77608_42595.jpg
google.co.id
Agama · 5 menit baca

Itu Surga atau Diskotik?

Dalam ruang psikologis manusia, keberadaan surga hadir sejak manusia mengenal apa yang disebut dengan agama. Surga adalah tempat suci dimana manusia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna setelah hari kiamat, yaitu ketika timbangan amal baiknya selama hidup di dunia lebih berat dibanding amal buruknya. Sederhananya, manusia akan masuk surga bila pahalanya lebih besar dibanding dosanya. Pemahaman semacam ini telah beredar secara umum terutama dalam tiga agama samawi yang dalam setiap kitabnya pernah membahas ihwal surga dan segala hal yang meliputinya.

Persepsi dan interpretasi tentang “kebahagiaan” yang akan didapatkan manusia di surga ini tidak pernah benar-benar seragam. Terdapat berbagai pandangan tentang jenis kebahagiaan apa yang akan terjadi dan dirasakan oleh manusia di surga nanti. Namun, ada satu macam perasangka populer tentang kebahagiaan surga yang digambarkan tidak berbeda jauh dengan kebahagiaan atau kesenangan yang sifatnya profan, bukan transendental. Sebuah interpretasi dimana surga telah diukur dengan lensa keduniaan sehingga mudah untuk dipahami dengan pembacaan tekstual, meski seringkali menimbulkan keganjilan dalam ukuran nalar yang lebih esensial.

Sebagai seorang muslim, saya tentu lebih sering mendengar kabar tentang surga melalui pengajian atau khutbah sholat Jumat yang disampaikan oleh para pendakwah—tentu tidak semua dan tidak selalu—bahwa sebaik-baiknya tempat kembali adalah surga yang didalamnya telah menjanjikan berbagai ketidakmungkinan—di kehidupan dunia—menjadi mungkin untuk didapatkan dan dinikmati manusia. Hal atau aktivitas yang bernilai haram selama kehidupan di dunia, akan menjadi sesuatu hal yang halal ketika manusia berada di surga.

Hal pertama yang seringkali didakwahkan dalam sebuah majelis adalah tentang bidadari surga. Saya dan mungkin semua orang Islam pasti pernah mendengar tentang kabar bidadari surga yang jumlahnya tidak terlalu pasti itu. Ada yang mengatakan 72, 72.000, dan yang terbaru saya baca dari salah satu tweet ulama populis di Indonesia, jumlahnya sebanyak 12.000 bidadari yang akan menemani kaum lelaki di surga nanti. 

Bila semua ini adalah tentang perdagangan, maka bidadari ini menjadi komoditas bernilai jual tinggi agar semua orang mau memenuhi dan mematuhi segala bentuk persyaratan guna mendapatkan salah satu pelayanan terbaik di surga tersebut. Ini adalah marketing yang sangat spektakuler dalam menjaring “investor” yang besar dan berkelanjutan.

Namun dibalik pemasaran surga secara besar-besaran itu, ada hal yang selalu mengganjal dan tidak selesai. Bagaimana dengan nasib kaum perempuan? Bagaimana peran mereka kelak di surga ketika telah dihadirkannya ribuan bidadari yang siap menemani dan melayani para laki-laki? Mengapa tidak disediakan juga ribuan bidadara agar semua ini adil dan terlepas dari masalah bias gender? Ini yang kemudian tidak selesai dalam perdebatan bahkan dalam ruang tekstualnya.

Seakan-akan, superioritas laki-laki masih saja harus menang dan digdaya bahkan ketika telah sampai pada dimensi akhirat. Perempuan haruslah tetap menjadi makhluk inferior meski telah masuk kawasan elit ketuhanan. Bila seperti itu, akankah surga masih penuh dengan perselingkuhan, demonstrasi perempuan yang tidak terpenuhi haknya, bahkan terjadi lagi revolusi untuk menghapuskan perbudakan atas ribuan bidadari yang hanya diciptakan untuk tunduk dan memenuhi segala keinginan para penghuni surga? Saya kira surga semacam ini perlu diinterpretasi ulang secara radikal dan fundamental.

Hal kedua yang juga seringkali disampaikan kepada umat beragama agar senantiasa beramal shalih demi mendapatkan ganjaran yang setimpal di akhirat adalah tentang halalnya khamar yang notabene diharamkan secara keras oleh agama dalam kehidupan di dunia. Sejauh ini, saya belum menemukan arti leksikal lain dari khamar selain minuman keras atau hal yang memabukkan. Artinya, Tuhan akan membolehkan bahkan akan menyediakan minuman keras untuk semua penghuni surga tanpa kecuali.

Bila pun ada yang berpendapat bahwa manusia di surga tidak akan bisa mabuk sehingga tidak berbahaya meminum khamar, lalu apa yang akan menjadi distingsi tentang janji kenikmatan dan kebebasan mengkonsumsi khamar tersebut? BIla manusia tidak akan mabuk, maka untuk apa disediakan khamar itu sendiri yang menurut sifat zatnya saja adalah memabukkan? 

Promosi khamar yang halal ini menjadi sangat berbahaya ketika dijadikan konten tabligh kepada kaum awam yang bisa saja terobsesi ingin masuk surga demi kenikmatan khamar yang tidak akan pernah habis itu.

Dalam dunia tasawuf yang seringkali distigmakan sesat oleh sebagian dan sementara kaum fundamentalis, terdapat tiga tipologi ibadah seorang hamba Tuhan. Yang pertama adalah ibadahnya para budak. Yaitu ibadah yang dilakukan karena ketakutan atas cacian, takut atas cambukkan dan siksaan, serta segala amarah sang Tuan bila sang budak tidak mau menuruti keinginannya.

Ibadah yang kedua adalah ibadah para pedagang, yaitu ibadah hamba-hamba yang sangat hitungan. Mereka mau sholat, puasa, haji, dan lain sebagainya dengan ambisi surga dan segala kenikmatannya. Mereka ibadah karena ada maunya. 

Yang ketiga adalah ibadahnya orang-orang yang tersentuh cahaya ketuhanan. Atau mereka yang seringkali dikategorikan sebagai hamba yang telah mengalami emanasi atau penyatuan dengan Tuhan. Sehingga mereka beribadah karena ketulusan yang telah menjadi keterikatan antara insan dan penciptanya.

Jelas, promosi ribuan bidadari dan khamar ini menjadi imbalan atau tujuan dari ibadah yang masuk ke dalam tipe yang kedua, yaitu ibadah para pedagang. Sesungguhnya tidak ada yang salah dari ketiga jenis ibadah di atas, namun tentu memiliki nilai atau level kemuliaan yang berbeda. Apapun motif seorang hamba beribadah, semua kenaif-jumudannya akan sirna oleh welas asih Tuhan yang selalu lebih besar dibanding murkanya—termasuk terobsesi dengan surga semacam tempat hiburan malam itu.

Namun, meskipun melakukan ibadah dalam kategori kedua, tidak lantas mengimani surga dengan gambaran dan iming-iming serendah itu. Saya membayangkan bila gambaran surga semacam itu disuguhkan dalam bentuk narasi kepada kelompok ateis, besar kemungkinan mereka akan sulit membedakan antara surga dan diskotik yang ada di dunia ini. 

Mengapa para ahli tafsir tidak mempopulerkan interpretasi yang lebih esensial dengan gambaran penyatuan (kemanunggalan) semua makhluk dengan Tuhan. Gambaran tentang surga dimana manusia yang tidak lagi diberi hawa nafsu seperti ketika Adam dan Hawa bahagia dan minus dosa meski tanpa sehelai busana sebelum kemudian diturunkan ke dunia. Mengapa kebahagiaan tidak digambarkan dengan sebuah kredo yang lebih hakiki demi keimanan yang lebih berkualitas?

Tulisan ini sedikitpun tidak bermaksud melakukan sebuah cemoohan atas keyakinan orang-orang beragama terhadap surga yang sangat sakral. Namun saya hanya ingin mendapatkan syiar nilai Islam yang lebih mulia dan berkualitas sehingga akan mempengaruhi aktivitas sosial dan bangunan keimanan yang lebih esensial dibanding dengan membangun sebuah perdagangan pahala demi sebuah obsesi keduniaan yang dikonversi ke dalam diskursus transendental yang terasa shalih meski telah membuang ketulusan dalam penghambaan diri terhadap Tuhan.

Pernahkah dalam benak kita terlintas, seandainya manusia yang masuk surga bisa melakukan apa saja, maka apa nilai dari sebuah kehidupan dunia selain hanya “menahan” yang dilarang untuk kemudian menunggu waktunya boleh dilakukan. 

Maka ukuran benar-salah dunia hanyalah sebuah omong kosong yang ditunda. Keharaman yang akan dihalalkan, kejahatan yang menjadi kebaikan. Sesempit itukah kita membayangkan keagungan janji dari Tuhan?

Atau, apakah kita semua benar-benar harus merasa rugi dengan semua amal baik yang kita lakukan di dunia, bilapun ternyata kelak surga semacam itu tidak pernah ada dan kita tidak akan pernah berada disana?