54086_22017.jpg
feminism.com
Filsafat · 4 menit baca

Jacques Lacan: Subjek dan Mengapa Perempuan Harus Eksis

Dalam teori Freud, laki-laki disebut sebagai laki-laki karena ia memiliki penis, sementara perempuan disebut sebagai perempuan karena ia kehilangan penis. Konsep Freud ini sangat bersifat anatomi biologis dan tampaknya sangat bersifat patriarchal dan memposisikan perempuan selalu sebagai subjek yang berkekurangan. Dan untuk memenuhi kekurangan itu, perempuan harus kembali merujuk pada dimensi laki-laki.

Bagi Lacan, pendefinisian konsep laki-laki dan perempuan di atas sudah tidak relevan, dan ia melontarkan sejumlah kritik tentatif pada Freud. Salah satu kritik utamanya adalah Freud membuat sejumlah asumsi yang terlalu bersifat biologistik.

Lacan berpendapat bahwa biologi selalu didefinisikan subjek manusia, dibiaskan oleh bahasa, dan bahwa tidak ada sesuatu yang disebut “tubuh” sebelum adanya bahasa. Dapat dikatakan bahwa dengan menggeser semua penjelasan dari level anatomi-biologis ke simbolis, Lacan menunjukkan bagaimana kebudayaan memaksakan makna atas bagian-bagian anatomis.

Ketika merujuk pada pemikiran Freud tentang subjek yang berkekurangan dalam arti biologis, yakni perempuan disebut sebagai perempuan ketika ia kehilangan penis, maka menurut Lacan, jika pemahaman akan subjek laki-laki dan perempuan dimaknai seperti itu, maka antara laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kekurangan, penis, sama saja dengan vagina, klitoris, payudara, dan lain-lain.

Yaitu, dua subjek tersebut sama-sama adalah subjek yang berkekurangan. Di sinilah Lacan memberikan pendasaran baru hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan menunjuk pada posisi eksistensialnya, yakni subjek yang sama-sama mendambakan keutuhan.

Hal yang paling inti dari konsep psikoanalisis Lacan--meskipun ia memiliki keterhubungan dengan psikoanalisis Freud yang sangat bersifat patriarkal-adalah bahwa ia bukan sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi yang paling inti adalah hubungan keduanya dengan apa yang disebut sebagai phallus di mana phallus adalah penanda akan kekurangan atau hasrat pada keutuhan yang kedua belah pihak sama-sama mendambakan dan merasa dapat memilikinya.

Sehingga dapat dikatakan bahwa phallus adalah apa yang dianggap laki-laki sebagai yang ia punyai, dan apa yang dianggap perempuan tidak mereka miliki-sebagaimana dalam psikoanalisis Freud--padahal menurut Lacan bahwa phallus adalah apa-apa yang tidak pernah dipunyai oleh kedua subjek tersebut meski keduanya sama-sama menganggap bahwa phallus adalah apa yang dapat dicapai atau dimiliki.

Dalam konteks pemahaman di atas, betapa Lacan telah mendekonstruksi pemahaman akan arti laki-laki dan perempuan dengan menunjukkan pada dimensi ketidakutuhannya antara satu sama lain. Dan melalui pendasaran ini, menjadi jelas bahwa tidak ada subjek yang saling mendiskriminasi satu sama lain, justru subjek dituntut untuk mencapai sebuah tatanan subjek yang sejati, tanpa dibayang-bayangi oleh apakah ia laki-laki atau perempuan.

Intinya adalah bahwa pemikiran feminisme Lacan bertujuan untuk medorong setiap subjek (laki-laki, perempuan, dll) melampaui tatanan simbolik dan berusaha dengan sekuat tenaga berhadap-hadapan dan merjumpa secara langsung dengan "Yang Nyata". Sehingga, pada hakikatnya tidak ada lagi dikotomi antara laki-laki dan perempuan, yang ada adalah subjek di mana seksuasi secara langsung adalah jembatan menuju etika atau moralitas.

Seksuasi adalah posisi subjek dalam berhadapan atau berkonfrontasi dengan seluruh hasrat, fantasi, serta bentuk-bentuk kastrasi. Ia merupakan sebuah pencapaian subjektifikasi.

Dalam arti, bahwa dengan menggeser pemahaman seksualitas, yang cenderung bermakna anatomi-biologis, khususnya dalam teori Frued, maka Lacan memberikan sebuah penekanan baru dengan istilah seksuasi yang secara keseluruhan menjelaskan posisi subjek yang dapat menjadi otonom, apakah ia sebagai laki-laki atau perempuan.

Meski subjek manusia tidak pernah bisa lari dari bahasa dan bahkan ia tenggelam dalam bahasa, namun ia tidak begitu saja hilang dari hakikat eksistensial. Bagi Lacan, setiap subjek dapat melompat jauh dan merekah menjadi subjek yang otonom dengan melepas seluruh akar-akar simbolik dan berjumpa dengan Yang Nyata. Di sinilah tampaknya posisi teori feminisme dalam pemikiran Lacan itu dikembangkan.

Teori subjek Lacan adalah salah satu buah pemikiran post-strukturalisme yang menggabungkan psikoanalisa Freud, antropologi strukturalis Lévi-Strauss, dan konsep semiotika Saussure. Pemikiran Lacan menekankan bahwa konstruksi wacana sama seperti alam bawah sadar yang terdiri dari tiga tahap perkembangan: Yang Real, Imajiner, dan Tatanan Simbolik.

Yang real adalah tahapan di mana individu terpaku pada kebutuhan (need) dan merasakan kepenuhan. Sementara tahapan imajiner atau fase cermin terjadi ketika kebutuhan (need) menjadi permintaan (demand) atau kesadaran individu akan ‘kediriannya’.

Sementara itu, tahapan terakhir memegang peranan penting pada subjektivitas individu yang terjadi dalam siklus kehidupan sosial di mana nilai-nilai masyarakat terkondendasiKeadaan dalam tatanan simbolik, seperti bahasa yang memaksa individu menjadi subjeknya, individu akan melakukan hal itu untuk mencapai suatu ‘kepenuhan’ seperti tahap yang real.

Dalam tatanan simbolik, Lacan menjelaskan adanya phallus yang menjadi simbol dalam tatanan itu. Simbol yang dimaksudkan Lacan tidak hanya penis--perlu ditekankan bahwa penis hanyalah salah satu contoh phallus. Keadaan individu yang rela untuk merasakan rasa sakit untuk mencapai ‘kepenuhan’ inilah yang dimaksudkan Lacan dengan jouissance.

Phallus adalah kata kunci bagi pendefinisian akan subjek manusia. Implikasinya adalah bahwa Lacan mengubah seluruh konsep laki-laki dan perempuan yang terlalu biologistik, khususnya dalam konteks seksualitas, menganti dengan istilah “seksuasi”. Dan dengan itu Lacan merumuskan sebuah pendasaran baru akan arti menjadi subjek, terlepas dari apakah ia laki-laki atau perempuan.

Menjadi subjek yang sejati adalah bagaimana ia mampu melampaui tatanan simbolik dan berjumpa dengan Yang Nyata. Yakni, dengan menunda seluruh dimensi hukum, kebudayaan, agama, dan sebagainya untuk menuju suatu kebebasan yang paripurna.