bagi turunnya syari’at, sebab Al-Quran sebagai Kitab Suci yang dibawa oleh Rasul Karim saw merupakan kitab syari’at terakhir.

Untuk itu maka kita jumpai dalam Tafsir Ad-Durul Mantsur, Juz V, hal. 204 telah ditulis bahwa Sayyidatuna ‘Aisyah ra berkata:

قُوْلُوْا خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ وَلَا تَقُوْلًوْا لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

“Katakanlah bahwa Muhammad saw itu Khaatamun-Nabiyyiin akan tetapi janganlah kamu katakan tidak ada sembarang Nabi sesudah beliau”.

Demikian itu pandangan dari beberapa Ulama-ulama salaf tentang ayat Khaataman-Nabiyyin yang mana pandangan-pandangan itu tidak sama dengan faham maintream umat Islam saat ini. Jika dalam hal tafsir tidak dibenarkan berbeda pandangan, maka apakah umat Islam akan memfatwakan kafir, sesat menyesatkan kepada para ulama Islam tersebut? Yang bahkan diantaranya ada sosok mulia yang merupakan istri Rasulullah saw? na’udzubillaahi ‘ala dzalik.

Berdasarkan pada penjelasan tersebut, pemaknaan Jemaat Ahmadiyah terhadap ayat ‘Khaataman-Nabiyyiin’ bukanlah hal yang baru, apalagi dianggap meng-ada-ada. Ahmadiyah meyakini derajat Khaataman-Nabiyyiin Rasulullah saw sebagaimana para ulama-shalafus-shaalihin pun meyakininya, hanya saja dalam pemaknaannya yang berbeda. Untuk itu, maka pantaskan perbedaan itu kemudian menjadi alasan untuk mengkafirkan, dan memurtadkan keislaman Ahmadiyah?

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dalam satu tempat mengatakan:

فَاعْلَمْ يَا اَخِي , اَنَّا اَمَنَّا بِاللهِ رَبًّا وَ بِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيًّا وَاَمَنَّا بِأَنَّهُ خَاتَمٌ النَّبِيِّيْنَ

“Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa kami beriman kepada Allah sebagai Tuhan kami dan kami beriman kepada Muhammad saw sebagai Nabi kami dan kami beriman bahwa beliau itu benar-benar Khaataman-Nabiyyiin”. (Tuhfatu Baghdad, hal. 23)

Dalam dunia tafsir tak ada kebenaran mutlak melainkan sebatas upaya mendekati kebenaran, sebab kebenaran itu sendiri sejatinya hanya pada Allah Swt semata. “wamaa ya’lamuu ta’wiilahu illallaahi”, Tidak ada yang mengetahui ta’wil yang pasti tentang suatu ayat kecuali Allah. Untuk itu, perbedaan pandangan semestinya tidak dijadikan pemantik api atau dinding penyekat bagi tumbuhnya rasa persaudaraan dan saling menghargai. Ihktilafu ummati rahmatun, sabda Nabi Saw ini semestinya menjadi falsafah keislaman yang kita junjung luhur dan menjadi dasar landasan pola laku dan fikir kita bahwa perbedaan (pendapat) di kalangan umat ini adalah sebuah rahmat.

Semoga setiap kita senantiasa dinaungi oleh rahmat dan kebahagiaan dari Allah Swt, Wassalam.