Ketika pandemik covid-19 melanda, merajai dan bertahta di Indonesia, segala aktivitas di segala bidang menjadi terhenti. Semua hanya bisa dilakukan di rumah. Bilamana ada aktivitas di luar rumah, itu terbatas pergerakannya dan selalu sebisa mungkin menghindari kontak dengan orang lain dan menghindari kerumunan massa.

Tak terkecuali dengan dunia pendidikan kita. Kegiatan pembelajaran yang mengundang tatap muka, lumpuh total. Imbasnya, semua jenis instansi pendidikan ditutup. Sebagai alternatif, kegiatan pembelajaran dilakukan dari rumah. Tugas dikirim dari rumah, dikerjakan di rumah, dan dikumpulkan dari rumah.

Dalam situasi ini, orang-orang berpikir untuk mencari cara aman agar pembelajaran dapat dilanjutkan kembali. Mulai dari presiden, menteri pendidikan, para kepala daerah, kepala instansi pendidikan setempat, hingga guru-guru serta orangtua, diajak untuk mencari jalan yang baik dan aman. Tapi, hingga saat ini, belum ada cara aman selain belajar daring (yang makin ke sini makin membosankan).

Kelihatan sekali, kalau model pendidikan kita masih soal bagaimana harus mentransfer data ilmu dari kepala guru ke kepala murid. Entah dalam situasi pandemi maupun tidak, model pendidikan kita adalah transfer ilmu.

Jacotot dan Kehendak untuk Belajar

Jean-Joseph Jacotot adalah seorang pedagog Prancis dan inovator metode pendidikan universal. Jacotot lahir di Dijon pada tanggal 4 Maret 1770 dan wafat tanggal 30 Juli 1840 di Paris. Jacotot memulai karir sebagai guru dan matematikawan, dan dia ditunjuk menjadi subdirektur di Sekolah Politeknik (Ecole Polytechnique) di Dijon (1795), yang mana, di tempat itu, ia menjadi profesor metode sains, Sastra Latin dan Yunani, dan Hukum Romawi.

Selama perang Napoleon, dia masuk dan menjadi tentara, kemudian naik pangkat menjadi kapten artileri; dia kemudian menjadi sekretaris militer dan direktur militer École Normale. Dia juga pernah terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (member of Chamber of Deputies). Pada tahun 1818, ia menjadi dosen bahasa dan sastra Prancis di Universitas Katolik Leuven (Louvain).

Jacotot adalah seorang guru yang menjalankan profesinya dengan penuh kesadaran akan pentingnya pedagogi bagi anak. Atas profesinya itu, Jacotot sangat bertanggungjawab dan sadar bahwa tugas seorang guru adalah mentransfer pengetahuan kepada anak didik. 

Akan tetapi, Jacotot memahami dengan baik bahwa seorang guru tidak boleh memaksa anak didiknya dengan pengetahuan yang sama sekali tidak diketahui oleh anak didik agar anak didik tersebut terisi dengan pengetahuan.

Maksud Jacotot adalah agar anak bertumbuh menjadi generasi yang kreatif dan merdeka, dan bukannya menjadi generasi yang pintar mengulang-ulang apa yang diberikan oleh gurunya. 

Jacotot tahu bahwa mengajar bukan sekadar menjejalkan sedikit pengetahuan dan lalu meminta para siswa untuk mengulangnya seperti burung beo, tetapi Jacotot juga tahu bahwa para siswa harus menghindari cara berpikir memutar yang mana pikiran para siswa masih belum mampu membedakan mana yang inti dari sampingan, yang sebab dari akibat.

Intinya, seorang guru haruslah menggunakan metode penjelasan. Guru wajib memberi penjelasan kepada para murid agar terjadi proses transfer pengetahuan dari guru yang tahu ke murid yang belum tahu, dan pada saat yang sama membuat para murid mampu secara bertahap maju dalam memiliki pengetahuan yang sederhana ke pengetahuan yang lebih kompleks.

Akan tetapi, keyakinan Jacotot atas metode menjelaskan (explicate) rupanya bukan segala-galanya, runtuh dan sangat problematis. Pada tahun 1815, ketika terjadi perubahan rezim politik di Prancis, Jacotot pindah ke Belanda dan berapa tahun kemudian (1818) Jacotot mendapat kepercayaan dari raja Belanda untuk mengajar di Universitas Louvain.

Di situ ia ditugaskan mengajar bahasa Prancis. Cara mengajarnya sangat dinikmati para murid, dan Jacotot mendapat apresiasi atas cara mengajarnya itu sehingga para murid bersungguh-sungguh untuk belajar bersamanya. Yang menjadi persoalan adalah para muridnya tidak tahu bahasa Prancis dan Jacotot tidak tahu bahasa Belanda (Flemish). Karena itu, tidak ada bahasa yang mampu membuat Jacotot mengajari apa yang para muridnya cari dari dia.

Untuk mengatasi hal itu, dibutuhkan suatu benang merah yang menyatukan antara Jacotot dengan para muridnya. Maka itu, tulis Rancière, dibutuhkan suatu hal yang sama (a thing in common) yang mampu menjadi jembatan antar keduanya. Pada saat yang sama, telah diterbitkan buku Télémaque karya Fénelon edisi dua bahasa (Belanda-Prancis) di Brussel.

Maka, hal yang sama (thing in common) telah ditemukan. Jacotot membagikan buku tersebut dan meminta kepada para muridnya, sambil dibantu oleh penerjemah, untuk mempelajari teks bahasa Prancis sambil pula membaca terjemahan bahasa Belanda. 

Pada saat mereka telah mempelajari setengah dari buku terseut, Jacotot meminta para muridnya untuk terus-menerus membacanya sampai memahami penjelasan dari bacaan tersebut. Kemudian, Jacotot meminta mereka untuk membaca lanjut keseluruhan buku tersebut agar mereka mengetahui alur cerita tersebut.

Hingga kemudian Jacotot meminta kepada para muridnya itu untuk menulis kembali cerita Télémaque yang telah mereka baca. Sebenarnya, tidak ada harapan dari Jacotot akan besarnya keberhasilan yang sempurna dari para muridnya dalam menulis kembali cerita tersebut dalam bahasa Prancis. 

Jacotot yakin bahwa akan ada banyak kesalahan penulisan, barbarisme yang kuat (horrendous barbarisms) ataupun ketidakmampuan para murid dalam mengerjakannya. Jacotot menyadari bahwa belum ada penjelasan apapun tentang bahasa Prancis.

Akan tetapi, Jacotot begitu terkejut dengan apa yang ia saksikan. Bahwa para muridnya dapat melewati tantangan tersebut dengan baik. Mereka ternyata mampu membuat kalimat-kalimat dalam bahasa Prancis tanpa sebelumnya diberi penjelasan!

Pengalaman ini membuat Jacotot sadar bahwa kemauan atau kehendak para muridnya mengantar mereka kepada keberhasilan dalam berbahasa Prancis. Jacotot mulai berpikir bahwa semua manusia memiliki kemampuan yang sama untuk memahami sesuatu yang juga dipahami dan dilakukan sesamanya.

Bila ada kemauan atau kehendak, seseorang bisa belajar apapun tanpa guru penjelas. Jacotot melihat adanya kesetaraan (égalité) yang harus diandaikan sebagai titik berangkat bagi semua aktivitas pembelajaran.

Menurut Jacotot, intelegensi harus dipisahkan dari kehendak. Di sinilah terjadi yang namanya emansipasi yang berarti keterlepasan hubungan dominasi guru terhadap para muridnya. Dalam arti tertentu, seseorang hanya bisa mengajar apa yang tidak diketahui oleh muridnya jika murid tersebut diemansipasi, dengan maksud membiarkan siswanya menggunakan intelegensinya sendiri.

Intelegensi murid adalah bebas, tidak tunduk pada siapa pun, dan menghubungkan dirinya secara bebas dengan intelegensi sesuatu yang hendak ia pelajari, dan Jacotot percaya bahwa setiap manusia memiliki kemampuan intelegensi yang sama.

Pendidikan Kita?

Pendidikan kita di Indonesia masih menerapkan sistem transfer pengetahuan. Di masa pandemi maupun masa normal, pendidikan kita masih berkutat soal bagaimana seorang guru bisa memberikan hasil dari pembelajaran atau materi yang dimengertinya untuk kemudian di bagikan kepada para muridnya. 

Makanya kita sering mendengar ada instansi-instansi pendidikan kita yang seringkali membuat pelatihan guru-guru agar guru-guru ini bisa mengajar dengan baik dan para muridnya bisa menangkap semua materi dengan baik.

Sudah saatnya para penanggungjawab pendidikan di Indonesia mulai berpikir secara lain tentang pendidikan kita. Tidak perlu lagi susah-susah mengganti kurikulum atau berpikir keseringan membuat pelatihan untuk guru-guru. 

Masalah pendidikan ada pada bagaimana peserta didik punya kehendak untuk belajar sesuatu. Jadi, tugas guru adalah menggali dan menjaga kehendak peserta didik untuk belajar. Peserta didik harus punya kehendak untuk belajar!