Wardah Nasha Razeta, panggilannya Wardah. Seperti arti dari namanya, gadis berusia 20 tahun ini merupakan gadis yang sangat cantik, baik hati, dan lemah lembut. Banyak pria yang ingin kepadanya, namun karena ingin fokus pada pendidikannya, Wardah memilih untuk tidak memikirkannya.

Saat ini nama Wardah tercatat sebagai mahasiswi semester 3 Fakultas Ushuluddin di Universitas yang ada di luar Jawa. Karena memang cita-citanya yang sangat tinggi, Wardah berkuliah tanpa didanai sang Ayah. Iya, Wardah merupakan salah satu mahasiswi penerima beasiswa.

Saat ini Wardah libur semesteran jadi Wardah ada di rumah. Dan hari ini ia datang ke sekolah waktu SMA nya dulu, dikarenakan ada acara alumni yang mengharuskan ia datang ke sekolahnya itu.

Ketika Wardah masuk ke lobi yang ada di sekolah, Wardah bertemu dengan gurunya yang bernama Pak Ridwan, dan menyuruh wardah untuk memberikan berkas ke guru yang bernama Pak Shawqi yang ada di ruangan TU.

Ya. Athafariz Shawqi Mannaf, dia alumni dari Universitas Al-Azhar. Cairo, Mesir. Dan sekarang, dia ditugaskan menjadi pengajar di MAN yang ada di daerah kota Sukabumi. Pria beruisia 25tahun, berparas tampan, Shalih, dan penghafal Al-Qur’an. Yang sangat diminati banyak kaum hawa.

Bagi Wardah, nama Pak Shawqi itu sangatlah asing karena kata pak Ridwan tadi, memang Pak Shawqi ini adalah guru baru di sekolahnya. Tanpa berfikir lama, wardah langsung menuju ke ruangan TU yang ada di sekolahnya itu..

Tok..tok..tok..

“Assalamualaikum pak, mohon maaf tadi saya disuruh pak Ridwan untuk memberikan berkas ini kepada bapak”, ucap Wardah dengan sangat sopan sambil mengulurkan tangannya untuk memberikan berkas yang ada di tangannya.

“Waalaikumussalam, oh iya kamu yang namanya Wardah ya?” tanya pak Shawqi. “iya pak, saya Wardah”, ucapnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Baik pak, kalo begitu saya permisi”. Ucap Wardah sambil tersenyum dan dijawab dengan anggukan oleh Pak Shawqi.

Kemudian Wardah pergi untuk menghampiri teman-teman lamanya yang dari tadi telah  menunggu Wardah.

“Hai teman-teman, maaf ya jadi nunggu lama. Soalnya tadi aku disuruh Pak Ridwan buat nganterin berkas ke Pak Shawqi” ucap Wardah ke teman-temannya.

“Iya gakpapa wa, aku juga baru dateng kok” ucap salah satu temannya yang bernama Rida.

“Eh wa, tadi kamu bilang Pak Shawqi. Dia siapa? Guru baru? Gimana ganteng gak? hahaa” tanya salah satu temannya lagi yang namanya Asila.

“Iya kata Pak Ridwan sih beliau guru baru disini , baru dua bulanan beliau ngajar di sini”, jawab Wardah senyum-senyum ketika mengingat ketampanan guru baru itu.

“Astaghfirullah waa, kok kamu jadi mikirin dia sih?!”, “Ayolah, kamu harus selesei dulu kuliah baru mikirin gituan”. Batinnya..

Setelah acaranya selesei, wardah bergegas untuk pulang dianterin sama Rida teman dekatnya.

...

Dua hari kemudian, Wardah pergi ke pasar karena disuruh ibunya untuk membeli kebutuhan dapur. Ketika Wardah lagi jalan di pinggir jalan untuk mencari angkot, ada sebuah mobil putih berhenti menghampirinya. Kemudian turunlah seorang pria dari mobil itu.

 “Wardah, kamu lagi ngapain disini?” tanya seorang pria tinggi itu.

“Pak Shawqi! Oh iya pak, saya baru selesai belanja dari pasar. Dan sekarang saya mau pulang, lagi nunggu angkot pak”. Jawab Wardah..

“Ooh yaudah kalo gitu kamu ikut saja sama saya. Saya juga ini lagi perjalanan menuju ke rumah kamu, ingin ketemu dengan orang tua kamu. Ayo naik!. Wardah, saya tidak ingin ada penolakan”. Ucap Pak Shawqi. Ya, pria itu adalah Pak Shawqi.

Sepanjang perjalanan ke rumah Wardah tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari pak Shawqi. Apalagi Wardah, dia malah kebingungan kenapa pria ini mau bertemu dengan orang tuanya?.

30 menit kemudian, tibalah di rumah Wardah. Pria itu menengok ke belakang untuk mengambil bingkisan yang telah ia siapkan dari rumahnya.

 “Oh iya Wardah, mulai sekarang kamu jangan panggil saya dengan panggilan “bapak”, karena saya bukan guru kamu dan gak pantas dipanggil bapak oleh wanita seperti kamu. Panggil saja saya Kak Shawqi. Dan ingat, gak ada penolakan ya”. Ucap pria yang duduk di kursi pengemudi itu, dengan sangat lembut namun penuh pengertian.

“Oh iya, baik pak. Eh, kak”, ucap Wardah dengan sangat grogi..

Setelah itu, kedua orang yang ada di dalam mobil berwarnah putih itu, keluar dan masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana. Ya, ini adalah rumah Wardah.

“Silahkan duduk kak”.  Ujar Wardah kepada orang yang bersamanya dari tadi. “kalo begitu saya panggilkan orang tua saya dulu kesini untuk menemui bapak”.

15 menit Shawqi menunggu di ruang tamu rumahnya ini, kemudian datanglah orang tua dari Wardah..

“Assalamualaikum bapak, ibu. Saya Shawqi temannya Wardah anak ibu”. Ucap Shawqi dengan sangat sopan sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman kepada dua orang paruh baya itu.

“Waalaikumussalam, wr.wb,” ucap Pak Rahmat dan Ibu Aisyah (orang tua Wardah).

Dan berbincang-bincanglah Shawqi, Wardah, dan kedua orang tua Wardah...

Setelah ngobrol kesana kemari. Entah kenapa pak Rahmat merasa bahwa pria ini, pria yang sangat baik. Dan berfikir “jika dia menjadi suami Wardah sangatlah cocok”, tapi mengingat Wardah masih kuliah dia mengurungkan fikirannya itu.

“Mohon maaf bapak ibu. Sebenarnya Maksud kedatangan saya kesini, saya ingin meminta izin untuk berta’aruf dengan anak dari bapak dan ibu, yaitu Wardah. Apakah bapak ibu mengizinkannya?” Ucap Shawqi dengan sangat hati-hati.

Setelah pertemuan Shawqi dengan Wardah di sekolah waktu itu, entah kenapa Shawqi langsung menyukainya dan ia juga mencari tau tentang Wardah ke temannya Shawqi yang profesinya sama-sama guru di sekolah itu. Sejak itu, Shawqi berkeinginan untuk berta’aruf dengan Wardah.

Deg...

Wardah kaget dengan apa yang telah pria itu ucapkan, pertama kalinya ada seorang pria yang berani ngomong seperti di depan orang tuanya langsung.

“Mohon maaf nak Shawqi, kalo masalah itu saya serahkan ke anak saya langsung. Saya tidak bisa menjawab, mengingat Wardah masih kuliah”. Ucap ayahnya Wardah

“Ooh kalo begitu saya tanyakan langsung kepada kamu Wardah, apakah kamu mau ta’aruf sama saya?”

“Emhh,,”..

“Jika kak Shawqi mau menunggu saya sampai lulus nanti, saya bersedia bert’aruf dengan kak Shawqi”, jawabnya. Wardah tidak bisa membohongi hatinya, karena ia juga menaruh hati kepada Shawqi. Sebenarnya banyak pria yang telah mengungkapkan cintanya kepada Wardah, tapi entah kenapa hanya Shawqi yang ia cintai.

“Iya Wardah, tentu saya bersedia menunggu kamu sampai lulus nanti. Sembari saya memantaskan diri untuk menjadi imammu di masa depan nanti”, ucap Shawqi dengan sangat bahagia.

“Akhirnya doa yang selalu ia panjatkan di sepertiga malem itu, telah Allah ijabah. Alhamdulillah Ya Allah..” batinnya...

Sejak hari itu, Wardah tidak pernah ketemu lagi dengan Shawqi. Hanya bertukar kabar lewat media sosialnya masing-masing setiap harinya, dikarenakan Wardah tengah sibuk dengan kuliahnya dan Shawqi juga sedang memantaskan diri, dan juga berjuang untuk kebahagiaan Wardah di masa depan nanti.

Dua tahun kemudian...

Wardah telah menyelesaikan pendidikan S1 nya kurang lebih selama empat tahun. Dan sekarang Wardah kembali ke kampung halamannya, dengan penuh kebahagiaan. Akhirnya cita-citanya telah tercapai.

Dalam keheningan malam, Wardah teringat pesan dari Shawqi yang mengatakan bahwa hari lusa Shawqi dan keluarganya akan datang ke rumahnya untuk mengkhitbah Wardah. Dan besok Wardah mulai mempersiapkan serba-serbi untuk acaranya nanti.

...

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi keluarga Shawqi maupun keluarga Wardah akhirnya datang, hari dimana anak mereka akan terikat hubungan.

“Sayang kamu udah siap?” tanya ibu Aisyah (ibu-nya Wardah).

“Udah Maa”.”

“Masyaallah, cantiknya putri mama,” ucap mama seraya tersenyum. “Sekarang kita turun ya, keluarga calonmu sudah datang,” ucap mama diangguki oleh Wardah.

Wardah dan Ibu Aisyah berjalan beriringan menuju ke ruang tengah, disana sudah ada Ayah-nya dan dua orang yang menurutnya adalah orang tua dari calonnya beserta Shawqi.

“Assalamu’alaikum Tantem, Om,” ucap Wardah mencium punggung tangan kedua orang itu, mereka pun tersenyum melihat tingkah Wardah yang sangat cantik dan sopan.

“Waalaikumussalam Wardah”, “ kalo begitu, mari mulai acaranya Shawqi”. Sambung Rifa’i, ayah dari Shawqi.

“’Bismillahirrahmaanirrahim’, Assalamu’alaikum wr.wb. Om, Tante, dan juga seluruh keluarga dari Wardah yang saya hormati. Izin berbicara, Saya Athafariz Shawqi Mannaf, putra dari Bapak Rifa’i dan Ibu Eva. Akan menjelaskan maksud dari kedatangan saya beserta keluarga saya, karena saya ingin mengkhitbah putri Om yang sangat saya cintai. Yaitu, Wardah” ucap Shawqi dengan melirik kearah Wardah.

Mendengar pernyataan dari Shawqi, Wardah terdiam dan menundukkan pandangannya. Karena tersipu malu, akhirnya seorang yang ia cintai melamarnya di depan keluarga besarnya secara langsung.

“Semua jawaban ada pada putri Om, Wardah. Boleh kamu tanyakan secara langsung kepadanya” ucap Rahmat dengan melihat ke arah anaknnya.

“Wardah Nasha Razeta,” panggil Shawqi.

“I...iya” jawab Wardah gugup dan memandang mata Shawqi sebentar.

“Bismillah, dengan menyebut nama Allah. Saya Shawqi mau mengkhitbahmu. Apa kau bersedia menerima khitbah dariku untuk menjadi pendamping hidup di dunia, maupun di akhirat kelak?” tanya Shawqi tenang dan tanpa keraguan sama sekali.

“Nak, silahkan jawab.” Ucap Lina mengelus punggung putrinya itu, sambil tersenyum hangat pada putrinya lalu menganggukan kepalanya, Wardah membalasnya dengan tersenyum tipis.

‘Bismillahirrahmaanirrahim’ ucap Wardah dalam hati.

“Kak Athafariz Shauqi Mannaf. Sa..saya Wardah Nasha Razeta, dengan menyebut nama Allah bersedia menerima khitbah anda.” Dengan memandang Shawqi sebentar lalu menunduk kembali, tak lama Shawqi pun tersenyum dan tak kuasa menahan air mata kebahagiaan setelah mendengar jawaban dari Wardah.

Kemudian, mereka saling bertukar cincin yang dipakaikan oleh orang tuanya masing-masing ke calon menantunya.

“Sekarang tante pasangkan cincinnya ya,” ucap Eva lalu memasangkan cincin di jari manis Wardah, setelah itu Eva memeluk Wardah dan Wardah pun membalas pelukan Eva.

Shawqi sangatlah berbahagia, akhirnya penantian dia untuk mengkhitbah Wardah telah dilaksanakan. Dan sekarang hanya menunggu dua minggu karena memang sebelum Wardah pulang, dia telah mempersiapkan keperluan untuk melaksanakan acara pernikahannya nanti. Shawqi akan menjadikan Wardah sebagai istrinya...

Selesai