Malam itu saya bertemu dengan teman lama saya, dia adalah salah satu dokter bedah yang sukses di kota tempat nya bekerja. Hampir seluruh pasiennya adalah peserta BPJS. Saat itu beliau cerita dengan gayanya yang kocak.  Ada salah satu pasiennya yang memerlukan tindakan operasi strumektomi (operasi kelenjar tiroid yang membesar). Begitu mengetahui bahwa penyakitnya memerlukan tindakan operasi, pasien pun segera mengurus kepesertaan bpjs. Setelah kepesertaannya aktif maka operasi dengan lancar di lakukan di rumah sakit milik pemerintah setempat.

Tentu saja pasien merasa senang, penyakitnya sudah di”ambil” tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun untuk administrasi rumah sakit. Saat visite terakhir temenku sebagai dokter penanggung jawabnya menyampaikan “mangke iuran bpjs’e dibayar rutin inggih bu” (nanti iuran bpjs nya dibayar rutin ya bu) dan jawaban ibu membuat temen saya sedikit kaget “inggih mboten pak, mpun waras kok” (ya tidak dong pak, kan sudah sembuh).

Cerita tersebut adalah gambaran nyata yang terjadi di Indonesia. Budaya membayar iuran BPJS secara rutin menjadi masalah yang sampai sekarang sulit untuk diselesaikan. Bukan karena mereka tidak mampu membayarnya tapi karena mereka memang tidak mau membayarnya. Bahkan boleh dibilang hanya membayar saat membutuhkan bila sudah selesai kebutuhannya maka I am sorry Goodbye...

Cerita berlanjut saaat teman saya seorang dosen di universitas swata terkenal di jakarta yang ngotot minta kepesertaan BPJS nya dihentikan karena tunggakan iuran selama 8 bulan yang belum diselesaikan dikenakan denda. Temanku lebih memilih asuransi oleh Allah yang insya Allah lebih barokah, asuransi dengan bersedekah dan mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa lebih dapat melindungi dia dan keluarganya daripada membayar iuran yang menurutnya memberatkan.

Saya kemudian bercerita kepada ayah dari teman saya yang berusia 78 tahun. Kebetulan saat itu saya bermalam disana. Beliau adalah mantan veteran yang dedikasinya kepada negara tak perlu diragukan lagi. Beliau menyampaikan bahwa itu memang budaya Indonesia, harusnya saya tidak perlu kaget, justru harus kaget bila masyarakat membayar iurannya secara rutin. Budaya gotong royong yang mengakar di Indonesia itu budaya gotong rotong “ngasih” bantuan berupa pasang badan seperti kerja bakti bukan “ngasih” uang.

Pernyataan itu membuat saya berpikir. Saya tidak sepenuhnya setuju, sebab ada  kejadian dimana banyak orang bergotong royong berdonasi kepada seorang ibu penjual makanan yang digrebek saat bulan puasa. Jumlah donasinya terbilang fantastis, hanya dalam hitungan hari terkumpul ratusan juta rupiah. Satu satunya penjelasan di balik fenomena itu sangat dimungkinkan oleh karena para donatur merasa tersentuh dengan cerita dan foto seorang ibu yang merana saat barang dagangannya disita.

Lalu bagaimana dengan iuran BPJS? Mengapa banyak yang tidak membayar iuran secara rutin? Mengapa banyak orang yang merasa keberatan? Mengapa hanya mau membayar saat memerlukan saja? Mengapa mereka tidak mau bergotong royong membayar iuran untuk menolong orang yang sakit?

Mungkin jawabannya karena mereka tidak tersentuh. Tidak mengerti bahwa iuran yang dibayar setiap bulan itu telah mengubah hidup jutaan orang. Menyelamatkan nyawa seorang ayah yang menjadi tulang punggung keluarga. Menyelamatkan nyawa seorang ibu malaikat penghangat keluarga. Menyelamatkan buah hati lentera keluarga. Menyelamatkan generasi penerus bangsa. Meningkatkan derajat kesehatan rakyat dan mengangkat martabat bangsa.

Saya merasa malu dan tersentuh dengan cerita masyarakat miskin di kota saya yang harus mengumpulkan sampah hingga akhirnya baru bisa mendapatkan asuransi kesehatan secara gratis hanya karena tidak ada yang perduli dengan mereka. dr Gamal pencetus asuransi sampah dan telah mendapatkan pengakuan mendapatkan pengakuan dari negara Inggris atas kontribusinya kepada komunitas adalah sebuah kebanggaan negara sekaligus tamparan hebat untuk kita semua.

Haruskah diekploitasi cerita cerita pilu betapa banyak orang yang amat membutuhkan pelayanan kesehatan yang layak? Haruskah dibuktikan dengan data betapa banyak penduduk Indonesia yang tidak mampu berobat karena masalah biaya padahal mereka bukan masuk kategori miskin?

Saya berterima kasih tidak terhingga kepada semua pembayar iuran BPJS karena atas iuran yang anda bayarkan telah menyelamatkan adik saya tanpa kami harus membayar biaya sepeser pun. Meskipun anda tidak mengenal saya tapi uang yang anda bayarkan telah menjadikan adik perempuan saya produktif kembali. Semoga Allah membalasnya dengan rejeki yang berlimpah, kesehatan yang manfaat dan kehidupan yang berbahagia.

Karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui bahwa yang anda bayarkan sejatinya adalah sedekah yang menyelamatkan banyak nyawa. Dengan bergotong royong semua tertolong.