Saat hipokrit dan manipulator bertarung, masing-masing memiliki pendukung dan pemuja. Tapi aku memilih untuk menolak keduanya dan berteriak, "Sudah cukup!"

Orang mungkin sudah lupa, kekuasaan PB HMI berasal dari anggota. Kalau amanah yang seyogianya untuk kader terbaik, eh, ternyata keliru jatuh ke tangan Komprador Kaum Mapan, kenapa tak kita tarik-ulang kedaulatan itu?

Tak hanya di Kongres, di Konfercab pun ketua-ketua komisariat berada di antara tolol dan bidak kontestasi. Adalah bodoh memilih karena uang atau tekanan. Itu bagai orang buta di malam hari yang mengambil roti di antara tai kering di atas piring. Karena yang mapan adalah sistem dan realitas politik sangat pragmatis. Mustahil menemukan sosok pemimpin HMI yang teladan di Kongres.

Bila uang hantu diberikan pada kontestan tak bervisi, duitnya dicekokkan ke pengurus cabang kelaparan. Sebagian dibikin nyewa hotel, makan mewah, tiket pesawat, liburan ke pantai. 

Realitas pergaulan materialis semacam itu dapat melahirkan pemimpin berkarakter ideal? Igauan di siang bolong!

Kader HMI didorong melahap semua aliran ide, filsafat, dan pemikiran yang ada di muka bumi. Untuk membedakannya dengan gerombolan preman, tiap calon pemegang kekuasaan disyaratkan wajib lulus jenjang training. Tujuannya agar yang jadi pengurus orang terpilih, terbaik, terseleksi, dan benar-benar tangguh secara ide untuk mengembangkan organisasi demi tercapainya tujuan himpunan.

Untuk jadi pengurus dan ketua, tidak cukup hanya sekadar anggota. Dia mesti ikut pelatihan formal, terseleksi, teruji, dan dinyatakan layak untuk jadi punggawa organisasi. 

Tidak bisa seorang anggota hanya memegang bendera, lalu lari menendang kerumunan polisi saat demonstrasi dan setelahnya kita daulat jadi ketua cabang. Tidak bisa. Dia harus dididik dalam LK-2 dulu, baru legal.

Kalau gejolak pemikiran dan cabang-cabang filsafat sudah dikuasai, jenjang pelatihan sudah diikuti dan dinyatakan lolos, masa iya memilih pemimpin bukan berdasarkan ide apa yang diusung. Kalau kita memilih dia karena uangnya sekoper dan semua utusan disanggupi pulang naik pesawat nyaman, ya apa gunanya kader diskusi sepanjang malam? Apa bedanya kita dengan pemilih Caleg DPRD?

Kenyataan hari ini, menjelang kongres, hampir-hampir tak ada yang bekerja keras merumuskan ide dan wacana pengembangan HMI. Semua sibuk melobi hantu, membujuk hipokrit, menjilat abang, menyerahkan kepala ke tuan-tuan penjual rekomendasi, berjanji kalau terpilih akan mengondisikan HMI semenarik mungkin sesuai keinginan Sang Pemilik dukungan politik.

Di Perang Dunia II, Jerman dan Amerika Serikat bersaing keras untuk saling mengalahkan dengan memperbanyak bom, roket, amunisi, tank, kapal, dan pesawat tempur. Mestinya di kongres, tiap kandidat bersama timnya sibuk mengumpulkan sebanyak-banyak ide untuk memperbaiki sekaligus memajukan capaian kader HMI se-Indonesia. Bukan malah memburu uang sebanyak-banyaknya.

Di LK-2, kader diajari tentang ragam dan rupa-rupa pertarungan ideologi yang akhirnya dimenangkan Pancasila. Di LK-3, peserta diajak berpikir, kok bisa Arab Saudi diam saja padahal jutaan muslim Uighur di Tiongkok ditindas? Bagaimana mungkin Uni Emirat Arab lebih benci Iran ketimbang Israel, yang sudah 50 tahunan menjajah dan mencaplok tanah muslim Palestina?

Kalau di forum pelatihan kader HMI diajak berpikir seluas dan sekeren itu, masa kok di kongres memilih pemimpin hanya berdasarkan tawaran uang? Itu, kan, menghina perkaderan! 

Kurang ajar sekali kongres model begitu. Kader capek-capek memikirkan perbaikan umat manusia, lha kok iklim pemilihannya ditentukan lembaran benda mati dan tak berkorelasi dengan kualitas isi kepala?

Siapa mau membantahku? Siapa tak terima dengan pernyataanku? Bukankah omonganku benar? Itu faktanya, kan? Apa lagi yang mau dijadikan pembelaan diri? 

Selama ini, dan ini juga yang menjadi kelemahan mayoritas kader HMI, bahwa kejujuran dan komitmen janji itu penting. Tapi dalam perpolitikan himpunan, nilai seperti itu digeser kegemilangan capaian diri seseorang.

Muncul paradigma umum di antara kader, "ya biarkan saja kandidat dapat uang dari mana, entah setan, pengusaha, abangda, bupati, pejabat hantu mana pun; toh kalau dia menang kongres, kan yang dilihat dia jadi Ketua Umum PB HMI. Kalaupun ada sekelompok orang nyinyir, di mana sih di dunia ini pemimpin yang tak mendapat kritik? Paling mereka begitu, karena mereka kalah toh. Sakit hati politik."

Cara pandang seperti ini muncul dari jenis kader bangsat yang sialan. Dan payahnya lagi, banyak anggota yang mewajarkan realitas semacam itu. 

Apa mungkin memilih ketua bersih, tanpa main uang, tapi mampu mengusung ide-ide pembaruan? Ya mungkin. Kamu kira zaman awal HMI ada jual beli suara begitu? Kalau jawabannya ‘mungkin’, kenapa kita pesimis? Karena sebab kita malas cari yang ideal, kan?.

Gejala kebersihan ‘proses’ tak penting, dan semua tergantung ‘hasil akhir’. Inilah mental pedagang kayu hutan. Ini ibarat kandidat ‘demit’ dipilih utusan ‘tuyul’. Ide sesampah apa pun tak penting, asal duitnya banyak, suguhan fasilitasnya memuaskan, delegasi ramai-ramai ikut. 

Dari segi penyerapan ideologi HMI, kader model begitu tak tuntas, prematur. Atau memang dia pengkhianat nilai.

Kenapa kader HMI harus selalu berpihak pada rakyat ketimbang pejabat? Karena yang selalu dibohongi itu masyarakat. Mereka lemah, sering ditipu, dikibuli, ditelantarkan. Siapa pelakunya? Pemerintah, pejabat. 

Makanya sikap terbaik adalah jangan menjadi bagian elite penindas, walau tak berarti harus jadi pemberontak. Kita semua, kan, anak masyarakat. Wajar dong kalau kita membela orang tua kita.

Di sisi lain, ada kader baik yang menginginkan ketua umum yang baik, tapi mereka tak bisa berperan banyak karena ‘berproses telat, berhenti lebih awal’. Dia tahu HMI dan ikut LK1 di semester akhir, atau menjelang lulus. 

Usai jadi sarjana, dituntut keluarganya untuk segera kerja. Akhirnya HMI hanya dikenalnya sesaat, lalu ditinggal. Karena keluarga darah lebih utama ketimbang saudara hijau hitam.

Apa yang lebih sial dari ‘kader baik yang cepat pergi, dan pengurus keparat yang duduk di singgasana berlama-lama?’ Lingkaran setan begini akan menciptakan gerontokrasi, sistem yang dikuasai orang-orang tua ogah pergi dari kursi kekuasaan. Efeknya, kader muda, segar, dan potensial terpelanting keluar; membiarkan perahu dipegang segelintir elite yang berputar-putar di pucuk pimpinan generasi ‘om om’.

Jadi jangan heran bila muncul sekelompok mafia kongres yang mengatur jalannya kontestasi. Intrik, fitnah, cara-cara tengik, manuver licik, saling khianat, dan berlomba mengumpulkan uang jadi realitas politik yang mesti ditempuh oleh kandidat, jalan yang dilalui semua orang yang ingin jadi ketua umum PB HMI. Apalagi mewabah pandangan, proses tak penting; yang dilihat publik adalah siapa ketua umumnya.

Di tataran atas, perdebatan soal cara dan proses sudah final, mutlak. Tak penting bagaimana kamu meraihnya; yang jelas, siapa berhasil duduk di singgasana teratas, dia hebat. 

Toh, awak kapal tak melihat tiang terbuat dari kayu, batu, atau baja. Mereka melihat lampu mercusuar. Lelaki tak melihat kaki panuan atau budukan; kalau wajahnya cantik bersinar, enam detik memandang pasti jatuh cinta.

Pembenaran seperti ini, disadari atau tidak, memunculkan ‘Kandidat Omnivora’. Sosok pelahap segala. Halal, haram, berkomplot, manipulatif, fiktif, menipu, culas, menjatuhkan, semua diserap dan menjadi bagian diri. 

Lalu bagaimana soal integritas? Yang dalam agama akrab disebut dosa? Tenang, cara politik kotor bisa dicuci dengan narasi kekuasaan, sabunnya ‘Kedudukan Ketua Umum PB HMI’.

Di HMI yang elitenya punya patron politik dan tuan senior masing-masing, aku hanya anjing kecil yang mencoba melihat keadaan dari luar rumah. Gonggongan ini kuakhiri dengan mengutip pernyataan terjujur dari Presiden Prancis yang berkuasa pada 1959-1969, Jenderal Charles de Gaulle:

"Politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut kaget bila rakyat memercayainya."

(Ketua Umum PB HMI tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut kaget bila anggota himpunan memercayainya).