Institute For Development of Economics and Finance (Indef) menyebut Wakil Presiden Ma'ruf Amin tidak populer berdasarkan hasil riset. Ma'ruf pun dianggap ibarat wapres ban serep seperti pada masa Orde Baru.

Ma'ruf masuk kategori tidak populer lantaran sangat sedikit yang membicarakan kiprahnya di media sosial sejak menjadi orang nomor dua di Indonesia.

Tim Big Data Indef melakukan riset berupa analisis yang berkaitan dengan sentimen institusi, perilaku dan kinerja pemerintah. Riset tersebut dilakukan terhitung sejak Juli hingga 13 November 2020.

Berita mengenai hal tersebut memang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sudah sering juga kita mendengar sindirian pedas yang ditujukan untuk Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Mulai dari “sudah bau tanah”, “ngurus cucu saja”, “Kiai kok ngurus politik”, sampai "Kala Jokowi hampir lupa sapa Ma’ruf Amin”. Sindiran-sindiran yang tidak mengubah apapun.

Melihat kinerja Ma’ruf Amin yang tidak begitu kelihatan di media, memang wajar jika masyarakat banyak yang menaruh keraguan pada beliau. Apalagi usia beliau yang sudah tidak muda lagi. Tetapi, apakah benar seorang yang sekelas Wakil Presiden, dengan biografi mentereng bidang pemerintahan dan keagamaan hanya leha-leha saja dalam mengurus negara?

Sebelum menjabat sebagai Wapres, beliau adalah pimpinan tertinggi organisasi terbesar di Indonesia bahkan dunia yaitu Nahdlatul Ulama’ dan Ketua Umum MUI. Kedua jabatan itu tidak mudah didapatkan oleh orang biasa-biasa saja.

Begini ya, kalau kita lihat sejarah, memang jabatan “wakil” itu selalu terlupakan. Wakil apa saja itu, mulai dari Wakil Presiden sampai Wakil RT.

Saya sendiri pernah merasakan menjadi wakil dua kali, apa yang saya lakukan tidak begitu dikenal. Mungkin lagi-lagi karena saya hanya “wakil”. Apa pun yang saya programkan, ujung-ujungnya kalau berhasil juga Ketuanya yang dapat “nama”.

Saya pernah menjabat Wakil Ketua Umum Karang Taruna desa saya. Menurut saya itu sudah merupakan jabatan yang mentereng waktu muda dulu. Tetapi, ternyata tidak juga setelah saya jalani. Tetap Ketua Umumnya yang populer.

Saya yang sudah meniti karier di Karang Taruna sejak usia SMP cukup paham seluk beluk Karang Taruna dijagokan sebagai kandidat kuat Ketua Umum periode selanjutnya ketika itu. Sebagian pihak menyodorkan tokoh alternatif dari kalangan “nakjiro” (Anak siji utowo loro), sebutan kami bagi orang dewasa yang punya anak satu atau dua. Maksudnya sih baik, agar bisa membimbing anggotanya yang masih muda-muda.

Terbukti, saya yang sebenarnya sudah lebih dulu populer, dengan track record yang baik di Karang Taruna, terpaksa kalah 2 suara. Otomatis, suara terbanyak kedua dinobatkan sebagai Wakil Ketua.

Bagi saya hal itu tidak masalah, justru saya bersyukur pada waktu itu. Sudah menjadi kebiasaan kami, menjadi ketua adalah pantangan berat. Apa sih enaknya jadi ketua di organisasi sosial. Kerjanya 720 jam perbulan, gajinya diterima kelak di akhirat.

Berjalanlah dia jadi Ketua Umum, dan saya wakilnya. Setelah menjabat, apa yang terjadi? Maklumlah, dia itu orang sibuk, punya dua anak lagi. Karena kesibukan pekerjaan, dia sering tidak dapat hadir pada kegiatan-kegiatan teknis Karang Taruna. Setiap kegiatan saya yang menghendel, dia hanya aktif saat ada hajatan, panggung hiburan, dan acara sambutan tertentu di masyarakat.

Karena pengalaman saya di bidang tersebut, semua kegiatan dapat berjalan dengan baik dan sukses. Sering juga Karang Taruna mendapat apresiasi dari masyarakat. Trus, siapa yang paling bersinar? Ya ketua lah, siapa lagi, masak wakil?

Hal yang sama juga terjadi ketika saya menjadi Wakil Ketua Yayasan Yatim Piatu di wilayah tempat tinggal saya. Memang sih pada saat itu saya tidak bersedia menjadi ketua mengingat kegiatan saya yang sudah menumpuk. Tapi, lagi-lagi banyak hal yang harus dilakukan terkait administrasi dan birokrasi. 

Dan dari semua pengurus hanya saya yang paham, akhirnya saya juga yang kerja. Hampir 50% kegiatan yayasan saya yang melaksanakan. Ketika kegiatan yayasan mulai maju dan baik, masyarakat mulai merasakan manfatnya dan memberikan apresiasi. Trus, siapa yang paling bersinar? Ya ketua lah, siapa lagi, masak wakil?

Teman saya yang saat ini menjabat sebagai Wakil RT di wilayahnya juga mengalami hal yang sama. Mengingat Ketua RT yang sudah lumayan tua dan tidak begitu paham administrasi membuat hampir 80% pekerjaan Ketua RT dia yang melaksanakan. Pekerjaan yang tidak begitu terlihat tetapi berpengaruh besar bagi warga RT. Tapi yang mendapat apresiasi juga ketua RT bukan wakilnya.

Di tingkat elite juga hampir sama ceritanya. Sebanyak 12 wakil menteri yang sudah dilantik oleh Presiden sejak tanggal 25 Desember 2019 juga belum terdengar gaungnya. Apa yang meraka kerjakan belum begitu terdengar. Padahal saya yakin mereka telah bekerja sesuai porsi mereka untuk membantu menteri di wilayah kerjanya.

Coba Anda hafalkan nama-nama Wakil Presiden mulai dari masa Pak Soekarno sampai Pak Jokowi saat ini. Paling cuma beberapa orang saja yang kita tahu. Terutama masa Soeharto, sama sekali kita tidak tahu kalau tidak googling.

Orang sekelas mendiang BJ Habibie saja baru terkenal sebagai pemimpin ketika menjabat Presiden untuk meneruskan jabatan Soeharto yang lengser di tengah jalan. Dia makin terkenal saat melepaskan Propinsi Timor Timur (Timor Leste saat ini) dari NKRI dan mengundang Joshua, artis cilik paling kondang saat itu ke Istana Negara.

Begini, bukannya kami ingin dipuji atau gimana ya. Mungkin saya dan wakil-wakil yang lain, mungkin juga termasuk Pak Ma’ruf Amin hanya ingin sedikit dihargai, tanpa adanya sindiran. Kami memang wakil, tapi kami bekerja, dan kami tidak perlu mensosialisasikan secara detail dan terus-menerus apa yang sudah kami kerjakan.

Kita kembali ke Pak Ma’ruf Amin. Jangan pikir beliau hanya tidur-tiduran sambil menikmati fasilitas Wapres saja. Juru bicara Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Masduki Baidlowi mengatakan, dalam tiga bulan setelah pelantikan, Wapres Ma’ruf Amin melakukan penyusunan atas langkah-langkah strategis untuk menjalankan beberapa hal.

Langkah itu terutama berkoordinasi dengan sejumlah kementerian atau lembaga yang sudah beberapa kali dilakukan hingga saat ini. Tetapi, itu tidak pernah menjadi berita penting dan Wapres memang tidak memperhatikan itu sebagai hal yang penting.

Langkah-langkah yang dilakukan antara lain soal radikalisme dengan leading sector Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Terkait hal itu, saat ini Ma’ruf sedang membuat roadmap tentang bagaimana pendekatan mengenai radikalisme dari hulu sampai hilir.

Lebih lanjut Masduki memaparkan bahwa saat ini Wapres juga punya cita-cita agar UMKM benar-benar mempunyai fungsi untuk mengurangi kesenjangan.

Ada tujuh fokus yang disusun Wapres dan itu semua adalah langkah-langkah strategis yang tidak dipublikasikan dan akan dirumuskan terlebih dahulu hingga tuntas.

Wapres juga memikirkan kemajuan pendidikan agama sebagai garda terdepan membenahi akhlak masyarakat. Sejak beliau menjabat sebagai Wapres banyak bantuan yang diterima oleh pondok pesantren, Madrasah Diniyah sampai TPQ.

Sekarang jelas bukan, peran seorang Wakil Presiden tidak hanya santai-santai saja. Begitu juga wakil-wakil yang lain, semua sudah bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Dan perlu diketahui, tidak semua hal harus disampaikan dan disebarluaskan ke media. Justru akan terlihat indah jika kinerja kita memang tidak perlu dipamerkan ke orang lain. Toh itu sudah menjadi tanggung jawab kita.

Membaktikan diri untuk masyarakat bisa dilakukan dalam posisi apapun termasuk manjadi wakil. Dan jangan sekali-sekali meremehkan posisi apapun karena semua punya peran masing-masing yang tidak kita ketahui secara detail.